TRIBUNNEWSWIKI.COM - Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menanggapi berbagai kritik yang diberikan Presiden Donald Trump terhadap lembaga yang ia pimpin.
Tedros memilih fokus pada tugasnya dan tak ingin membuang kesempatan yang ada
"Kami tidak membuang waktu," katanya pada sebuah briefing, Jumat (1/5/2020), diberitakan Aljazeera.
Komentar tersebut muncul dalam sebuah pertemuan komite darurat WHO untuk pertama kali, sejak deklarasi tiga bulan lalu.
Meski situasi belum bisa dikatakan membaik, Tedros mengatakan masih ada waktu untuk berusaha.
Baca: Mobil WHO Pembawa Sampel Uji Virus Corona Diserang, Pejabat Terluka dan Supir Meninggal Dunia
Baca: World Health Organization (WHO)
"Dunia punya cukup waktu untuk campur tangan."
"Tentu saja, pandemi tetap menjadi darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional."
Alih-alih untuk terus berdebat, ia meminta agar semua pihak dapat bekerja sama secara luas.
Kritik hingga Penghentian Pendanaan AS
Baca: Eks Wapres Barack Obama, Joe Biden Unggul atas Bernie Sanders dalam Primary Demokrat di Alaska, AS
Baca: Kim Jong Un Sumringah Saat Muncul Lagi ke Publik, Donald Trump: Senang Melihat Dia Kembali!
WHO memang mendapat banyak kritik terutama dari Presiden AS Donald Trump.
Dia menuduh badan kesehatan PBB itu salah mengelola pandemi.
Bahkan orang nomor satu di AS itu juga menyebut WHO memiliki peran dalam menutupi penyebaran virus setelah muncul di China.
Karenanya, menurut Trump, WHO harus bertanggung jawab.
"Saya mengarahkan pemerintahan saya untuk menghentikan pendanaan, sementara sebuah tinjauan dilakukan untuk menilai peran Organisasi Kesehatan Dunia dalam salah urus dan menutupi penyebaran virus korona," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Sebelumnya, Trump menuding WHO memiliki bias terhadap China.
Aksi trump ini mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk dari publik AS sendiri.
"WHO gagal dalam tugas dasarnya dan harus bertanggung jawab," tambahnya.
Padahal, Amerika Serikat adalah penyandang dana tunggal terbesar untuk WHO.
Tak tanggung-tanggung, pemerintah AS menganggarkan 400 juta USD (316 juta Euro) untuk WHO di tahun lalu.
"Dengan pecahnya pandemi Covid-19, kami memiliki keprihatinan mendalam apakah kemurahan hati Amerika telah dimanfaatkan sebaik mungkin," kata presiden.
Trump menuduh WHO tak bisa menilai virus ini dengan baik ketika pertama kali muncul di Wuhan.
"Seandainya WHO melakukan tugasnya untuk membawa para ahli medis ke China untuk menilai secara objektif situasi di lapangan dan untuk menyebut kurangnya transparansi China, wabah itu bisa saja tertahan di sumbernya dengan kematian yang sangat sedikit," katanya kepada wartawan.
"Ini akan menyelamatkan ribuan nyawa dan menghindari kerusakan ekonomi di seluruh dunia. Sebaliknya, WHO bersedia mengambil jaminan China untuk menghadapi nilai ... dan membela tindakan pemerintah China."
Namun, para koresponden menunjukkan bahwa Trump sendiri sempat memuji tanggapan China terhadap wabah tersebut dan meremehkan bahaya virus di dalam negeri.
Sebut Virus Buatan Lab Wuhan
Donald Trump menyebut virus itu adalah buatan China.
"Sudahkah Anda melihat sesuatu pada titik ini yang memberi Anda tingkat kepercayaan yang tinggi bahwa Institut Virologi Wuhan adalah asal dari virus ini?" kata seorang reporter kepada Trump di Gedung Putih, Kamis (30/4/2020) waktu setempat.
"Ya, sudah. Ya, sudah," kata presiden.
"Dan saya pikir Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) harus malu pada diri mereka sendiri karena mereka seperti agen hubungan masyarakat untuk China," jawab Trump.
Ketika dimintai klarifikasi atas komentarnya, Trump menjawab, "Saya tidak bisa memberi tahu Anda itu. Saya tidak diizinkan untuk memberi tahu Anda itu."
Mengenal Institut Virologi Wuhan, yang Disebut sebagai Sumber Virus
Institut Virologi Wuhan, yang didirikan pada 1950-an, menampung laboratorium dengan keamanan tingkat 4 pertama di China.
Laboratorium semacam itu menangani patogen paling berbahaya yang hanya ada sedikit vaksin, dan salah satu area yang dipelajari oleh fasilitas Wuhan adalah coronavirus dari kelelawar.
Dirancang dan dibangun dengan bantuan Prancis dengan biaya $ 44 juta (£ 35 juta), laboratorium dibuka pada tahun 2015.
Banyak stafnya dilatih di fasilitas serupa di kota Lyon, Prancis, berdasar laporan jurnal Nature.
Capaian ini menjadi prestisius bagi China, bisa memiliki laboratorium Biosafety Level 4 dengan tautan ke laboratorium serupa di seluruh dunia.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)