TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sejak mewabah dan menjadi pandemi global, virus corona terus menjadi topik perbincangan.
Masyarakat tak henti mencari alternatif lain untuk bisa menghindari terserang Covid-19.
Satu diantaranya adalah adanya isu jika virus corona tidak tahan dengan cuaca panas.
Sehingga banyak orang mempercayai berjemur dapat membuat seseorang kebal dengan infeksi virus corona.
Isu tersebut telah dibantah oleh beberapa ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology seperti yang dikutip dari The New York Times.
Para imuwan mengungkapkan bahwa suhu panas mungkin memang bisa memperlambat penularan virus, tetapi bukan berarti kebal.
Baca: Update Pasien Virus Corona 24 Maret: 100.982 Pasien Sembuh,16.505 Meninggal, Total 378.601 Kasus
Baca: Virus Corona (Coronavirus)
Berjemur bisa tingkatkan imunitas tubuh jika dilakukan di saat yang tepat, kapan?
Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak asing dengan aktifitas rutin pagi hari, yaitu berjemur.
Berjemur dan mendapatkan cahaya matahari pagi dipercaya membawa banyak manfaat bagi tubuh.
Biasanya, banyak orang mulai berjemur sekitar pukul 07.00 pagi.
Pertimbangannya adalah pada saat tersebut sinar matahari belum terlalu terik dan tidak akan membakar kulit.
Namun, ternyata anggapan tersebut keliru.
Dikutip dari Kompas.com, berjemur justru lebih baik dilakukan sedikit siang dari pukul 07.00 pagi.
Lebih tepatnya pada pukul 10.00 pagi.
Mengapa pukul 10.00 pagi?
Berjemur kurang dan atau lebih dari pukul 10.00 pagi dikatakan tidak akan banyak mendatangkan manfaat.
Sebaliknya berjemur pada saat tersebut justru memiliki risiko gangguan kesehatan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ahli Gizi Komunitas dr. Tan Shot Yen melalui sebuah video di akun YouTube miliknya.
Waktu yang tepat untuk menjemur badan di bawah sinar matahari adalah sekitar pukul 10.00, bukan lebih pagi dari itu.
Hal tersebut lantaran gelombang matahari yang dibutuhkan oleh tubuh adalah jenis Ultraviolet B yang muncul ketika matahari berada di posisi lebih tinggi.
"Yang kita butuhkan sebetulnya adalah ultraviolet B. Ultraviolet B ini gelombangnya lebih pendek. Jadi itu sebabnya kita harus tunggu sedikit mataharinya naik. Jadi kita di khatulistiwa, jam 10 sudah ada. Jadi itu adalah alasan kita jemurnya jam 10.00," kata Tan.
Dilakukan hanya 10-20 menit saja
Tak hanya soal kapan waktu yang tepat, Tan juga mengungkap durasi berjemur yang paling baik.
Menurut Tan, berjemur cukup dilakukan selama 15-20 menit saja.
Mengingat pada pukul 10.00 pagi matahari memang sudah cukup terasa menyengat di kulit.
Tan juga mengatakan, semakin banyak permukaan kulit yang terpapar sinar matahari maka semakin baik pula manfaat yang akan di dapatkan.
Manfaat berjemur di waktu dan durasi yang tepat
Tan menyampaikan beberapa manfaat baik yang akan didapatkan tubuh jika rutin berjemur di waktu dan durasi yang tepat.
Bagi perempuan berkerudung, Tan mengimbau sebaiknya berjemur dilakukan di rumah agar ultraviolet B yang dicari dapat secara langsung mengenai permukaan kulit.
Dr Tan juga menjelaskan, ultraviolet B yang dari sinar matahari di pukul 10.00 akan bekerja sama dengan kolesterol yang ada di bawah permukaan kulit untuk membentuk Vitamin D3.
"Jadi ultraviolet B yang mengandung pro-vitamin B3 bersama kolesterol di bawah kulit kita akan membentuk vitamin D3. Nah, vitamin D3 inilah menjadi sumber kekebalan tubuh manusia," terang Tan.
Selain itu, Vitamin D3 juga berfungsi untuk mencegah kanker dan mencegah penyakit autoimun.
Dalam video tersebut, Tan menegaskan berjemur matahari bukanlah untuk mematikan virus atau bakteri yang ada di dalam tubuh atau di permukaan kulit.
Meelainkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh agar tidak mudah terserang virus.
"Cahaya matahari enggak matiin virus. Kalau memang virusnya ada, tetep aja ada. Tetapi cahaya matahari mengandung ultraviolet B," ujar Tan.
Bahaya berjemur di waktu dan durasi yang tidak tepat
Tan juga menerangkan beberapa bahaya jika seseorang berjemur pada waktu dan durasi yang tidak tepat.
Tan menjelaskan berjemur pada sekitar pukul 07.00 justru berbahaya bagi kesehatan.
Pada saat tersebut, diterangkan oleh Tan matahari tengah mengeluargan gelombang ultraviolet A yang justru bisa menimbulkan kanker serta keriput pada kulit.
"Masih jam 7 pagi, jam 6, jam setengah 6, sudah ada matahari. Cahaya matahari bernama gelombang ultraviolet A itu bisa masuk ke permukaan bumi. Nah, ultraviolet A ini yang hendak kita hindari justru, karena menyebabkan kanker dan kita tengarai menyebabkan keriput," tukasnya.
Pendapat serupa juga diungkapkan peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan di California, William B. Grant.
Menurut Grant, sinar ultraviolet A berperan penting dalam meningkatkan risiko melanoma dibandingan dengan ultrabiolet B.
Melanoma adalah salah satu jenis kanker yang menyerang kulit.
Sehingga ketika matahari berada di langit bagian bawah yang berbatasan dengan permukaan bumi atau laut, sinar matahari yang dipancarkan hanya ultraviolet A dan sedikit ultraviolet B.
"Waktu terjadinya kira-kira sekitar awal pagi hari atau sore menjelang malam hari," jelas Grant.
Baca: Ilmuwan Sebut Pengaruh Cuaca Panas Terhadap Covid-19: Hanya Memperlambat, Tidak Hentikan Penularan
Baca: Benarkah Cuaca Panas dan Sinar Matahari di Indonesia Bisa Cegah Virus Corona? Ini Penjelasan WHO
Baca: Waspada, Membungkus Makanan Panas dalam Kantong Plastik Bisa Picu Kanker Mematikan bagi Perempuan
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi, KOMPAS/Luthfia Ayu Azanella)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Manfaat Ultraviolet B untuk Imunitas, Berjemur Sebaiknya Dilakukan di Jam-jam Ini..."