TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berbagai sektor di tanah air mulai mempersiapkan penerapan new normal di tengah pandemi Covid-19, tak terkecuali pesantren.
Pondok pesantren menjadi sorotan tersendiri mengingat rawan terjadi penumpukan massa.
Terkait hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap memberikan mitigasi dan sinergi agar bisa menerapkan protokol kesehatan secara baik, seperti diberitakan TribunJateng.com.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, menyorot isu air bersih yang ada di pesantren jelang penerapan new normal.
Baca: Seorang Perawat di Sragen Diancam setelah Periksa Pasien Covid-19, Ganjar Minta Pelaku Diusut
"Fasilitas apa yang bisa diberikan agar mereka tertib, tidak ada kerumunan besar di pondok. Ternyata problem-nya kebersihan, karena itu air menjadi isu. Saya kira ini menjadi penting untuk memberikan fasilitasi air bersih," kata Ganjar, Jumat (5/6/2020).
Ganjar mengatakan, idealnya tempat wudhu santri menggunakan air mancur.
"Wudunya harus (pakai air) mancur. Tidak boleh mengobok. Kemudian, dikasih sabun. Lha ini yang mesti disiapkan," jelasnya.
Keterangan Wagub Taj Yasin
Baca: Simak 19 Item New Normal di Lembaga Sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Terpisah, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menuturkan ada dua mekanisme inti yang harus dilakukan santri saat kembali ke pondok pesantren.
Dua hal itu antara lain, surat keterangan sehat dan wajib karantina 14 hari.
"Kemarin kami sudah rapatkan terkait draft pemberangkatan santri ke pondok pesantren. Kepulangan mereka ke pondok pesantren akan diurus alumni ponpes," kata Gus Yasin, dikutip TribunJateng.com.
"Sebelum berangkat mereka akan periksa kesehatan. Jika ada yang termasuk dalam kriteria OTG, PDP, ODP, atau bahkan Covid-19, tentu yang masuk dalam daftar riwayat itu tidak diperbolehkan berangkat ke pondok," jelasnya.
Jika berdasar pengecekan kesehatan tidak ada masalah, nama mereka akan didaftarkan ke Gugus Tugas di kabupaten/kota setempat untuk dimasukan dalam manifestasi perjalanan.
Hal itu karena keberangkatan mereka akan dilakukan secara kolektif atau bersama-sama dan diatur Dinas Pehubungan setempat.
"Setelah tiba di lokasi (pondok pesantren) Gugus Tugas di wilayah tersebut akan mengecek lagi kesehatan para santri," ucapnya.
Tak selesai di situ, Taj Yasin meminta pengasuh pondok pesantren di Jawa Tengah untuk mengkarantina seluruh santri yang masuk selama 14 hari.
Apabila pondok pesantren tidak memiliki tempat karantina yang memadai, maka bisa berkoordinasi dengan Satgas Jogo Tonggo di wilayah ponpes untuk menggunakan fasilitas lain di daerahnya.
Mereka bisa menempati tempat karantina yang kemarin sudah disiapkan di berbagai desa.
Pihak Ponpes juga bisa menggunakan fasilitas lain seperti gedung sekolah dan sebagainya.
Untuk penggunaan seperti masker, handsanitizer, dan sebagainya, ia meminta santri bisa menerapkannya sesuai arahan dari pemerintah pusat.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Nur)