Menurutnya, metode ini dapat memungkinkan pihak berwenang untuk mengukur penyebaran COVID-19 dengan lebih baik.
Komentar Sosiolog
Seorang Sosiolog, Geoffrey Pleyers mengatakan ada 'tragedi etika dan sosial manusia' yang tak terlihat berada di balik tembok-tembok belakang rumah panti jompo.
Konotasi Geoffrey Pleyers ini bermakna bahwa pemerintah Belgia fokus pada apakah rumah sakit memiliki kapasitas perawatan intensif dalam menangani pandemi.
"Berapa proporsi kematian yang dapat dihindari (tidak dimasukkan penghitungan) jika ada orang yang dirawat di rumah sakit" untuk penyakit lain, tanya Pleyers dalam opininya di surat kabar Le Soir.
Saat ini, pemerintah Belgia berencana menggandakan 10 kali jumlah tes virus corona di panti-panti jompo.
Namun demikian, Vincent Fredericq selaku Sekretaris Jenderal 'Fermabel' (panti jompo terkemuka untuk penduduk Belgia berbahasa Prancis) menyebut tes kit yang diberikan tidaklah cukup.
"Target 210.000 tes kit tidak cukup untuk menguji semua orang," kata Vincent.
Ia mengatakan bahwa layanannya merawat 160.000 penduduk di seluruh negeri dan mempekerjakan 110.000 staf yang menurutnya berpotensi terkena virus.
"Di wilayah Brussels, 95 persen penduduk menggunakan transportasi umum, baik metro, trem, atau bus, yang sayangnya merupakan tempat yang potensial (bagi orang) untuk terkena virus," tambahnya.
-
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)