TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebuah kota di Himalaya, tepatnya di Khumjung resmi ditutup untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.
Khumjung, sebuah kota perbukitan di Himalaya yang seharusnya ramai menjelang masuknya musim pendakian Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia, tutup mengikuti kebijakan negara Nepal yang menutup sejumlah spot wisata.
Tutupnya kota Khumjung ini mengancam mata pencaharian warga lokal sekitar yang dikenal dengan nama Sherpa / orang-orang Sherpa.
Baca: Fakta Erupsi Gunung Semeru, Status Waspada Level 2, Kondisi Masih Aman Terkendali
Belum Ada Kasus
Penutupan kota tempat pendakian Gunung Everest yang mempunyai tinggi 8.848 meter (29.029 kaki) ini dilakukan untuk mengantisipasi masuknya pandemi virus corona ke Nepal.
Kendati sementara tidak ada kasus yang dilaporkan di dalam kota tersebut, pegunungan Himalaya resmi ditutup.
Tutupnya Himalaya mencakup perbatasan dan perjalanan udara dari berbagai negara.
Baca: Masyarakat Tak Perlu Khawatir, Letusan Gunung Merapi Berskala Kecil, Tak Ada Awan Panas
Mengancam Mata Pencaharian
Sejumlah tali dan pick terlihat masih digantung di rumah-rumah di Khumjung yang memiliki atap batu berwarna hijau.
Hostel-hostel dan sejumlah kedai teh di wilayah yang sering digunakan para pendaki melakukan aklimatisasi (penyesuaian fisiologis / adaptasi terhadap suatu ketinggian tertentu) ini mulai kosong.
Seorang pemandu pendaki, Phurba Nyamgal Sherpa mengaku khawatir mata pencahariannya terancam.
Ia yang telah mendaki Gunung Everest dan gunung-gunung lain sejak berusia 17 tahun ini dilaporkan tidak mendapat permintaan dari para pendaki.
"Kami tidak pergi ke gunung karena kami harus melakukannya, itu (Everest( adalah satu-satunya pilihan kami untuk bekerja," kata Sherpa kepada AFP, Rabu (1/4/2020) di rumahnya di Khumjung, di mana ia tinggal bersama istrinya dan seorang putra berusia enam tahun.
Baca: Gunung Merapi Kembali Erupsi Disertai Luncuran Awan Panas Dua Kilometer
Bersama ratusan pemandu, porter pembawa barang, dan pekerja lainnya, nasib pekerjannya terancam.
Bagi para warga Sherpa dan para pekerja lainnya, aktivitas pendakian di Gunung Everest merupakan satu-satunya lumbung pemasukan mereka.
Sejumlah warga mengaku bahwa dirinya adalah tulang punggung keluarga.
Aktivitas pendakian Gunung Everest yang berlangsung dari April hingga akhir Mei ini merupakan pemasukan utama bagi para warga Sherpa.
Mereka mengaku bahwa pada periode tersebut, mereka dapat memberi makan keluarganya selama setahun penuh.
Setiap pemandu diperkirakan akan menghasilkan antara 5000 hingga 10.000 dollar selama periode pendakian tersebut.
Baca: Terkuak, Inilah Penyebab Ratusan Pendaki Tewas di Zona Kematian Menuju Puncak Everest
Kebijakan Nepal
Tercatat untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19, Nepal menangguhkan izin untuk semua pendakian gunung sejak 12 Maret 2020.
Sejumlah basecamp juga secara efektif menutup kegiatan pendakiannya.
Akibat kebijakan ini, kerugian ditaksir mencapai hampir 4 juta dollar, di mana satu izin pendakian Gunung Everest seharga 11.000 dollar.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)