Meski Terlibat Ketegangan Militer, Donald Trump Mau Bekerja Sama dengan China Demi Vaksin Covid-19

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan tetap membuka kemungkinan kerja sama dengan China soal vaksin Covid-19


zoom-inlihat foto
presiden-as-donald-trump-berbicara-kepada-media-di-rose-garden-1.jpg
Drew Angerer / Getty Images / AFP
ILUSTRASI - WASHINGTON, DC - 14 JULI: Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media di Rose Garden di Gedung Putih pada 14 Juli 2020 di Washington, DC. Presiden Trump berbicara tentang beberapa topik termasuk kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden, pasar saham dan hubungan dengan China ketika coronavirus terus menyebar di AS, dengan hampir 3,4 juta kasus yang dikonfirmasi.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tetap membuka kemungkinan untuk bekerja sama dengan China atau negara lain yang mungkin bisa memberikan vaksin pada AS, Selasa (21/7/2020).

Padahal, AS dan China terus bersitegang dalam beberapa waktu terakhir.

"Kami bersedia bekerja dengan siapa pun yang akan memberi kami hasil yang baik," kata Trump, ketika ditanya apakah pemerintah akan berkolaborasi dengan China pada vaksin yang ditujukan bagi warga Amerika.

Diberitakan Kontan, pertanyaan itu muncul sehari setelah peneliti mengatakan sebuah vaksin terhadap virus corona yang dikembangkan oleh CanSino Biologics Inc China dan unit penelitian militer China tampaknya aman dan memicu respons kekebalan pada sebagian besar subjek dalam studi tahap tengah yang diawasi dengan ketat.

Reuters memberitakan vaksin CanSino merupakan satu di antara sedikit vaksin yang memungkinkan diuji pada manusia.

Ilustrasi vaksin virus corona
Ilustrasi vaksin virus corona (Fresh Daily)

Baca: Vaksin Covid-19 Buatan Oxford Mungkin Tersedia Akhir Tahun Ini, Namun Tak Ada Kepastian

Vaksin lainnya yang juga bersiap untuk uji coba tersebut termasuk vaksin dari Moderna Inc yang berbasis di AS dan BioNTech SE Jerman, dalam kemitraan dengan produsen obat Amerika Pfizer Inc.

Data percobaan yang dikembangkan oleh Univesitas Oxford dan AstraZeneca juga dirilis pada hari Senin.

Melihat semua kemungkinan yang ada, Presiden Donald Trump merasa optimis.

"Saya pikir kita akan memiliki beberapa hasil yang sangat bagus. Kami sudah dalam pengujian. Tidak ada yang berpikir itu mungkin,” katanya.

"Saya pikir Anda akan melihat sesuatu selama periode waktu yang cukup singkat berikutnya -mungkin periode yang sangat singkat- berkaitan dengan terapi dan vaksin yang sangat baik."

Ketegangan AS-China

Presiden China, Xi Jinping saat menghadiri latihan militer di Laut China Selatan pada Kamis (13/4/2018).
Presiden China, Xi Jinping saat menghadiri latihan militer di Laut China Selatan pada Kamis (13/4/2018). (Dokumen Kementerian Pertahanan China)

Baca: AS dan India Gelar Latihan Militer Bersama, Ahli: Mereka Sama-sama Tergetkan China

Fakta bahwa Amerika tak menutup kemungkinan kerja sama dengan China terbilang cukup mengejutkan.

Pasalnya kedua negara terlibat aksi saling tuding hingga ketegangan militer.

Baru-baru ini, Tiongkok marah besar atas tindakan Angkatan Laut AS yang unjuk gigi di kawasan Laut China Selatan.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Kementerian Pertahanan China.

Menurut Kemenhan,  Kementerian Pertahanan AS mengabaikan fakta-fakta yang benar dan salah.

China juga menuding AS tengah berusaha untuk mengasingkan negara-negara di kawasan itu demi menuai keuntungan yang tidak adil.

"Kami sangat tidak puas dan dengan tegas menentang ini," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Ren Guoqiang dalam sebuah pernyataan seperti yang dilansir Kontan dari Global Times.

Pernyataan ini disampaikan setelah Pentagon menuding aksi latihan militer China di perairan dekat Kepulauan Xisha dari 1 Juli hingga 4 Juli merupakan tindakan yang tidak produktif terhadap upaya meredakan ketegangan dan menjaga stabilitas.

Menuding balik, Ren menyebut justru Amerika yang menyebabkan ketegangan militer di Laut China Selatan.

"AS adalah pendorong militerisasi terbesar di Laut China Selatan, dan menentang upaya dan keinginan perdamaian negara-negara di kawasan itu," kata Ren.

Pasalnya, hanya dua hari setelah menuding latihan China sebagai aksi tidak produktif, AS pada hari Sabtu mengirim dua kapal induk plus empat kapal perang lainnya ke Laut China Selatan untuk latihan skala terbesar di wilayah ini dalam beberapa tahun.

AS Dikabarkan Siap Gempur China

Ilustrasi Tentara AS
Ilustrasi Tentara AS (pixabay.com)

Baca: Trump Tuduh WHO Boneka China, PBB Umumkan Amerika Serikat Keluar dari WHO Mulai 6 Juli 2021

Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah siap seandainya harus mengepung China.

Atau, setidaknya, mereka akan turut memberikan tekanan pada Tiongkok atas tindakannya beberapa waktu ini.

Dua kapal induk AS dilaporkan tengah latihan bersama, seperti diberitakan Kontan dari Japan Times, Minggu (28/6/2020).

Keduanya ialah USS Nimitz dan USS Ronald Reagan Carrier Strike Groups.

Latihan tersebut digelar sehari setelah pemimpin Asia Tenggara menyatakan menentang klaim Bejing atas Laut China Selatan dengan alasan historis.

Padahal, Filipina, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Taiwan, dan Brunei masih memiliki klaim yang tumpang tindih di perairan itu.

Baca: Setelah Konflik dengan India, China Terjunkan Puluhan Petarung MMA Ke Perbatasan

ILUSTRASI - Foto kapal induk USS Theodore Roosevelt pada 3 Juni 2020 di Laut Filipina. Foto: AFP
ILUSTRASI - Foto kapal induk USS Theodore Roosevelt pada 3 Juni 2020 di Laut Filipina. Foto: AFP (AFP)

Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut AS mengatakan latihan itu digelar untuk meningkatkan komitmen responsif, fleksibel, dan abadi Amerika Serikat untuk perjanjian pertahanan timbal balik dengan sekutu dan mitra di Indo-Pasifik.

“Kami secara agresif mencari setiap peluang untuk memajukan dan memperkuat kemampuan dan kecakapan kami dalam melakukan semua operasi perang domain,” kata Laksamana Muda George Wikoff, komandan Carrier Strike Group 5.

Ia menambahkan, Angkatan Laut AS siap untuk melakukan suatu misi global seandainya dibutuhkan.

“Angkatan Laut AS tetap memiliki misi yang siap dan dikerahkan secara global. Operasi dual carrier menunjukkan komitmen kami terhadap sekutu regional, kemampuan kami untuk secara cepat memerangi kekuatan di Indo-Pasifik, dan kesiapan kami untuk menghadapi semua pihak yang menentang norma-norma internasional yang mendukung stabilitas regional."

Beberapa hari sebelumnya, Angkatan Laut Amerika juga mengumumkan, kapal tempur litoral USS Gabrielle Giffords bergabung dengan dua kapal Pasukan Bela Diri Jepang untuk melakukan pelatihan di Laut China Selatan yang kontroversial pada hari Selasa pekan lalu.

Melansir Stripes.com, kapal Angkatan Laut AS berlayar dengan kapal pelatihan JMSDF JS Kashima dan JS Shimayuki untuk menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi saat beroperasi bersama.

"Kesempatan untuk beroperasi dengan teman-teman dan sekutu kita di laut sangat penting untuk kesiapan dan kemitraan kita bersama," kata Komandan Belakang Expeditionary Strike Group 7, Laksamana Muda Fred Kacher dalam pernyataannya seperti yang dikutip Stripes.com.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan dengan judul AS Bersiap Mengepung Tiongkok di Laut China Selatan

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved