Pendaki Gunung Didorong Terapkan Protokol Kesehatan Berbasis CHSE

Kementerian Pariwisata mendorong para pelaku wisata dan penggemar pendakian gunung menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE


zoom-inlihat foto
simulasi-penerapan-protokol-kesehatan-berbasis-chse.jpg
Istimewa
Kemenparekraf menggelar Simulasi Penerapan Protokol Kesehatan berbasis CHSE di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendorong para pelaku wisata dan penggemar pendakian gunung menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental Sustainability).

Hal tersebut disosialisasikan dalam Simulasi Penerapan Protokol Kesehatan berbasis CHSE di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat, Sabtu (15/8/2020) hingga Senin (17/8/2020).

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani mengatakan, protokol kesehatan berbasis CHSE berperan penting untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata, terutama di bidang aktivitas wisata minat khusus.

Baca: N250 Gatot Kaca

Simulasi Penerapan Protokol Kesehatan
Kemenparekraf menggelar Simulasi Penerapan Protokol Kesehatan berbasis CHSE di Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat.

“Protokol kesehatan berbasis CHSE berperan penting untuk meningkatkan kepercayaan wisatawan di masa adaptasi kebiasaan baru. Dengan meningkatnya kepercayaan wisatawan, maka sektor pariwisata bidang aktivitas minat khusus bisa bangkit kembali,” kata Rizki.

Selain mengadakan simulasi penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE, pada Senin (17/8/2020), Kemenparekraf/Baparekraf juga memberikan bantuan berupa sepatu pendakian, jas hujan, tas ransel, serta topi rimba kepada 380 anggota Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).

APGI merupakan komunitas pendakian dari perguruan tinggi dan masyarakat sekitar destinasi pendakian gunung di seluruh Indonesia.

Rizki mengungkapkan bantuan ini merupakan bentuk komitmen Kemenparekraf/Baparekraf untuk membantu sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sekaligus memberdayakan pelaku UMKM.

Produk dan barang yang disumbangkan tersebut merupakan produk buatan dalam negeri dari berbagai daerah.

Menurut Rizki, membeli produk dalam negeri dapat meningkatkan produsen lokal.

Baca: Gelombang Pertama BLT Rp 600 Ribu Disalurkan ke 7,5 Juta Karyawan, Cek Nama dengan Login di Sini

Menggunakan produk lokal juga mendongkrak perekonomian daerah, menghindari ancaman resesi, dan memupuk kepercayaan dan rasa bangga dengan produk buatan Indonesia sesuai tujuan program Bangga Buatan Indonesia (BBI).

“Bantuan ini kami berikan untuk membangkitkan semangat yang lebih besar bagi pekerja pariwisata terdampak pandemi Covid-19 agar dapat kembali membangun pariwisata Indonesia di masa adaptasi kebiasaan baru, sekaligus bertepatan dengan momen HUT ke-75 Republik Indonesia yang bertajuk Indonesia Maju,” ujar Rizki.











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved