TRIBUNNEWSWIKI.COM - Indonesia kini tengah di ambang pintu resesi.
Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai terkait risiko resesi.
Satu di antaranya, potensi peningkatan pengangguran meningkat karena resesi.
Sebab, resesi berarti kinerja perekonomian di zona negatif lantaran permintaan barang dan jasa yang cenderung rendah.
"Akhirnya banyak pabrik yang harus mengurangi proses produksinya. Di sisi lain kebutuhan untuk beban produksi seperti listrik, atau gaji pegawai mesti tetap jalan," ujar Yusuf, seperti diberitakan TribunMataram.com, Rabu (23/9/2020).
Kedua hal tersebut membuat perusahaan harus melakukan efisiensi, yang salah satu caranya dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di sisi lain, pekerja yang di PHK tak lagi memiliki pendapatan.
Dan bila sumber pendapatan kian berkurang, maka jumlah penduduk miskin bakal bertambah.
Baca: Video Viral Kerumunan Karyawan Di-PHK Massal, Padati Seluruh Halaman Kantor Perusahaan
"Apalagi jumlah penduduk rentan dan hampir miskin di Indonesia ini sangat besar, guncangan ekonomi seperti resesi akan membawa mereka turun kelas menjadi penduduk miskin," jelas dia.
Yang terkini, berdasarkan laporan bertajuk Aspiring Indonesia, Expanding the Middle Class oleh Bank Dunia dijelaskan, sebanyak 45 persen atau mencapai 115 juta populasi penduduk Indonesia masuk kategori rentan atau terancam bisa kembali masuk kategori miskin.
Setali tiga uang dengan Yusuf, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan resesi menandakan adanya tekanan yang dalam baik di ekonomi, sektor keuangan, maupun sektor riil.
Gelombang PHK menurutnya bakal terjadi di hampir seluruh sektor, baik perdagangan, transportasi, properti, sampai ke industri akan lakukan efisiensi pekerja untuk tekan biaya operasional.
"Jadi estimasinya ada 15 juta PHK sampai akhir tahun," ujar dia.
Menurut dia, perusahaan yang cukup rentan dalam kondisi perekonomian saat ini adalah perusahaan rintisan atau startup.
"Tak terkecuali banyak startup akan berguguran. Daya beli masyarakat menurun karena kehilangan pendapatan sehingga berpengaruh ke naiknya orang miskin baru. Pastinya angka kriminalitas juga meningkat dan rawan konflik sosial di masyarakat," ujar dia.
Berikut ini 4 tips yang bisa Anda lakukan untuk bersiap dalam menghadapi ancaman resesi.
1. Berhemat
Baca: Indonesia Diambang Resesi, Menkeu Sri Mulyani Proyeksi Ekonomi Kuartal III Minus 2,9 Persen
Hemat bukan berarti pelit.
Hemat keuangan di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang belum tahu pasti kapan berakhir sangat penting untuk menghadapi kondisi perekonomian yang bisa jadi lebih seret dari saat ini.
Oleh sebab itu, beberapa pos keuangan yang tidak penting-penting amat perlu ditunda terlebih dahulu dan fokus pada kebutuhan-kebutuhan pokok.
Memenuhi kebutuhan pokok secara mandiri juga penting, misalnya untuk kebutuhan makan sehari-hari bisa dimasak sendiri.
“Dengan begitu, yang namanya pesan makanan lewat aplikasi online juga wajib dikurangi sedikit demi sedikit biar tidak menguras uang. Kunci penghematan adalah mengendalikan keinginan dan mengutamakan kebutuhan,” jelas Paramita.
2. Persiapkan Dana Darurat
Baca: Jika Indonesia Alami Resesi Ekonomi, Apa Dampak yang Akan Terjadi pada Masyarakat?
Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Ada banyak peristiwa tak terduga di masa depan yang tak seorang pun mampu melihat dan menghindarinya secara pasti, seperti sakit, kecelakaan, PHK, kematian, kebanjiran, dan peristiwa lain yang sifatnya mendadak.
Dihadapkan pada ketidpastian perekonomian karena pergerakan ekonomi nasional yang lesu, menyiapkan dana darurat itu sangat penting.
Dana darurat yang sebaiknya likuid ini penting untuk mengantisipasi pengeluaran yang tak terduga tersebut.
“Rumus ideal dana darurat adalah jumlah pengeluaran bulanan dikalikan jumlah bulan yang diantisipasi yang biasanya minimal 6 bulan,” jelas dia.
3. Membeli Produk Lokal dan UMKM
Baca: Kim Jong Un Eksekusi Mati 5 Pejabat Korea Utara, Dianggap Berani Kritik Kebijakan Ekonomi
Salah satu langkah untuk menopang pertumbuhan ekonomi di saat terancam resesi adalah membeli produk lokal dan UMKM.
Sektor ini sangat mendasar karena sudah menyentuh level paling bawah dalam perekonomian dan akan berdampak langsung pada masyarakat.
Dengan begitu, meski aktivitas perdagangan dan industri skala besar menurun, tetapi ekonomi di level bawah masih ada pergerakan.
Membeli produk lokal dan UMKM secara tidak langsung menopang keberlanjutan kehidupan masyarakat, sehingga berpotensi menumbuhkan ekonomi nasional.
4. Berinvestasi
Seorang investor sejati selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Kondisi resesi yang mendatangkan kecemasan bagi para investor, tetapi di sisi lain bisa mendatangkan peluang besar bagi investor untuk mendulang keuntungan.
Salah satu investasi yang tetap menarik di hadapan kondisi resesi adalah investasi di pasar modal mulai dari reksa dana dan saham.
Diversifikasi investasi di pasar modal bisa dimulai dengan reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap dengan risiko yang tidak terlalu besar.
Adapun khusus untuk saham tentu penting bagi investor dengan lebih memperhatikan saham-saham bluechip.
Sebagai salah satu acuan, investor dapat melirik Indeks IDXQ30 yang baru diluncurkan oleh IDX pada awal Agustus lalu, di mana konstituen Indeks tersebut adalah 30 saham yang secara historis relatif memiliki profitabilitas tinggi, solvabilitas baik, dan pertumbuhan laba stabil dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Siap-siap Resesi, Lakukan 4 Hal Ini Agar Kondisi Finansial Aman" dan Tribun Mataram: Menkeu Sri Mulyani Beri Sinyal Resesi Ekonomi di Indonesia, Pengangguran & Kemiskinan Akan Meningkat
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur) (Kompas.com/Kiki Safitri)