Ahli Jepang Ingatkan Bahaya Penggunaan Masker untuk Anak di Bawah Dua Tahun, Ini Alasannya

bayi memiliki risiko relatif rendah terinfeksi Covid-19 dan asosiasi tersebut menyimpulkan bahwa masker tidak diperlukan untuk anak di bawah 2 tahun


zoom-inlihat foto
saluran-pernapasan-sakit-kabut.jpg
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
Siswa mengenakan masker gang dibagikan Petugas Taruna Siaga Bencana dalam Sosialisasi Kesehatan dan Pembagian Masker di SDN Gubuk Klakah I, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Rabu (6/1/2016). - Penyakit yang diakibatkan oleh kabut asap.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mengenakan masker menjadi semakin umum selama pandemi Covid-19, tetapi masker tidak boleh digunakan oleh anak-anak di bawah usia dua tahun, menurut Asosiasi Pediatrik Jepang .

Pedoman Covid-19 Jepang mendorong orang untuk memakai masker.

Tetapi badan medis memperingatkan orang tua untuk tidak mengenakannya pada bayi karena akan menyulitkan untuk melihat perubahan warna wajah, ekspresi dan pernapasan, katanya dalam selebaran.

selebaran masker jepang
Leaflet mengatakan masker tidak perlu untuk anak usia di bawah dua tahun (CNN)

"Ada kemungkinan bahwa masker menyulitkan bayi untuk bernapas dan meningkatkan risiko stroke panas," tulis selebaran itu.

Bayi memiliki saluran udara yang lebih sempit dan masker dapat membuatnya lebih sulit untuk bernapas, menambah beban pada paru-paru mereka, itu berlanjut.

Ada juga peningkatan risiko mati lemas, terutama jika anak kecil muntah di balik masker.

Baca: Rahasia Jepang Mampu Kalahkan Pandemi Virus Corona di Negaranya walaupun Tak Pedulikan Aturan

Dilansir oleh CNN, bayi memiliki risiko yang relatif rendah untuk infeksi virus corona dan asosiasi tersebut menyimpulkan bahwa masker tidak diperlukan untuk bayi di bawah dua tahun.

Covid-19 di Jepang

Pada hari Senin Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengumumkan pencabutan status darurat nasional.

Keadaan darurat pandemi virus corona diumumkan pada 7 April di seluruh Jepang, tetapi tidak ada paksaan hukum bagi warga yang melanggar.

PM Abe hanya meminta warga untuk tidak keluar rumah, sekolah diliburkan, dan bisnis yang tidak penting ditutup atau mengurangi jam beroperasi.

Namun, Abe memperluas larangan bepergian ke 111 negara yang berlaku Rabu (27/5/2020), sekarang termasuk Amerika Serikat, India, dan Afrika Selatan.

Daftar larangan diperluas oleh 11 negara minggu ini dan melarang warga negara asing yang tinggal di negara-negara tersebut dari memasuki Jepang.

Baca: Di Tengah Darurat Nasional Jepang, 18 Dokter Dilaporkan Terinfeksi Covid-19 Usai Makan Malam Bersama

Baca: Dulu Viral dan Dianggap Lelucon, Kini Masker Bra Berenda Dijual di Jepang, Laris dan Langsung Ludes

Warga Jepang masih diizinkan memasuki negara itu, meskipun mereka harus menjalani tes medis dan karantina sendiri selama 14 hari.

Jepang sekarang memiliki total 16.581 kasus yang dikonfirmasi dan 830 kematian terkait dengan coronavirus, menurut angka terbaru dari Universitas Johns Hopkins.

Enam minggu setelah terus menurunnya angka penularan, Pemerintah Jepang mencabut keadaan darurat di lima wilayah termasuk yang mencakup ibu kota Tokyo, Senin (25/5/2020) malam.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam konferensi pers di Kantor Perdana Menteri Jepang mendeklarasikan 1 bulan masa darurat Covid-19 di Tokyo dan 6 daerah lainnya, Selasa (7/4/2020).
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dalam konferensi pers di Kantor Perdana Menteri Jepang mendeklarasikan 1 bulan masa darurat Covid-19 di Tokyo dan 6 daerah lainnya, Selasa (7/4/2020). (AFP/POOL/TOMOHIRO OHSUMI)

PM Abe mengatakan, Jepang sudah menetapkan "kriteria paling ketat" di dunia mengenai keadaan darurat yang bisa dilonggarkan.

"Jepang tidak menetapkan kebijakan tidak keluar rumah disertai ancaman hukuman bagi pelanggar, setelah pernyataan keadaan darurat," kata Abe.

"Walau begitu, kami berhasil menangani penularan dalam waktu satu bulan setengah, dengan pendekatan yang unik. Ini menunjukkan kekuatan model Jepang," jelasnya.

PM Abe memperingatkan warga Jepang bahwa mereka harus mempersiapkan diri dengan kehidupan "new normal".

Dia mengatakan, warga harus menghindar dari tiga hal yakni ruangan tertutup, tempat kerumunan, serta kontak dekat dengan orang lain.

Dia menuturkan, mereka tidak boleh sampai menurunkan tingkat kewaspadaan.

Sebab, virus corona bisa kembali menghantam dengan cepat.

"Kita harus menciptakan gaya hidup baru. Mulai dari sekarang, kita harus mengubah cara berpikir kita," jelas Abe dalam konferensi pers.

Baca: Pertimbangkan Keselamatan dan Pendapatan, Industri Seks di Jepang Pilih Tetap Buka di Tengah Pandemi

Masing-masing kawasan di Jepang kini diperbolehkan untuk menerapkan aturan sendiri sesuai dengan keadaan di sana.

Di Tokyo, restoran dan bar diizinkan buka sampai pukul 22.00, sedangkan sekolah, perpustakaan, dan museum sudah boleh buka kembali.

Bila tingkat penularannya terus rendah dan stabil, teater, klab malam, karaoke, dan tempat-tempat pertunjukan musik boleh dibuka kembali.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi Jepang adalah memperbaiki perekonomian yang mengalami dampak parah karena pandemi.

Negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia ini sekarang secara teknis berada dalam keadaan resesi.

PM Abe mengatakan, pemerintahannya sedang mempersiapkan paket baru bantuan ekonomi senilai 1,5 triliun dollar AS (Rp 22.132 triliun) untuk membantu bisnis bangkit kembali.

(tribunnewswiki.com/Ami, Kompas.com)

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Melihat Cara Unik Jepang Tangani Virus Corona"





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved