TRIBUNNEWSWIKI.COM - Terjadi bentrokan antara warga dan polisi saat diberlakukannya lockdown di Afrika Selatan.
Bentrokan yang terjadi Selasa, (14/4/2020), ini melibatkan ratusan orang warga yang bertempur dengan polisi.
Ratusan warga yang dilaporkan marah dan lapar ini melempari batu dan membuat barikade dengan membakar ban di sepanjang jalan Mitchells Plain, kota Cape Town, Afrika Selatan
Merespons aksi tersebut, kepolisian Afrika Selatan menembakkan peluru karet dan gas air mata yang mengenai sejumlah demonstran.
Baca: Tuding WHO Menutupi Ancaman Virus Corona di China, Trump Akan Hentikan Pendanaan untuk WHO
Sebab turunnya ratusan warga di jalanan dilaporkan karena tidak terkirimnya paket bantuan makanan.
"Kami punya anak kecil. Kami ingin makan. Mereka juga harus makan," kata seorang ibu, warga Afrika Selatan, Nazile Bobbs.
"Mereka bilang kita akan mendapatkan paket makanan, mana buktinya? Sampai kapan kita terus di-lockdown?" ucapnya marah.
Perlu diketahui, Afrika Selatan saat ini sedang menerapkan lockdown selama 5 minggu untuk menahan penyebaran COVID-19.
Baca: New York Beri Sinyal Akan Cabut Lockdown COVID-19, Buka Kembali Bisnis dan Sekolah
Adapun kasus infeksi di Afrika Selatan sudah tembus angka 2.400 orang.
Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa sebelumnya berjanji untuk menyediakan kebutuhan pokok bagi warga.
Kebutuhan yang dimaksud seperti air mineral dan makanan untuk kalangan menengah ke bawah.
Baca: 16 Negara Ini Belum Laporkan Satu pun Kasus Covid-19, meski Corona Telah Menyebar di 185 Negara
Di negara yang pernah menyelanggarakan piala dunia ini, banyak warganya yang bekerja di sektor ekonomi informal.
Semua pekerja informal ini dilaporkan tidak dapat membuka usaha mereka dan terancam kehilangan pendapatan karena lockdown yang mulai berlaku pada 27 Maret.
Baca: Rata-Rata Infeksi COVID-19 di New York Menurun, Gubernur Andew Cuomo: Hal Terburuk Telah Berakhir
Sementara itu, seorang pemimpin masyarakat Afsel, Liezl Manual menyebut aksi yang terjadi merupakan respons 'frustasi dan keingintahuan' dari warga terkait paket bantuan makanan mereka.
Liezl menilai banyak warga keluar rumah didorong rasa lapar dan keinginan menagih janji yang pernah diberikan pemerintah.
"Saya pikir, Presiden Ramaphosa tidak melakukan sesuatu," kata seorang warga lainnya, Denise Martin.
Ia menambahkan,"(Pemerintah) lebih suka warganya mati karena virus corona daripada mati kelaparan di rumah-rumah kita."
Beberapa pejabat di Afrika Selatan dilaporkan mulai kewalahan akan lonjakan kebutuhan.
Baca: Penelitian di Prancis Ungkap Virus Corona Mampu Bertahan Lama dari Paparan Suhu Tinggi
Lembaga departemen pemerintah yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan makanan menyebut warga Afsel sangat membutuhkan bantuan.
"Banyak warga khususnya yang tak mampu sangat membutuhkan bantuan, sehingga beberapa dari mereka yang seharusnya tak memperolah makanan menganggap dapat bantuan dari kami," kata Busisiwe Memela-Khambula CEO SA Social Security Agency (Sassa), sebuah departemen pemerintah yang bertanggung jawab untuk mendistribusikan bantuan makanan
Departemen tersebut biasanya membantu para penyandang cacat, mereka yang tak mendapatkan jaminan sosial atau secara umum kalangan tak mampu di Afrika Selatan.
"Namun, sayangnya sekarang semua orang mengalami kesulitan," katanya di televisi lokal.
-
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)