Coca-Cola Buat Facebook Merugi, Mark Zuckerberg Harus Rela Kehilangan Rp 102,6 Triliun

Sejumlah perusahaan melakukan boikot pada platform Facebook dan membuat harga saham media sosial terbesar di dunia itu anjlok.


zoom-inlihat foto
mark-zuckerberg-facebook.jpg
difernews.gr
Mark Zuckerberg, bos Facebook.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - CEO Facebook Mark Zuckerberg harus kehilangan 7,21 miliar dollar AS atau setara Rp 102,6 triliun.

Hal ini terjadi karena aksi boikot yag dilakukan di media sosial Facebook.

Sejumlah perusahaan pengiklan terbesar pada platform Facebook membuat saham raksasa media sosial tersebut anjlok.

Akhirnya, kekayaan CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg pun terkikis.

Adapun saham Facebook merosot lebih dari 8 persen pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2020) waktu setempat, sebagai dampak boykot iklan di media sosial itu.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 12 Maret 1894 - Coca-Cola Dijual Pertama Kali dalam Kemasan Botol

Coca-Cola adalah pengiklan teranyar yang mendukung kampanye bertajuk #StopHateforProfit yang digencarkan oleh kelompok aktivis hak asasi manusia AS.

CEO Coca-Cola James Quincey menyatakan, pihaknya akan menghentikan seluruh iklan di media sosial selama 30 hari sambil memikirkan ulang kebijakan perusahaan.

"Tidak ada tempat untuk rasisme di dunia dan tidak ada tempat untuk rasisme di media sosial," tulis Quincey dalam laman resmi Coca-Cola.

James Quincey
Coca-Cola menghentikan iklannya di sejumlah platform media sosial untuk mendukung kampanye #StopHateforProfit yang digencarkan oleh kelompok aktivis hak asasi manusia AS.

"The Coca-Cola Company akan menghentikan iklan berbayar di seluruh media sosial secara global selama setidaknya 30 hari. Kami akan memanfaatkan waktu ini untuk mempelajari kembali kebijakan iklan kami guna mempertimbangkan apakah revisi dibutuhkan. Kami juga mengharapkan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dari mitra-mitra media sosial kami," imbuh Quincey.

Kampanye #StopHateforProfit diluncurkan pada 9 Juni 2020 pasca kematian George Floyd oleh petugas kepolisian Minneapolis, AS dan menimbulkan gelombang protes di seluruh dunia.

Adapun Facebook menolak untuk menghapus unggahan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam bakal menerapkan tindakan kekerasan kepada para pengunjuk rasa.

Mark Zuckerberg, bos Facebook.
Mark Zuckerberg, bos Facebook. (difernews.gr)

Kampanye tersebut mendesak para pengiklan-pengiklan besar untuk memikirkan kembali belanja iklan mereka di Facebook sampai media sosial itu memiliki kebijakan yang lebih ketat.

Perusahaan besar seperti Unilever, Hershey Co, North Face, Verizon, dan lain-lain memutuskan untuk menunda atau membatalkan iklan mereka di Facebook dan platform-platform media sosial lainnya.

Iklan menyumbang hampir 100 persen pendapatan Facebook. Adapun berdasarkan data Forbes, kekayaan Zuckerberg mencapai 79,7 miliar dollar AS atau setara sekira Rp 1.134 triliun.

Baca: Belajar Kasus Prancis vs Amazon, Indonesia Harus Cermat Jika Ingin Pungut Pajak Google dan Facebook

Lambat cegah hoaks

Situasi jelang Pilpres Amerika Serikat pada November tahun ini semakin memanas.

Platform besar sosial media seperti Twitter dan Facebook didesak oleh banyak pihak agar turut serta menekan kabar hoaks atau ujaran kebencian yang berpotensi semakin menebalkan polarisasi di negeri Paman Sam tersebut.

Salah satu yang mendapat sorotan adalah Facebook.

Facebook sendiri tidak mengambil langkah secepat dan drastis untuk melakukan antisipasi terhadap kabar hoaks atau ujaran kebencian, seperti rivalnya Twitter yang dikecam Donald Trump karena melabeli beberapa kicauan kontroversial sang presiden sebagai "informasi yang perlu dikonfirmasi ulang".

Pada akhirnya pada Jumat (26/6/2020) lalu Facebook Inc menyatakan akan mulai melabeli konten yang tetap layak diberitakan meski melangar kebijakan perusahaan itu, jika memiliki bobot kepentingan publik lebih besar ketimbang risiko yang ditimbulkannya.

Facebook juga akan melabeli semua postingan dan iklan yang berkaitan pemilu sekaligus memasang tautan ke informasi otoritatif, termasuk dari politisi.

Ilustrasi Facebook
Ilustrasi Facebook (pixabay)

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, juga mengatakan Facebook akan melarang iklan yang mengklaim bahwa orang dari ras, agama, orientasi seksual, atau status imigrasi tertentu merupakan ancaman bagi keselamatan fisik atau kesehatan.

Perubahan kebijakan Facebook ini terjadi seiring merebak kampanye boikot iklan "Stop Hate for Profit".

Baca: Facebook Digegerkan dengan Adanya Grup Komunitas Pelakor Indonesia, Psikolog Beri Tanggapan

Baca: Pria Ini Nekat Jual Istrinya Seharga Rp 300 Ribu via Twitter Hanya karena Nganggur saat Pandemi

Seruan boikot sendiri dimulai beberapa kelompok hak-hak sipil Amerika Serikat (AS) untuk menekan Facebook agar bertindak mengatasi ujaran kebencian dan informasi yang salah.

Namun, seperti dikutip Reuters, rupanya pidato Zuckerberg yang termuat di akun Facebooknya itu gagal, menurut Menurut Rashad Robinson, presiden kelompok hak-hak sipil Color Of Change, salah satu kelompok di balik kampanye boikot.

"Apa yang kami lihat dalam pidato hari ini dari Mark Zuckerberg adalah kegagalan untuk bergulat dengan kerugian yang ditimbulkan FB pada demokrasi & hak-hak sipil kita," Robinson mencuit. 

"Jika pidato ini adalah respons yang dia berikan kepada pengiklan besar yang menarik jutaan dolar dari perusahaan, kita tidak bisa mempercayai kepemimpinannya."

Saham Facebook ditutup anjllok lebih dari 8% pada perdagangan Jumat (26/6). Demikian pula dengan Twitter yang harga sahamnya rontok 7% di hari yang sama. 

Ilustrasi sosial media
Ilustrasi sosial media ((https://www.tribunnews.com))

Salah satu pemicu penurunan harga saham itu adalah pernyataan Unilever PLC yang akan menghentikan iklan di Facebook, Instagram, dan Twitter di AS, selama sisa tahun ini seraya mengutip istilah  "perpecahan dan kebencian selama pemilihan terpolarisasi ini periode di AS".

Lebih dari 90 pengiklan termasuk anak perusahaan produsen mobil Honda Motor Co Ltd di AS, Ben & Jerry's dari Unilever, Verizon Communications Inc dan The North Face, telah bergabung dalam kampanye ini. Begitu kaim grup aktivis iklan Sleeping Giants.

Beberapa jam setelah pengumuman Facebook, Coca-Cola Co juga mengatakan akan menghentikan sementara penempatan iklan di seluruh platform media sosial mulai 1 Juli di seluruh dunia, selama setidaknya 30 hari.

Salah satu pengiklan teratas Facebook, raksasa barang-barang konsumen Procter & Gamble Co, pada hari Rabu berjanji meninjau penempatan iklan dan menghentikan pengeluaran di platfrom yang memuat konten penuh kebencian.

P&G menolak mengatakan apakah mereka telah mencapai keputusan di Facebook.

Saham Facebook anjlok 

CEO Facebook Inc Mark Zuckerberg kehilangan US$ 7,2 miliar atau setara Rp 102,24 triliun (Kurs Rp 14.200) setelah sejumlah perusahaan menarik iklan mereka dari Facebook.

Boikot iklan yang dilakukan sejumlah pengiklan raksasa itu turut menyeret saham raksasa media sosial ini turun 8,3% pada perdagangan hari Jumat (26/6/2020), penurunan saham tersebut merupakan yang terbesar dalam tiga bulan.

Penurunan saham ini terjadi setelah salah satu pengiklan terbesar di dunia yakni Unilever bergabung dalam kelompok perusahaan yang memboikot iklan di jejaring sosial.

Unilever mengumumkan akan berhenti menghabiskan uang untuk iklan di seluruh jaringan Facebook pada tahun ini.

Ilustrasi Facebook
Ilustrasi Facebook (pixabay)

Penurunan saham ini membuat Facebook kehilangan market valuenya sebesar US$ 56 miliar atau setara Rp 795,20 triliun dan menekan kekayaan bersih Zuckerberg turun menjadi US$ 82,3 miliar atau Rp 1.168,66 triliun, menurut Bloomberg Billionaires Index.

Penurunan kekayaan ini membuat CEO Facebook turun peringkat ke posisi keempat terkaya dunia, disusul bos Louis Vuitton Bernard Arnault, yang diangkat menjadi salah satu dari tiga orang terkaya di dunia bersama dengan Jeff Bezos dan Bill Gates.

Perusahaan-perusahaan seperti Verizon Communications Inc hingga Hershey Co telah menghentikan iklan ke media sosial setelah para kritikus mengatakan bahwa Facebook telah gagal untuk secara memadai menghentikan pidato kebencian dan informasi yang salah di platform mereka.

Baca: Meroket Selama Pandemi Covid-19, Nilai Saham Zoom Kini Dekati Rp 1000 Triliun: Kalahkan Saham AMD

Baca: Terima Komplain, Twitter dan Facebook Hapus Video Tim Kampanye Donald Trump tentang George Floyd

Baca: Sambut New Normal, Facebook dan 5 Perusahaan Ini Akan Berlakukan WFH Untuk Karyawan Selamanya

Coca-Cola Co mengatakan akan menghentikan semua iklan berbayar di semua platform media sosial selama setidaknya selama 30 hari ke depan.

Zuckerberg merespons pada hari Jumat terhadap kritik yang berkembang tentang informasi yang salah di situs tersebut.

Zuckerberg mengumumkan bahwa perusahaan akan melabeli semua postingan yang berhubungan dengan pemungutan suara dengan tautan yang mendorong pengguna untuk melihat pusat informasi pemilih yang baru.

Facebook juga memperluas definisi tentang pidato kebencian yang dilarang, menambahkan klausa yang mengatakan tidak ada iklan akan diizinkan jika mereka memberi label demografis lain sebagai berbahaya.

"Tidak ada pengecualian untuk politisi dalam kebijakan apa pun yang saya umumkan di sini hari ini," kata Zuckerberg.

(Tribunnewswiki.com/Ris/Niken Aninsi)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Gara-gara Coca-Cola, Kekayaan Mark Zuckerberg Lenyap Rp 102,6 Triliun".





Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Kamu Harus Mati

    Kamu Harus Mati adalah sebuah film misteri yang
  • Film - Keluarga Suami Adalah

    Keluarga Suami Adalah Hama adalah sebuah film drama
  • Boah Sartika

    Lahir pada 8 Maret 2000, perjalanan Boah Sartika
  • Film - Gudang Merica (2026)

    Gudang Merica adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved