TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno, memiliki sejumlah mobil dinas kepresidenan.
Beberapa mobil dinas tersebut mempunyai fakta-fakta menarik.
Mobil dinas Presiden Soekarno yang pertama, yakni Buick 8 Limited Edition, adalah hasil rampasan dari Jepang.
Ada juga mobil dinas hasil pemberian negara Lain
Salah satu negara yang memberikan mobil kepresidenan buat Indonesia adalah Uni Soviet.
Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev pernah memberikan mobil lansiran Zavod Imeni Likhacheva (ZIL) keluaran tahun 1958 buatan Uni Soviet kepada Soekarno.
Tak hanya dari Uni Soviet, Raja Arab Saudi juga pernah memberikan sebuah Chrysler Crown Imperial saat Soekarno melaksanakan ibadah haji.
Ada 13 Mobil Kepresidenan selama Soekarno jadi Presiden
Selama menjabat sebagai presiden Republik Indonesia dari tahun 1945 hingga 1967 tak kurang dari 13 unit mobil dinas presiden dimiliki oleh Republik Indonesia.
Mobil yang dipakai oleh Soekarno mulai dari Buick 8 hingga yang terakhir adalah Mercedes-Benz 600 keluaran 1960-an.
Meski saat ini sudah memasuki era 'purnatugas', tetapi mobil-mobl bekas Soekarno masih kerap ikut dalam ajang pameran mobil klasik.
Salah satu yang paling sering ikut pameran adalah Zavod Imeni Likhacheva (ZIL) keluaran tahun 1958.
Kisah di Balik Pembuatan Naskah Proklamasi 17 Agustus 1945, Soekarno Robek Naskah Berkali-kali
75 tahun silam, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat.
Banyak peristiwa bersejarah yang harus dilalui bangsa Indonesia sebelum akhirnya memproklamirkan kemerdekaannya.
Salah satunya adalah tentang perumusan naskah teks Proklamasi Kemerdekaan RI.
Perumusan naskah teks Proklamasi terjadi setelah peristiwa Rengasdengklok, yaitu penculikan Soekarno dan Moh Hatta pada 16 Agustus 1945 jam 04.30 WIB ke Rengasdengklok Karawang.
Tujuan penculikan Soekarno-Hatta pada peristiwa Rengasdengklok adalah agar tidak terpengaruh Jepang dan memenuhi tuntutan golongan muda untuk segera melaksanakan proklamasi kemerdekaan RI.
Setelah peristiwa ini, Soekarno dan Hatta harus segara menyiapkan segala sesuatu terkait Proklamasi.
Mereka harus menyiapkan rumusan teks untuk menandai kemerdekaan Indonesia.
Ketika itu, 16 Agustus 1945, bertepatan dengan 8 Ramadan 1364 Hijriah atau dalam suasana bulan suci penuh berkah.
Segera dari Rengasdengklok, Achmad Soebardjo membawa kedua pemimpin negara itu menuju rumah Laksamana Maeda.
Di sinilah akan dirumuskan naskah Proklamasi kemerdekaan.
Dalam buku Kilas Balik Revolusi karya Abu Bakar Loebis disebutkan jatuhnya pilihan pada rumah Laksamana Maeda karena rumah tersebut punya hak imunitas terhadap Angkatan Darat Jepang, sehingga kedua pemimpin itu tetap aman.
Di ruang makan Laksamana Maeda dirumuskan naskah Proklamasi kemerdekaan yang merupakan pemikiran tiga tokoh, yaitu Soekarno, M Hatta, dan Achmad Soebardjo.
Proses penyusunan naskah ini juga disaksikan golongan muda yang diwakili oleh Sukarni, Sudiro, dan BM Diah.
Sementara, dari pihak Jepang ada S Miyoshi dan S Nishijima.
Ruang makan itu menjadi saksi bisu penyusunan teks Proklamasi.
Sementara itu, sebelum naskah proklamasi dibacakan, Soekarno sebenarnya sempat menyusun naskah pidato yang juga akan dibacanya.
Namun, naskah itu dirobek oleh Soekarno.
Itu seperti yang disampaikan oleh Fatmawati dalam buku "17-8-45, Fakta, Drama, Misteri", karya Henri F Isnaeni, 2015 lalu.
Dalam buku itu disebutkan, Fatmawati menjadi saksi Soekarno merobek naskah tersebut.
"Nampaknya Bung Karno memaksakan diri menulis sesuatu. Sedangkan aku berbaring kecapaian di dekatnya," ungkap Fatmawati dalam buku itu.
Fatmawati melanjutkan, Soekarno merobek naskah itu berkali-kali.
"Hari sudah hampir terang. Berkali-kali Bung Karno menulis sesuatu kemudian dirobek-robek lalu dibuang ke keranjang sampah," kata Fatmawati.
Berikut ini adalah isi lengkap naskah tersebut.
"Saudara-saudara sekalian.
Saya telah meminta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun!
Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naik dan turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-henti.
Di dalam jaman Jepang itu tampaknya saja kita menyandarkan diri pada mereka.
Tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri.
Hanya bangsa yang berani mengambil dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.
Maka kami tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia.
Permusyawaratan ini sela-sela berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara. Dengan ini kami nyatakan kebulatan tekad itu. Dengarklah proklamasi kami."
(Tribunnewswiki.com/Tyo/Amy/Gridoto/Dida Argadea)
Artikel ini telah tayang di Gridoto dengan judul "HUT Ke-75 RI, Ini Fakta Menarik Tentang Mobil Dinas Presiden Era Soekarno, Ada Pemberian Uni Soviet" dan Tribun Pekanbaru dengan judul "Bacaan Teks Proklamasi Lengkap dan Kisah Di Balik Pembuatan Naskah Proklamasi"