Megengan

Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta untuk menyambut bulan Ramadan.


zoom-inlihat foto
megengan3.jpg
kompas.com
Ilustrasi Tradisi Megengan

Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta untuk menyambut bulan Ramadan.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta untuk menyambut bulan Ramadan.

Tradisi ini juga sering kali disebut sebagai ritual mapag, yaitu menjemput awal bulan puasa.

Megengan berasal dari bahasa Jawa, yaitu kata megeng yang berarti ‘menahan’.

Megeng bermakna sebagai sebuah peringatan bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan.

Dalam berpuasa, umat Muslim diwajibkan untuk menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa. (1)

Baca: Padusan

  • Sejarah


Tradisi megengan merupakan hasil akulturasi budaya lokal dan budaya Islam.

Sebelum pulau Jawa kedatangan agama Islam melalui Walisongo, di zaman pemerintahan Majapahit telah didapati tradisi serupa yang disebut dengan “Ruwahan“.

Tradisi ini berkaitan dengan bulan Ruwah, yaitu bulan penanggalan Jawa yang bersamaan dengan bulan Sya’ban pada penanggalan Hijriyah.

Istilah Ruwah dimaknai sebagai arwah yang berarti roh, dalam hal ini adalah roh para leluhur dan nenek moyang.

Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, salah satu jalan dakwah yang dipakai adalah pendekatan budaya lokal.

Sunan Kalijaga yang menjadi salah satu dari kesembilan wali, adalah yang paling berperan dalam jalan dakwah tersebut.

Diyakini pula bahwa beliau yang pertama kali memperkenalkan tradisi megengan.

Dikisahkan, Sunan Kalijaga berdakwah pada masyarakat Jawa di pedalaman, terutama di daerah Jawa Timur dan Jawa tengah bagian selatan, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya.

Salah satunya adalah mengubah atau memodifikasi tradisi ruwahan menjadi tradisi megengan.

Biasanya sesajen dalam ruwahan biasanya dikhususkan untuk arwah dan tidak boleh dimakan.

Pada tradisi megengan sesajen tersebut diganti dengan sedekah makanan yang dibagikan dan dimakan bersama. (2)

Baca: Padusan

Baca: Nyadran

  • Pelaksanaan


Dalam Pelaksanaannya, tradisi megengan di berbagai daerah di Pulau Jawa tidaklah selalu sama dan setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam melestarikannya.

Namun, secara umum tradisi ini diwujudkan dalam upacara selamatan khas Jawa.

Ada tiga kegiatan yang biasa dilaksanakan pada tradisi megengan.

Pertama, melakukan mandi keramas yang bertujuan untuk mensucikan diri dalam menghadapi datangnya bulan suci Ramadan.

Kedua, berziarah ke makam orang tua dan leluhur, dengan tujuan untuk mendoakan, memohonkan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa atas dosa mereka atau mengingatkan pada diri sendiri bahwa lewat merekalah kita ada di dunia ini.

Terakhir, melakukan doa bersama dengan membagikan kue apem yang merupakan ungkapan dari rasa permintaan maaf secara tidak langsung kepada para tetangga kita.

Apem sendiri berasal dari kata afwum yang artinya meminta maaf, yang maksudnya untuk saling memaafkan dan mohon ampunan kepada Tuhan YME.

Tiap-tiap kepala keluarga akan mengundang para tetangga untuk bersama-sama menikmati hidangan khas tradisi megengan telah disiapkan.

Kegiatan terakhir tersebut akan dimulai dengan mekanisme doa yang dipimpin oleh seorang imam yang telah dipilih. (3)

Baca: Ramadan

(Tribunnewswiki.com/Ronna)



Nama Megengan
Asal Pulau Jawa
Pelaksanaan Mandi besar
Ziarah
Selamatan


Sumber :


1. kumparan.com
2. blogkulo.com
3. nursyam.uinsby.ac.id


Penulis: Ronna Qurrata Ayun
Editor: Ekarista Rahmawati Putri




ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved