Meroket Selama Pandemi Covid-19, Nilai Saham Zoom Kini Dekati Rp 1000 Triliun: Kalahkan Saham AMD

Naik daun selama pandemi Corona, nilai saham Zoom naik hingga Rp 956,8 triliun dan mengalahkan perusahaan perangkat keras dan lunak, AMD.


zoom-inlihat foto
eric-yuan-zoom.jpg
AFP
Eric Yuan, pendiri Zoom.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Aplikasi Zoom memang tak bisa dibantah menjadi platform telekonferensi yang naik daun pada masa pandemi Covid-19.

Zoom menjadi pilihan banyak masyarakat dunia untuk aktivitas bekerja dan sekolah dari rumah karena situasi pandemi.

Selain itu, Zoom juga disebut relatif mudah digunakan dan tak perlu pemahaman teknologi yang dalam untuk mengoperasikan aplikasi ini.

Zoom bahkan tak hanya menemani orang bekerja atau belajar dari rumah, sudah puluhan pertemuan resmi kenegaraan, rapat bisnis, sharing komunitas dan berbagai telekonferens lain.

Keberadaan Zoom yang sangat gandrung digunakan dan diakses ini turut serta mempengaruhi kinerja bisnis Zoom pada kuartal pertama (Q1) 2020.

Nilai saham Zoom meroket hingga 250 persen tahun ini, meski pernah dihantam isu keamanan privasi data penggunanya.

Nilai saham Zoom kini mencapai 67,43 miliar dollar AS (Rp 956,8 triliun).

Nilai pasar Zoom bahkan melampaui perusahaan hardware AMD yang punya nilai pasar 64 miliar dollar AS (Rp 908 triliun), dikutip dari laman Kompas.com.

Baca: Sempat Gagap Bahasa Inggris dan Ide Besarnya Ditolak CISCO, Berikut Kisah Eric Yuan Mendirikan Zoom

Baca: Belajar Kasus Prancis vs Amazon, Indonesia Harus Cermat Jika Ingin Pungut Pajak Google dan Facebook

Baca: Spam Iklan dan Arahkan Pengguna ke Situs Tak Aman, 36 Aplikasi Kamera Dihapus dari Google Play Store

Saat ini, Zoom memiliki valuasi yang lebih dibandingkan 417 perusahaan lain yang terdaftar di indeks pasar saham S&P 500.

Hampir 85 persen anggota di S&P adalah saham blue chip, sebagaimana dihimpun dari CNN, Rabu (17/6/2020).

Pada awal bulan Juni, Zoom melaporkan pendapatannya pada kuartal pertama 2020 naik 169 persen dari tahun lalu ke angka 328 juta dollar AS.

Aplikasi komunikasi video, Zoom.
Aplikasi komunikasi video, Zoom. (Olivier Doulery/AFP)

Zoom mengklaim ada 256.400 perusahaan di mana lebih dari 10 karyawan dari perusahaan tersebut telah menggunakan Zoom.

Jumlah tersebut naik 354 persen dari tahun lalu.

Zoom sendiri mulai melantai di pasar modal Amerika Serikat pada April 2019 lalu.

Tidak hanya mengungguli AMD, nilai pasar Zoom juga melampaui perusahaan di sektor lain.

Sebut saja Regeneron Pharmaceuticals (66,4 miliar dollar AS), Unilever (64 miliar dillar AS), General Electric (63,33 miliar dollar AS), CME Group (62,6 miliar dollar AS), dan Colgate-Palmolive (62,4 miliar dollar AS).

Di tengah ekonomi global yang masih belum stabil, belum dapat dipastikan bagaimana kondisi saham Zoom di bursa nantinya.

Namun, analis Credit Suisse menyarankan kliennya untuk mulai menjual saham Zoom mereka pada bulan April lalu, di mana nilai sahamnya terus merangkak hingga saat ini.

Kisah Eric Yuan, pendiri Zoom

Siapakah otak dibalik keberadaan Zoom selama ini?

Ia adalalah Eric Yuan, CEO sekaligus inventor aplikasi Zoom.

Saat ini, pria yang berusia 50 tahun ini memegang sekitar 22 persen saham Zoom Video Communications Inc., perusahaan yang ia dirikan.

Eric Yuan, pendiri Zoom.
Eric Yuan, pendiri Zoom. (Twitter/@ericsyuan)

Eric Yuan merupakan warga Amerika Serikat yang lahir dan dibesarkan di wilayah Provinsi Shandong, China.

Ia merupakan lulusan dari Universitas Shandong.

Di sana, ia banyak mempelajari matematika dan ilmu komputer.

Sejak muda, Yuan selalu terkendala dengan jarak.

Semasa muda, ia harus naik kereta selama 10 jam untuk menemui kekasihnya.

Kendala jarak ini tak hanya dialami saat menjalin percintaan.

Kendala ini justru membuat Yuan semakin tekun dan berbuah manis seperti sekarang.

Yuan punya ambisi, ia ingin bekerja di Silicon Valley.

Namun, ia terkendala permohonan visa untuk dapat bekerja di sana dan Eric Yuan pun masih belum terlalu fasih alias gagap berbahasa Inggris waktu itu.

Butuh waktu hampir dua tahun dan sembilan kali permohonan agar ia bisa masuk dan bekerja di Amerika Serikat.

Ia kemudian diterima dan bekerja di Webex.

Pada akhir 1990-an, teknologi semakin berkembang pesat dan teknologi video conference yang awalnya hanya ada di cerita fiksi sains, semakin menjadi kenyataan.

Webex adalah salah satu perysahaan yang bergerak di bidang tersebut.

Baca: Pertama Kali Vonis Pidana Lewat Zoom dan Langsung Hukuman Mati, Pengadilan Singapura Dikecam

Baca: VIRAL Lupa Tak Matikan Kamera, Seorang Pria Kedapatan Tak Berbusana di Rapat Presiden via Zoom

Yuan menjadi salah satu dari 10 insinyur yang bergabung dengan Webex pada tahun 1997.

Satu dekade kemudian, Webex Diakuisisi Cisco dan Eric Yuan menjadi salah satu wakil presiden di sana dan mengelola lebih dari 800 pegawai.

Di sinilah Yuan menemukan jalannya untuk membangun Zoom sampai sekarang.

Pengaruh iPhone Pada 2007 silam, saat Cisco mengakuisisi Webex, Apple untuk pertama kalinya memperkenalkan iPhone.

Yuan, dengan jeli melihat bahwa lahirnya iPhone akan menjadi sebuah peluang besar.

Ia meyakini bahwa perusahaan, akan membutuhkan sebuah produk atau aplikasi yang dapat berfungsi di dalam sebuah ponsel, bukan hanya PC.

Ditolak para petinggi Cisco, Eric Yuan kemudian memaparkan pendapatnya kepada para pimpinan Cisco.

Eric Yuan, sosok dibalik kesuksesan Zoom.
Eric Yuan, sosok dibalik kesuksesan Zoom. (AFP)

Alih-alih dukungan, idenya malah ditolak oleh para petinggi Cisco.

Para pemimpin tidak setuju dan pada tahun 2011, Yuan memutuskan untuk pergi dan mulai membangun Zoom.

Ia tidak sendiri. Yuan membawa satu gerbong ahli dari perusahaan sebelumnya untuk mulai mendirikan Zoom.

Yuan memilih wilayah San Jose, California, Amerika Serikat, sebagai lokasi kantor pusat.

Meski demikian, ia juga memiliki tim peneliti dan pengembang di China.

Usahanya mengembangkan Zoom tidak mudah.

Setelah Zoom lahir, ia harus mencari klien yang mau menggunakan aplikasi tersebut.

Dengan cara persuasif, ia menghubungi setiap perusahaan yang mulai mempertimbangkan untuk menggunakan Zoom.

Namun tak jarang usahanya sia-sia.

Sebenarnya, nilai jual utama Zoom adalah sifatnya yang "netral".

Dia tidak terikat dengan platform tertentu, seperti FaceTime milik Apple, Hangouts milik Google, atau Skype milik Microsoft.

Bahkan, siapa pun bisa menggunakan Zoom meski ia tak memiliki akun.

Cukup dengan mengklik tautan yang diberikan oleh "host", semua orang dapat bergabung dalam sebuah video conference.

Belakangan, nilai jual ini justru menjadi bumerang bagi Zoom.

Banyak orang yang tak dikenal dapat masuk dengan leluasa dan mengganggu jalannya rapat. Gangguan tersebut kemudian dikenal dengan istilah "Zoombombing".

Popularitas Zoom yang kian meroket

Dirangkum dari pemberitaan Bloomberg, popularitas Zoom mulai menanjak saat pandemi Covid-19.

Eric Yuan, sukses besar berkat naik daunnya Zoom selama pandemi Covid-19.
Eric Yuan, sukses besar berkat naik daunnya Zoom selama pandemi Covid-19. (Kolase Tribunnews Medium/Zoom)

Meski tak sedikit pihak yang menentang penggunaan Zoom karena dinilai tidak aman.

Zoom terus berupaya memperbaiki sisi keamanannnya.

Baru-baru ini, Zoom menambahkan fitur enkripsi keamanan di platform-nya.

Namun, fitur keamanan enkripsi end-to-end di layanan konferensi video, Zoom hanya akan diberikan bagi pengguna Premium atau yang pelanggan yang membayar saja.

Zoom membatasi ketersediaan standar keamanan tersebut hanya untuk pelanggan berbayar, dengan tujuan untuk mencegah penyalahgunaan aplikasi.

Eric Yuan pun membeberkan alasan di balik kebijakan tersebut.

Yuan mengatakan bahwa kebijakan ini didasari dengan keinginan Zoom untuk bekerja sama dengan pihak penegak hukum.

"Kami tidak memberikan fitur keamanan itu kepada pengguna gratisan, karena kami ingin bekerja sama dengan FBI dan penegak hukum apabila terdapat penyalahgunaan aplikasi Zoom," kata Yuan dalam sebuah pernyataan.

Yuan pun mengaku tak pernah mengira Zoom menjadi infrastruktur yang paling dibutuhkan sejak awal pandemi Covid-19 hingga era new normal saat ini.

Baca: WhatsApp Web Akan Dibekali Fitur Mirip Aplikasi Telekonferensi Zoom, Ini Versinya

Baca: Saingi Zoom, Facebook Luncurkan Fitur Messenger Rooms, Bisa Lakukan Panggilan Video hingga 50 Orang

Berdasarkan trafik perusahaannya, pengguna aplikasi Zoom terus meningkat setiap hari.

Pada Desember 2019, jumlah penggunanya hanya mencapai 10 juta.

Kemudian pengguna Zoom semakin meningkat hingga mencapai 200 juta pengguna.

Peningkatan yang signifikan itu tidak pernah dibayangkan oleh Yuan.

Yuan sebelumnya hanya membayangkan aplikasi Zoom sebagai aplikasi konferensi video biasa yang bisa menjadi pilihan dari beberapa aplikasi semacamnya.

Karena itu, Yuan mulai tidak cukup tidur, dia hanya bisa tidur selama tiga sampai empat jam setiap harinya.

Setiap bangun tidur, Yuan langsung melanjutkan kerjanya dan memastikan server Zoom tidak kewalahan karena jumlah penggunanya yang membludak.

"Saya tidak pernah berpikir bahwa dalam semalam seluruh dunia akan menggunakan Zoom," kata Eric Yuan.

(Tribunnewswiki.com/Ris)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul  Saham Zoom Meroket, Nilainya Lampaui AMD.





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - The Period of

    The Period of Her adalah sebuah film drama
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved