TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pelaksanaan pembelajaran saat ini masih secara daring.
Sejumlah sekolah masih belum dibuka kembali untuk melakukan pembelajaran tatap muka.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim memberikan opsi yang dapat diambil sekolah di masa pandemi Covid-19.
Selain mengizinkan sekolah di zona kuning dibuka, Nadiem Makarim juga memberikan tiga opsi kurikulum dalam kondisi darurat.
Kurikulum ini dapat diambil sekolah dalam kondisi khusus sebagai kebutuhan pembelajaran peserta didik.
Diketahui, kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) yang disiapkan Kemendikbud merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional.
Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.
“Dari opsi kurikulum yang dipilih, catatannya adalah siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, dan pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran,” tegas Mendikbud, dikutip dari Kompas.com.
Dalam hal ini Mendikbud memberikan tiga opsi yang ditawarkan :
1. Tetap mengacu pada Kurikulum Nasional
2. Menggunakan kurikulum darurat; atau
3. Melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri
Baca: Atasi Kendala Belajar Online, Nadiem Izinkan Guru dan Murid Pakai Dana BOS untuk Beli Kuota Internet
"Semua jenjang pendidikan pada kondisi khusus dapat memilih dari tiga opsi kurikulum tersebut,” terang Mendikbud.
Dalam kurikulum khusus ini, modul belajar PAUD dijalan dengan prinsip "Bermain adalah Belajar".
Sementara itu, untuk jenjang pendidikan SD modul belajar mencakup rencana pembelajaran yang mudah dilakukan secara mandiri oleh pendamping baik orangtua maupun wali.
Pemerintah juga melakukan relaksasi peraturan untuk guru dalam mendukung kesuksesan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.
“Guru tidak lagi diharuskan untuk memenuhi beban kerja 24 jam tatap muka dalam satu minggu sehingga guru dapat fokus memberikan pelajaran interaktif kepada siswa tanpa perlu mengejar pemenuhan jam,” jelas Mendikbud.
Mendikbud berharap kerja sama semua pihak dapat terus dilakukan.
Baca: Mendikbud Nadiem Makarim Izinkan Dana BOS Dialokasikan untuk Kuota Internet: Kita Bebaskan
Baca: Mendikbud Nadiem Makarim Harap Pembelajaran Jarak Jauh Bisa Kreatif dan Inovatif seperti Sekolah Ini
Orangtua diharapkan dapat aktif berpartisipasi dalam kegiatan proses belajar mengajar di rumah.
Guru diharapkan dapat terus meningkatkan kapasitas untuk melakukan pembelajaran interaktif, dan sekolah dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan metode paling tepat.
“Kerja sama secara menyeluruh dari semua pihak sangat diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran di masa pandemi Covid-19,” pesan Mendikbud.
Izinkan Belajar Tatap Muka di Sekolah
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim telah mengizinkan sekolah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka di zona kuning.
Hal ini diungkapkan saat Nadiem Makarim melakukan konferensi pers secara daring pada Jumat (7/8/2020).
Keputusan pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah ini juga tercantum dalam revisi surat keputusan bersama (SKB) empat menteri.
"Kami akan merevisi SKB untuk memperbolehkan, bukan memaksakan pembelajaran tatap muka dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat," ujar Nadiem dalam konferensi pers pengumuman kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 secara daring, Jumat (7/8/2020), dikutip dari Kompas.com.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Covid-19 Doni Monardo mengatakan zona kuning atau risiko rendah Covid-19 boleh kembali melakukan pembelajaran tatap muka.
"Per tanggal 2 Agustus 2020, maka ada 163 zona kuning yang kiranya nanti ini akan bisa dilakukan kegiatan belajar tatap muka," kata Doni dalam webinar yang diselenggarakan Kemendikbud, Jumat (7/8/2020).
Meski demikian, sekolah di zona kuning perlu melakukan simulasi sebelum memulai proses belajar tatap muka.
(Tribunnewswiki/Afitria)