TRIBUNNEWSWIKI.COM - Setelah ngotot tak ada kasus virus corona di Korea Utara, Kim Jong Un ketahuan buat rumah sakit darurat khusus virus corona.
Korea Utara merupakan negata yang paling menutup diri di dunia.
Saking tertutupnya, informasi tentang penyebaran virus corona pun hingga sekarang tak diketahui.
Banyak orang yang bertanya-tanya tentang adanya kasus di negara komunis tersebut.
Hal tersebut karena hingga saat ini, Korea Utara masih mengaku bahwa negara mereka bersih dari Covid-19 ini.
Bahkan pemimpinnya, Kim Jong Un juga masih ngotot bahwa negaranya tak ditemukan kasus virus corona.
Namun kejanggalan demi kejanggalan mulai terkuak.
Baca: Ngaku Bersih dari Virus Corona, Kini Hampir 200 Tentara Korea Utara Dilaporkan Tewas Akibat Tertular
Baca: Takut Wabah Corona, Korea Utara Peringatkan Bakal Tembak Mati Warga China yang Langgar Perbatasan
Di antaranya adalah Korea Utara secara tiba-tiba menutup perbatasannya.
Kemudian mereka juga mengkarantina ribuan tetara dan orang asing hingga sebulan penuh, hingga rumor yang menyebut 180 tetaranya tewas akibat virus corona.
Seperti dilansir oleh Daily Mirror, Korea Utara dilaporkan membangun rumah sakit darurat khusus virus corona.
Sementara menurut laporan resmi negara tersebut, mereka tidak memiliki kasus virus corona.
Lantas untuk apa rumah sakit tersebut dibangun?
Dalam sebuah pidato, yang dirinci oleh propaganda negara, sang diktator Kim mengaku bahwa proyek tersebut dibangun untuk merayakan 75 tahun sejak partai yang berkuasa.
Rumah sakit tersebut dibangun dan telah disepakati pada pertemuan beberapa bulan lalu.
Mereka secara samar-samar mengaku rumah sakit itu hanya digunakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Kim tidak mau mengakui pandemi tersebut telah menyerang Korea Utara.
Menurut Kim, rumah sakit itu sebuah upaya mendesak, untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, bahwa kondisinya buruk dan banyak kesulitan di depan.
Dia juga menuntut bahwa rumah sakit itu harus siap sedia, secepat mungkin untuk segera digunakan.
Dalam foto yang beredar, ada upacara peletakan batu pertama yang menunjukkan rumah sakit itu, dibangun dekat dengan Yayasan Partai Buruh, di dekat Sungai Taedong, Pyongyang.
Namun, ungkapan bahwa rumah sakit itu untuk kepentingan kesejahteraan umum dibantah oleh Robert Adams, seorang Jenderal AS.