TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sir Nicholas Soames, seorang cucu laki-laki dari eks Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill mengutuk aksi perusakan patung kakeknya.
Soames juga mengaku dirinya begitu kecewa atas aksi yang menurutnya sebagai tindakan vandalisme.
Kepada Daily Telegraph, Sabtu (13/6/2020), ia menyebut bahwa coretan kata 'rasis' di monumen tersebut menunjukkan betapa masyarakat Inggris telah 'kehilangan arah'.
"Saya melihat ini tak biasa ketika jutaan orang di seluruh dunia tercengang melihat patung Churchill dan Cenotaph, sebuah monumen perang nasional kita, bisa dirusak dengan cara menjijikan ini"
"Orang-orang (massa pendemo) tidak seharusnya melakukan ini, namun ada sekelompok orang, yang sangat, sangat kecil yang berusaha menunggangi demonstrasi dengan cara yang tak bisa dinalar dan sikap pengecut ini," kata Soames.
"Ini terasa seperti masyarakat kita sedang kehilangan kompasnya," imbuhnya.
Sepakat dengan Arahan Pejabat
Berkomentar ihwal kebijakan lokal dan nasional perihal aksi Black Lives Matter, Soames setuju dengan Wali Kota London, Sadiq Khan yang mengikuti saran polisi untuk menutup sejumlah patung-patung bersejarah demi mencegah amukan massa.
Ia juga mendukung seruan dan kecaman dari Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson atas aksi Black Lives Matter.
Sebelumnya, Boris Johnson sempat menyebut dirinya paham, "mengapa banyak orang merasa marah" atas apa yang terjadi di Amerika Serikat.
Namun demikian, petinggi Partai Konservatif Inggris ini mendesak orang-orang agar menjauh dari kerumunan massa dalam rangka mengurangi tingkat penyebaran virus corona..
Menurutnya, aksi tersebut hanya akan berakhir dengan kekerasan yang disengaja dan direncanakan.
Kekhawatiran Bentrok
Sebelumnya, Kepolisian Metro Inggris mengaku khawatir akan ada bentrokan antara massa Black Lives Matter dengan organisasi sayap kanan yang sama-sama akan menggelar unjuk rasa di London, Inggris pada Sabtu (13/6/2020).
Menindaklanjuti hal itu, pihak kepolisian memberlakukan pembatasan demonstrasi dengan memberi tenggang waktu hingga pukul 4 sore waktu setempat.
Bentrokan kedua belah pihak, oleh kepolisian dikhawatirkan akan membuat kondisi ibukota Inggris menjadi terancam, selain karena pembatasan corona.
Kendati terdapat kabar adanya penundaan di pihak massa Black Lives Matter, namun diperkirakan ribuan orang akan tetap datang ke London.
Komandan Bas Javid dari Kepolisian Metro Inggris mengaku paham "mengapa banyak orang ingin agar suaranya didengar",
Namun, ia memperingatkan kepada warga lainnya agar menjauh dari gerombolan massa.
Javid menyerukan arahan pemerintah Inggris agar tidak berkumpul dalam jumlah besar di tengah pandemi virus corona.