TRIBUNNEWSWIKI.COM - Amerika Serikat tak bergeming melihat dua senjata berhulu ledak nuklir milik Rusia.
Dua senjata yang dimaksud adalah rudal jelajah Burevestnik dan drone bawah laut Poseidon.
Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat (AS) untuk Kontrol Senjata, mengatakan Rusia harus berhenti mengembangkan rudal jelajah yang bertenaga dan berhulu ledak nuklir, seperti diberitakan Kontan dari The Moscow Times, Selasa (21/7/2020).
Sementara Billingslea AS, dalam kicauan Twitter, melihat Burevestnik dan Poseidon sebagai "konsep mengerikan."
Karenanya, Billingslea meminta Rusia untuk menangguhkan pengembangan dua senjata itu.
Namun Rusia tampaknya tak terlalu peduli.
Baca: Kepada Rusia, China Sebut AS Telah Kehilangan Akal Sehat dan Kredibilitasnya
Musim gugur mendatang, yang jatuh sekitar September, Rusia akan menguji Poseidon di perairan Kutub Utara.
Drone bawah laut bertenaga nuklir itu akan diluncurkan dari kapal selam Belgorod.
Tak salah jika Amerika menganggap senjata ini mengerikan.
Drone berbentuk torpedo milik Rusia itu mampu membawa hulu ledak nuklir hingga dua megaton.
Karenanya ada analis senjata yang menyebutnya sebagai 'Senjata Nuklir Hari Kiamat'.
Daya jelajah Poseidon bisa menjangkau 10.000 kilometer.
Artinya, jika senjata itu meluncur dari Laut Barents atau perairan lain di Kutub Utara, drone bawah air tersebut bisa melintasi Atlantik Utara.
Baca: Persempit Ruang Gerak Militer China, AS Ingin Tempatkan Marinir Bersenjata Rudal di Jepang
Jika diledakkan di lepas pantai timur Amerika Serikat (AS), hulu ledak nuklir yang dibawa bisa menciptakan gelombang tsunami setinggi puluhan meter.
Belum lagi ditambah kerusakan yang diakibatkan ledakan nuklir itu sendiri.
Sebelumnya, keberadaan Poseidon dikonfirmasi langsung oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Maret 2019.
Senjata ini hanya satu di antara enam senjata nuklir strategis yang dikembangkan Rusia.
Putin mengungkapkan, Poseidon dilengkapi dengan muatan konvensional dan nuklir serta bisa menghancurkan fasilitas infrastruktur musuh, kapal induk, dan target lainnya.
Baca: Di Tengah Konflik dengan AS dan India, Xi Jinping Jalin Kesepakatan dengan Vladimir Putin
Bahkan pada Juli, tahun yang sama, Departemen Pertahanan Rusia merilis sebuah video yang menunjukkan fasilitas perakitan drone Poseidon.
Sebuah film animasi juga dirilis.
Film itu menunjukkan bagaimana drone Poseidon digunakan dalam situasi perang yang sesungguhnya.
“Drone memiliki beberapa keunggulan. Kapal selam dengan awak di atas kapal, tentu saja, adalah senjata yang kuat, tetapi ada batasan tertentu pada faktor manusia," kata mantan Kolonel Direktorat Intelijen Utama (GRU) Rusia Alexander Zhilin.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)