Hari Ini dalam Sejarah 6 Oktober: Perang Yom Kippur Dimulai, Suriah dan Mesir Menyerbu Israel

Dalam Perang Yom Kippur, Suriah dan Mesir memiliki tujuan diplomatik, yakni meyakinkan Israel.


zoom-inlihat foto
tank-israel-berada-di-sinai-pada-perang-yom-kippur.jpg
Wikimedia Commons
Tank Israel berada di Sinai pada Perang Yom Kippur

Dalam Perang Yom Kippur, Suriah dan Mesir memiliki tujuan diplomatik, yakni meyakinkan Israel.




  • Informasi awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perang Yom Kippur, yang juga disebut Perang Oktober, Perang Ramadan, atau Perang Arab Israel Keempat, meletus pada 6 Oktober 1973.

Perang ini dimulai dengan serangan Suriah dan Mesir ke Israel pada hari raya Yahudi Yom Kippur, atau masih dalam bulan Ramadan umat Islam.

Berakhir pada 26 Oktober 1973, Perang Yom Kippur turut melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet meskipun tidak secara langsung.

Dalam Perang Yom Kippur, Suriah dan Mesir memiliki tujuan diplomatik, yakni meyakinkan Israel agar bersedia bernegosiasi dengan syarat yang lebih menguntungkan negara-negara Arab.[1]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 6 Oktober 2010: Instagram Diluncurkan, Bagaimana Kisah Pendiriannya?

Tank Israel Suez rusak di Suez
Tank Israel Suez rusak di Suez (Wikimedia Commons)

  • Latar belakang


Kemenangan Israel pada Perang Enam Hari tahun 1967 membuat negara Yahudi itu mengontrol wilayah yang besarnya empat kali lipat daripada yang sebelumnya.

Mesir kehilangan wilayah seluas 23.000 mil persegi di Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza.

Sementara itu, Yordania kehilangan Tepi Barat dan Yerusalem Timur, sedangkan Suriah kehilangan Dataran Tinggi Golan.

Ketika Anwar Sadat (1918-1981) menjadi Presiden Mesir pada tahun 1970, dia mendapati dirinya menjadi pemimpin sebuah negara yang bermasalah secara ekonomi.

Mesir juga dianggapnya tidak akan mampu melanjutkan peperangan tanpa akhir melawan Israel.

Dia ingin berdamai sehingga Mesir dapat menstabilkan dan memulihkan Sinai.

Namun, setelah kemenangan Israel pada tahun 1967, negara Yahudi itu tidak akan mau berdamai dengan syarat yang menguntungkan Mesir.

Oleh karena itu, Sadat berencana menyerang Israel sekali lagi. Bahkan, jika tidak menuai kesuksesan, serangan itu akan meyakinkan Israel bahwa perdamaian dengan Mesir diperlukan.

Dari kiri ke kanan, Presiden Mesir Anwar Sadat, Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin dalam peristiwa bersejarah penandatanganan Perjanjian Camp David pada 17 September 1978.
Dari kiri ke kanan, Presiden Mesir Anwar Sadat, Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin dalam peristiwa bersejarah penandatanganan Perjanjian Camp David pada 17 September 1978. (globaltab.net)

Pada tahun 1972 Sadar menyingkirkan para penasihan Soviet dari Mesir.

Sebagai gantinya, dia membuka kanal dipomatik dengan Washington yang merupakan sekutu Israel.

Menurutnya, Washington akan menjadi mediator penting dalam pembicaraan perdamaian di masa depan.

Dia membentuk aliansi baru dengan Suriah, dan rencana penyerangan ke Israel dibuat.[2]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 5 Oktober 1880: Alonzo T. Cross Mematenkan Pulpen, Bagaimana Kisahnya?

  • Perang meletus


Perang dimulai dengan serangan Suriah dan Mesir secara tiba-tiba ke Israel pada hari raya Yahudi Yom Kippur, 6 Oktober 1973.

Kedua negara itu memanfaatkan penjagaan Israel yang berkurang pada hari raya.

Jumlah pasukan gabungan Mesir dan Suriah setara dengan jumlah tentara NATO di Eropa Barat.

Di Dataran Tinggi Golan, 150 tank Israel harus menghadapi 1.400 tank Suriah.

Sementara 500 tentara Israel di Suez menghadapi 80.000 tentara Mesir.

Negara-negara Arab lainnya turut membantu Mesir dan Suriah. Irak mengirim skuadron jet tempur beberapa bulan sebelum perang meletus.

Arab Saudi dan Kuwait memberikan bantuan finansial kepada kedua negara itu.

Negara-negara Arab lain bahkan mengerahkan sejumlah tentaranya untuk membantu Mesir dan Suriah.

Sudan, Yordania, Maroko, dan Tunisia turut terlibat di sisi Arab.

Ketika diserang, pasukan Israel awalnya terlihat kewalahan. Namun, pada 8 Oktober pasukan Israel melakukan serangan balasan.

Mereka memukul mundur militer Israel dan melewati Terusan Suez di selatan Ismailia.

Dari sini, Israel menggunakan jalur Suez-Kairo untuk bergerak maju ke arah Kairo.

Israel juga menuai kesuksesan di Dataran Tinggi Golan karena berhasil memukul mundur pasukan Suriah.

Dengan menggunakan jalur utama dari Tiberias ke Damaskus, Israel bisa bergerak sampai sejauh 35 mil dari Damaskus.[3]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 5 Oktober: Angin Topan Mengamuk di India, Tewaskan 60.000 Orang

  • Berakhir


Dalam melawan koalisi Arab, Israel mendapat bantuan senjata dari AS.

Perang berakhir pada 25 Oktober setelah ada gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB.

Israel memenangkan Perang Yom Kippur meski ada banyak korban berjatuhan.

Rakyat Israel mengkritik kurangnya persiapan yang dilakukan pemerintah mereka.

Pada April 1974 Perdana Menteri Golda Meir meletakkan jabatannya.

Meski Mesir mengalami kekalahan, kesuksesan Mesir pada awal peperangan menaikkan pamor Sadat di Timur Tengah.

Dalam perjanjian tahun 1974 Israel mengembalikan sebagaian wilayah Sinai ke Mesir.

Bagian terakhir Sinai dikembalikan Israel pada tahun 1982 setelah ada perjanjian perjanjian perdamaian pada tahun 1979.

Namun, bagi Suriah, Perang Yom Kippur adalah bencana karena Israel justru mendapat lebih banyak wilayah di Golan.[4]

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 3 Oktober: Inggris Mengetes Bom Atom di Australia, Diledakkan di dalam Kapal

(Tribunnewswiki/Tyo)



Peristiwa Perang Yom Kippur
Pada 6 Oktober 1973
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved