Virus Corona Terus Bermutasi dan Diduga Semakin Mudah Menular, Vaksin Mungkin Harus Disesuaikan

Namun, tidak ditemukan mutasi yang membuat virus corona menjadi semakin mematikan atau berubah efeknya.


zoom-inlihat foto
seorang-perempuan-vaksin.jpg
CHANDAN KHANNA / AFP
Seorang perempuan menerima vaksin eksperimental Covid-19 dari Yaquelin De La Cruz di Research Centers of America (RCA), Hollywood, Florida, Amerika Serikat, pada 13 Agustus 2020.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Virus corona baru (SARS-Cov-2) terus bermutasi dan pakar percaya virus penyebab Covid-19 itu menjadi semakin mudah menular, menurut hasil riset terbaru.

Peneliti di Amerika Serikat (AS) menganalisis 5.000 urutan genetik virus corona, yang terus bermutasi karena telah menyebar luas di masyarakat.

Namun, penelitian itu tidak menemukan adanya mutasi yang membuat virus corona menjadi semakin mematikan atau berubah efeknya.

Dilansir dari The Guardian, (25/9/2020), para pakar kesehatan mengakui semua virus bermutasi, tetapi mayoritas mutasinya tidak signifikan.

David Morens, ahli virus di Institut Nasional Penyakit Menular dan Alergi, mengatakan penelitian itu seharusnya tidak ditafsirkan secara berlebihan.

Namun, dia mengatakan virus corona mungkin merespons intervensi kesehatan masyarakat, misalnya pembatasan sosial.

Baca: GeNose Buatan UGM Bisa Mendeteksi Covid-19 dalam Waktu Kurang dari 2 Menit

Ilustrasi virus corona (CDC)
Ilustrasi virus corona (CDC) (CDC)

"Semua hal itu menghalangi transmisi atau penularan, tetapi karena menjadi semakin menular, virus itu secara statistik menjadi lebih baik dalam mengatasi hambatan tersebut," kata dia.

Artinya, virus ini, kata Morens, bisa terus bermutasi bahkan setelah vaksin tersedia.

Oleh karena itu, vaksin mungkin harus diotak-atik atau disesuaikan, seperti vaksin flu yang diubah tiap tahun.

Dugaan adanya mutasi yang membuat virus corona menjadi lebih menular dikaitkan dengan kenaikan kasus Covid-19 di AS.

Ada 21 negara bagian yang mencatat adanya kenaikan kasus harian di atas 5 persen dalam dua pekan terakhir, menurut data dari Universitas John Hopkins.

Baca: Lembaga Biologi Temukan Mutasi Virus Corona Baru di Indonesia, Disebut Lebih Ganas dan Menular

Heather Lieberman (kiri) menerima vaksinasi Covid-19 dari Yaquelin De La Cruz di Research Centers of America di Hollywood, Florida, Amerika Serikat, pada 13 Agustus 2020.
Heather Lieberman (kiri) menerima vaksinasi Covid-19 dari Yaquelin De La Cruz di Research Centers of America di Hollywood, Florida, Amerika Serikat, pada 13 Agustus 2020. (CHANDAN KHANNA / AFP)

Pada Rabu, (23/9/2020), ada 38.204 kasus baru di AS dan membuat total kasus menjadi nyaris 6.9 juta,

Jumlah kematian di Negara Paman Sam itu juga menembus angka 200.000 pada Selasa, (22/9/2020).

Mutasi D614G Virus Corona Terdeteksi di Indonesia

Mutasi D614G virus corona ditemukan di beberapa tempat di Indonesia.

Mutasi ini disebut telah membuat virus corona menjadi lebih menular 10 kali lipat.

Namun, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang P.S. Brodjonegoro mengatakan masyarakat tidak perlu panik berlebihan.

Meski demikian, kata Bambang, masyarakat harus tetap waspada.

Selain itu, masyarakat juga harus disiplin menjalankan protokol kesehatan agar bisa mencegah penularan.

"Masyarakat tidak perlu panik berlebihan terhadap mutasi D614G. Namun, harus tetap waspada penuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19," ujar Bambang, Kamis (3/9/2020), dikutip dari Kompas.com.

Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona (Pixabay/Tumisu)

Bambang mengatakan mutasi pada Virus Corona tipe SARS-CoV-2 ini tidak akan mengganggu upaya pengembangan vaksin yang tengah dilakukan.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio membenarkan hal tersebut.

Amin menyatakan mutasi virus ini tidak mengubah struktur maupun fungsi dari receptor-binding domain (RBD) atau domain pengikat reseptor yang bertugas menjangkiti bagian protein manusia.

Kemudian, jika nantinya ada vaksin Covid-19, Amin menyebut kinerja vaksin tidak akan terganggu selama vaksin ditujukan ke RBD yang merupakan bagian dari virus spike yang dijadikan target vaksin.

“Meskipun perubahan terjadi pada spike protein, namun pada lokasi yang berbeda sehingga RBD tidak terganggu," ucap Amin.

Ia juga mengatakan Indonesia telah mengirim 24 sampel virus genom dari virus corona kepada Bank Data Influenza Dunia (GISAID).

Dari 24 sampel virus genom tersebut, sembilan di antaranya mengandung mutasi D614G.

"Rinciannya dua dari Surabaya, tiga dari Yogyakarta, dua dari Tangerang dan Jakarta, dan dua dari Bandung," kata dia.

Para ahli telah mengungkap varian baru virus corona yang disebut D614G ditemukan di Indonesia sejak Maret 2020.

"Mutasi D614G sudah ada sejak awal virus (corona) itu di Indonesia, sejak Maret 2020. Perkiraan saya, sekarang lebih banyak lagi," kata Prof. Chairul Anwar Nidom yang merupakan ketua tim riset kepada Kompas.com, Sabtu (29/8/2020). 

(Tribunnewswiki/Tyo)





Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Malam 3 Yasinan

    Malam 3 Yasinan adalah sebuah film horor Indonesia
  • Film - Pokun Roxy (2013)

    Pokun Roxy adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved