Perjalanan Hidup Jakob Oetama, Awali Karier Sebagai Guru hingga Dirikan Kompas Gramedia Grup

Memutuskan tak melanjutkan cita-cita awalnya sebagai pastor, Jakob Oetama memilih mengawali karirnya sebagai guru


zoom-inlihat foto
pemimpin-umum-kompas-jakob-oetama-1.jpg
RADITYA HELABUMI
Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama, menyampaikan pidato sambutan dalam Syukuran Kompas Gramedia 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (1/2/2012). Syukuran Kompas Gramedia dimeriahkan penampilan reuni Srimulat dengan beberapa personil Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Nunung, Polo, Kadir, Tessy, Gogon, dan Jujuk.(RADITYA HELABUMI)


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hari ini, Rabu 9 September 2020 keluarga besar Kompas Gramedia tengah berduka atas meninggalnya Jakob Oetama.

Jakob Oetama yang yang merupakan pendiri Kompas Gramedia menghembuskan nafas terakhirnya di usia 88 tahun.

Perjalanan hidup Jakob Oetama dalam membesarkan Kompas Gramedia yang didirikannya, juga warna kehidupannya sebagai seorang pendidik, seorang wartawan, dan juga seorang pengusaha.

Meski demikian, Jakob Oetama dikenal lebih senang dan bangga disebut wartawan, ketimbang pengusaha.

Berikut perjalanan hidup Jakob Oetama dilansir dari Kompas.com.

Baca: Sebelum Tutup Usia, Kondisi Jakob Oetama Sempat Kritis Sejak Minggu Sore

Jakob Oetama, 15 Mei 1994.
Jakob Oetama, 15 Mei 1994. (KOMPAS/ JB SURATNO)

Bagi seorang Jakob Oetama, hidup tidak hanya dimaknai sebagai serangkaian kebetulan.

Iman menjadikan Jakob percaya bahwa hidup adalah skenario penyelenggaraan Allah, providentia Dei.

Berbagai peristiwa yang terjadi itulah yang membentuk karakter sederhana dan kerendahan hati seorang Jakob Oetama dalam menjalani berbagai peran kehidupan.

Dikutip dari buku Syukur Tiada Akhir, Lahir dengan nama asli Jakobus Oetama, pada 27 September 1931, Jakob adalah putra pertama dari 13 bersaudara pasangan Raymundus Josef Sandiya Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah.

Ayahnya merupakan seorang guru Sekolah Rakyat yang selalu berpindah tugas.

Profesi ayahnya pula yang menjadi pilihan Jakob setelah memutuskan untuk tak melanjutkan cita-cita awalnya, menjadi pastor.

Usai lulus seminari menengah, sekolah calon pastor setingkat SMA, Jakob memang sempat melanjutkan ke seminari tinggi.

Namun, dia menjalani pendidikan di seminari tinggi hanya sekitar tiga bulan.

Baca: Jakob Oetama Meninggal Dunia, Kantor Kompas Gramedia Palmerah Akan Jadi Tempat Penghormatan Terakhir

Setelah itu, Jakob pergi ke Jakarta untuk menjadi guru seperti ayahnya.

Kepergian Jakob ke Jakarta dilakukan atas bimbingan ayahnya.

Jakob diminta untuk menemui kerabat ayahnya yang bernama Yohanes Yosep Supatmo pada 1952.

Supatmo bukan guru, tapi baru saja mendirikan Yayasan Pendidikan Budaya yang mengelola sekolah-sekolah budaya.

Jakob mendapat pekerjaan, tapi bukan di sekolah yang dikelola Supatmo.

Dia mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat pada 1952 hingga 1953.

Kemudian, Jakob pindah ke Sekolah Guru Bagian B di Lenteng Agung, Jakarta pada 1953-1954.

Lalu, dia pindah lagi ke SMP Van Lith di Gunung Sahari pada 1954-1956.

Sambil mengajar SMP, Jakob melanjutkan pendidikan tingkat tinggi.

[ARSIP] Pemimpin Umum Harian Kompas, Jacob Oetama hadir pada perayaan syukuran dan peluncuran buku HUT Ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (28/6/2015). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).
[ARSIP] Pemimpin Umum Harian Kompas, Jacob Oetama hadir pada perayaan syukuran dan peluncuran buku HUT Ke-50 Harian Kompas di Bentara Budaya Jakarta, Minggu (28/6/2015). Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020). (KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO)

Dia memilih kuliah B-1 Ilmu Sejarah, lalu melanjutkan ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga lulus pada 1961.

Belajar sejarah menumbuhkan minat Jakob untuk menulis.

Persentuhannya dengan jurnalistik terjadi ketika dia mendapat pekerjaan sebagai sekretaris redaksi mingguan Penabur.

Providentia Dei. Perjalanan hidup sebelumnya membentuk Jakob menjadi wartawan yang lebih peka dengan bermacam permasalahan kemanusiaan.

"Saya sangat terbantu dan diperkaya oleh kepekaan humaniora yang terpupuk dan terkembang berkat pendidikan di seminari menengah," kata Jakob, dikutip dari buku Syukur Tiada Akhir.

Langkah Jakob semakin mantap di bidang jurnalistik.

Hingga kemudian dia bertemu PK Ojong.

Pertemuan dengan Ojong menjadi salah satu momentum penting, hingga keduanya melahirkan majalah Intisari, Harian Kompas, juga grup Kompas Gramedia.

Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020).
Pendiri Kompas Gramedia, Jakob Oetama (88) meninggal dunia di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, Rabu (9/9/2020). (Kompas.com/Andrew Lotulung)

Kabar Meninggal Dunia

Berita duka cita, pendiri Kompas Gramedia grup berpulang, Rabu (9/9/2020).

Dr (H.C) Jakob Oetama lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931.

Jakob Oetama meninggal dalam usia 88 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran, Jakarta Pusat..

Laporan Kompas TV di lapangan, jenazah akan disemayamkan di Gedung Kompas, Palmerah Selatan, Jakarta. Selanjutnya jenazah akan dimakamkan di TMP Kalibata.

Jakob Oetama diketahui lahir di Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 27 September 1931. Ia merupakan putra pertama dari 13 bersaudara.

Ayahnya bernama Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo seorang pensiunan guru Sekolah Rakyat di Sleman, Yogyakarta, sementara ibunya bernama Margaretha Kartonah.

Saat ini Jakob Oetama dikenal sebagai salah satu pendiri Kompas Gramedia Group bersama dengan Petrus Kanisius (PK) Ojong.

Saat ini ia merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia, Pembina Pengurus Pusat Persatuan Wartawan Indonesia, dan Penasihat Konfederasi Wartawan ASEAN.

Dia adalah penerima Doktor Honoris Causa di bidang komunikasi dari Universitas Gajah Mada dan penerima penghargaan Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973.

Melansir Wikipedia, Jacob adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta.

Baca: Maksud dan Ciri-ciri Puisi, Kunci Jawaban Belajar dari Rumah TVRI SD Kelas 4-6, Kamis (10/9/2020)

Baca: Segera Tinggalkan Kebiasaan Menjemur Pakaian di Dalam Ruangan, Dampak Buruk Ini Bisa Terjadi

Karier jurnalistik Jakob dimulai ketika menjadi redaktur Mingguan Penabur tahun 1956 dan berlanjut dengan mendirikan majalah Intisari tahun 1963 bersama P.K. Ojong, yang mungkin diilhami majalah Reader's Digest dari Amerika.

Dua tahun kemudian, 28 Juni 1965, bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas yang dikelolanya hingga kini.

Tahun 80-an Kompas Gramedia Group mulai berkembang pesat, terutama dalam bidang komunikasi.

Saat ini, Kompas Gramedia Group memiliki beberapa anak perusahaan/bisnis unit yang bervariatif dari media massa, toko buku, percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, event organizer, stasiun TV hingga universitas.

Selain itu, bersama dengan Jusuf Wanandi, Muhammad Chudori, Eric Samola, Fikri Jufri, Goenawan Mohamad, H. G. Rorimpandey dan Harmoko, Jakob Oetama juga ikut mendirikan The Jakarta Post, harian nasional Indonesia berbahasa Inggris. (Tribunnewswiki.com/Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Jakob Oetama, Bermula sebagai Seorang Guru".





Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved