TRIBUNNEWSWIKI.COM - Korea Utara merasa pihaknya tak perlu berdialog dengan Amerika Serikat (AS).
Informasi tersebut dikatakan seorang diplomat negara pemilik senjata nuklir kepada Yonhap, Sabtu, (4/7/2020).
Padahal sebelumnya, keinginan adanya pertemuan antara Korea Utara dengan AS disampaikan oleh Presiden Korea Selatan, Moon Jae In.
Keinginan Moon tersebut disampaikan oleh pejabat senior Gedung Biru Korea Selatan pada Rabu, (1/7/2020).
Hal tersebut lantaran pada November mendatang, Kim Jong Un dimungkinkan hadir menemui Donald Trump pada pemilu presiden di AS.
Tak hanya itu, mantan Penasehat Keamanan Nasional AS, John Balton mengatakan pertemuan Trum dan Kim sangat dimungkinkan.
Karena pertemuan tersebut bisa membatu Trump memenangkan pilpres.
Baca: Beredar Rumor Miring Sumber Kekayaan Kim Jong Un yang Melimpah, Berasal dari Bisnis Gelap
Baca: Kim Jong Un Baru Tampil 7 Kali dalam Tiga Bulan, Publik Bertanya-tanya: Apa yang Terjadi di Korut?
Korea Utara menolak bertemu dengan Trump November 2020 mendatang
Penolakan dan pernyataan tidak dimungkinkannya pertemuan yang akan menjadi sejarah baru tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Choe Son Hui.
"Sekarang adalah waktu yang sangat sensitif karena jika salah penilaian atau melakukan kesalahan langkah sekecil apa pun akan menimbulkan konsekuensi yang fatal dan tidak dapat dibatalkan," jelas Choe Son Hui.
"Kami cukup terkejut dengan keinginan (Moon) yang terjadi saat KTT yang justru acuh terhadap situasi hubungan Korea Utar-AS saat ini," lanjut Choe.
Menurut Choe, AS telah salah menilai jika "negosiasi masih akan bisa dilakukan diantara kami (Korea Utara-AS)", ucap Choe.
Karena sesuai dengan perkataan Choe, Korea Utara kini telah melakukan perencanaan dan langkah strategis untuk mengendalikan ancaman jangka panjang dari AS.
"Tidak akan ada pembicaraan yang bisa mengubah kebijakan kami," terang Choe.
Sehingga Korea Utara tak perlu berdialog dengan AS.
Terlebih Korea Utara menganggap semua agenda yang dilakukan pada Pyongyang tersebut tak lebih hanya alat AS untuk mengatasi krisis politik mereka.
Diketahui bahwa Trump dan Kim telah berjumpa sebanyak tiga kali pada 2018 lalu.
Agenda tersebut membicarakan mengenai pembongkaran program senjata nuklir Korea Utara dengan imbalan konsesi AS.
Pada pertemuan puncak pertama di Singapura pada 2018, kedua pemimpin sepakat untuk mengadakan denuklirisasi total Semenanjung Korea.
Namun pada KTT di Hanoi Februari 2019 berakhir tanpa kesepakatan.
Kedua pemimpin bertemu lagi empat bulan kemudian di perbatasan antar-Korea dan setuju untuk melanjutkan negosiasi kerja sama namun belum ada kemajuan.
Hingga akhirnya terdapat kasus kemarahan adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong terhadap balon berisi propaganda anti-Pyongnyang.
Buntut dari permasalahan tersbut adalah Korea Utara membom kantor penghubung antar-Korea pada Selasa (16/6/2020) lalu.
Pertemuan Trump dengan Kim Jong Un bisa jadi batu loncatan dalam upaya perdamaian Semenanjung Korea
Pejabat senior Gedung Biru menyampaikan bahwa pihak Gedung Putih telah menyetujui keinginan Moon Jae In.
"Pihak Amerika Serikat memahami (posisi Moon Jae In), dan mereka saat ini telah melakukan berbagai upaya untuk mewujudkan (keinginan Moon)," kata pejabat yang enggan diberitakan identitasnya pada Yonhap.
Pejabat tersebut juga menolak untuk memberikan informasi rinci.
Hal tersebut lantaran baginya publik dirasa tak tepat jika mengetahui perihal komunikasi diplomatik negara.
Sebelumnya, Moon Jae In hadir dalam KTT virtual dengan Presiden Dewan Uni Eropa, Charles Michel dan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen.
Pada pertemuan yang diselenggarakan pada (30/6/2020) tersebut Moon menegaskan kembali tekadnya untuk berusaha 'dengan sabar'.
Sehingga momentum dialog yang melibatkan AS dan kedua Korea bisa dipertahankan.
Moon menekankan bahwa kedua Korea tidak boleh kembali ke masa gelap dimana konflik masih memanas.
Padahal, setelah melalui jalan yang panjang, beberapa tahun belakangan hubungan kedua negara saudara tersebut cukup stabil.
Meski demikian, hingga saat ini masih belim jelas bagaimana agenda Trump dan Kim pada November nanti.
Awal pekan ini, Wakil Sekretaris Negara, Stephen Biegun, perwakilan Washington di Pyongyang menyatakan adanya keraguan tentang kemungkinan itu.
"Saya pikir itu mungkin dan tidak mungkin, baik sekarang maupun nanti saat pemilu AS," kata Biegun.
Faktor yang bisa membuat pertemuan tersebut menjadi mustahil diantaranya pandemi Covid-19.
Ditanya tentang pernyataan Biegun, pejabat Gedung Biru hanya mengatakan dia mengetahui soal pendapat Biegun tanpa banyak memberikan komentar.
Keinginan Moon Jae In untuk berdamai dengan Korea Utara
Moon memang berkeinginan untuk terus memertahankan hubungan baik dengan Korea Selatan.
Moon diketahui merupakan orang yang menjadi fasilitator dalam proses perdamaian dengan Korea Utara.
Tak hanya itu, tahun ini sejak 2019 lalu Moon berencana untuk terus mendorong kerjasama antar-Korea.
Termasuk pembicaraan denuklirisasi dengan AS beberapa waktu lalu.
Namun hingga saat ini dialog mengenai denuklirisasi masih belum terealisasi.
"Saya tidak yakin bahwa konsep besar mengenai denuklirisasi tersebut dapat dilakukan melalui dialg antara Korea Selatan dengan AS dan perdamaian Semenanjung Korea berada diluar dialog antara Korea Utara maupun Selatan," ucap pejabat senior Gedung Biru.
Meski demikian, negosiasi diantara Korea Utara dengan AS akan menjadi batu loncatan yang besar.
Terutama dalam upaya perdamaian di Semenanjung Korea.
Baca: Korea Utara Meledakkan Kantor Penghubung Antar Korea karena Kampanye Selebaran Anti-Pyongyang
Baca: Temukan 500 Ribu Pamflet Anti-Pyongyang, Kim Yo Jong Ancam Batalkan Perjanjian Militer dengan Korsel
Baca: Masih Berstatus Perang Sejak 70 Tahun Silam, Korea Selatan Ingin Berdamai dengan Korea Utara
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)