TRIBUNNEWSWIKI.COM - Amerika Serikat tengah dilanda gelombang demonstrasi yang mendesak pemerintah untuk segera membuka lockdown.
Tindakan ini mendapatkan reaksi dari Gubernur Michigan, Gretchen Whitmer, seperti diberitakan BBC, Selasa (21/4/2020).
Gubernur dari Demokrat itu mendesak Gedung Putih untuk mengabil tindakan, agar demonstran mengindahkan perintah untuk menjaga jarak fisik dan tetap di rumah.
Bukan tanpa alasan, pasalnya demonstran tampak mengabaikan instruksi jaga jarak fisik.
Mereka berkerumun sembari membawa poster yang berisikan aspirasi pada pemerintah.
Bahkan, para pengunjuk rasa mengatakan pembatasan dalam upaya mengurangi penularan Covid-19 adalah sesuatu yang kejam.
Baca: Objek Wisata Ditutup karena Pandemi Covid-19, Penyu Mulai Berkembang Biak di Pantai Thailand
Baca: Korea Utara Terdampak Covid-19, Moon Jae In dan Donald Trump Setuju Berikan Bantuan Kemanusiaan
Whitmer mengatakan tindakan demonstran itu sangat berbahaya di tengah pandemi yang melanda dunia.
Ia menambahkan pemeritah harus menegaskan betapa pentingnya untuk tetap tinggal di rumah.
Gubernur North Carolina Roy Cooper, yang juga seorang Demokrat, menyerukan hal yang sama, meminta pemerintahan Trump "memberi tahu masyarakat bahwa penting bagi kita untuk mencapai ambang minimum ini, sebelum kita mulai mengurangi batasan".
Wakil Presiden Mike Pence, kepala satuan tugas coronavirus, berjanji kepada gubernur bahwa pemerintah akan melakukannya.
Lalu bagaimana dengan Trump?
Baca: Korea Utara Terdampak Covid-19, Moon Jae In dan Donald Trump Setuju Berikan Bantuan Kemanusiaan
Baca: China Jadi Negara Paling Awal Terkena Virus Corona, Donald Trump Sebut Harus Ada Konsekuensinya
Presiden Donald Trump tampaknya mendukung protes terhadap tindakan penguncian yang ketat.
Trump aspirasi untuk membuka negara di Minnesota, Michigan, dan Virginia "terlalu keras", Jumat (17/4/2020).
Bisa dibilang, apa yang disuarakan oleh para demonstran sejalan dengan apa yang direncanakan Trump.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat sudah melewati puncak pandemi Covid-19.
Orang nomor satu di AS itu memperkirakan beberapa wilayah bisa dibuka dari lockdown pada bulan ini.
Dia mengatakan pedoman mengenai pembukaan kembali baru akan diumumkan setelah ia berbicara dengan gubernur.
Hal itu disampaikan Trump dalam sebuah briefing harian di Gedung Putih, diberitakan BBC pada Rabu (16/4/2020).
"Kita akan menjadi anak-anak yang akan kembali, kita semua," kata presiden.
"Kami ingin mengembalikan negara kami."
Baca: Tak Hanya Donald Trump, Berbagai Tokoh Pertanyakan Peran WHO dan Sayangkan Kedekatan dengan China
Baca: Ilmuwan AS Klaim Virus Corona Bisa Menjadi Penyakit Musiman: Penting untuk Kembangkan Vaksin
"Data menunjukkan bahwa secara nasional, kami telah melewati puncak kasus baru," kata Trump kepada wartawan di Rose Garden, Rabu (16/4/2020) waktu setempat.
"Semoga itu akan terus berlanjut, dan kami akan terus membuat kemajuan besar."
Presiden mengatakan 3,3 juta Covid-19 tes telah dilakukan dan tes antibodi akan segera tersedia.
Perkembangan ini, katanya, "menempatkan kami pada posisi yang kuat untuk menyelesaikan pedoman bagi negara-negara yang dibuka kembali".
Pemerintahan Trump sebelumnya telah menulis pada 1 Mei sebagai tanggal yang memungkinkan untuk membuka kembali negara itu, tetapi presiden mengatakan beberapa negara mungkin dapat kembali ke keadaan normal lebih awal dari itu.
"Saya pikir itu akan menjadi saat yang sangat menyenangkan," katanya.
Trump mengutip masalah kesehatan mental, mengatakan hotline bunuh diri "melonjak" ketika ekonomi terhenti di tengah pandemi.
Memang jutaan orang Amerika telah kehilangan pekerjaan karena tindakan lockdown di seluruh negeri.
Sebelumnya, ia sempat membuat kehebohan pada hari Senin.
Pasalnya Trump mengatakan ia memiliki wewenang untuk membuka lockdown dan memulai kembali perekonomian, bukan gubernur negara bagian.
Namun, para ahli sepakat bahwa kewenangan itu menjadi tanggung jawab gubernur, yang dilaksanakan di bawah hukum AS.
Tak heran pada hari Selasa kemarin, Gubernur New York Andrew Cuomo menyebut Presiden Trump sebagai sosok yang 'suka mengajak berkelahi'.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)