TRIBUNNEWSWIKI.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja membocorkan empat nama calon pemimpin ibu kota baru.
Dilansir oleh Tribunnews.com, keempat nama yang akan menjadi calon kepala Otoritas Ibu Kota Negara (IKN) yakni Bambang Brodjonegoro, Basuki Tjahaja Purnama, Tumiyana, dan Abdullah Azwar Anas.
"Yang namanya kandidat ya memang banyak. Satu, Pak Bambang Brodjo (Brodjonegoro). Dua, Pak Ahok. Tiga, Pak Tumiyana. Empat, Pak Azwar Anas," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/3/2020).
Berbeda dengan daerah lain, ibu kota baru akan dikelola khusus oleh sebuah badan otorita.
Pemimpin otorita ditunjuk dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
Kemudian, untuk menunjuk Kepala Badan Otorita IKN ini Jokowi akan menandatangani Perpres.
Menurutnya, Perpres diperkirakan akan keluar pada minggu ini.
"Jadi untuk namanya otorita ibu kota negara ini memang kita akan segera tanda tangani Perpres. Di mana nanti di situ ada CEO-nya. CEO-nya sampai sekarang belum diputuskan dan akan diputuskan dalam waktu minggu ini, tidak lama mungkin," ujar Jokowi seperti dikutip dari Kompas.com.
Baca: Banjir Kepung Ibukota, Sosok Ini Beri Pujian Untuk Gubernur Jakarta, Sebut Kinerja Anies Lebih Baik
Baca: 2 Orang Warga Depok Positif Terinfeksi Virus Corona, Jokowi: Kita Tidak Perlu Terlalu Ketakutan
Berikut profil singkat empat kandidat CEO Otoritas KIN yang diumumkan Jokowi:
1. Azwar Anas
Azwar Anas merupakan Bupati Banyuwangi yang menjabat dua periode sejak tahun 2010.
Namanya juga sempat masuk bursa Cawagub Jawa Timur mendampingi Gus Ipul di Pilkada Jatim.
Kiprah politiknya dirintis dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan terpilih menjadi anggota DPR pada pemilu tahun 2004 dari daerah pemilihan Jatim III yang meliputi Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.
Di pemilu selanjutnya, Azwar berusaha lagi ke Senayan, namun usahanya kandas karena tak memperoleh cukup suara.
Gagal menuju parlemen, Azwar lantas mencoba peruntungan dengan menjajal pemilihan Bupati Banyuwangi dengan menggandeng Yusuf Widyatmoko sebagai pasangannya.
Dia akhirnya terpilih jadi bupati di tahun 2010.
Di kepemimpinannya sebagai Bupati Banyuwangi inilah namanya mulai banyak dikenal.
Program paling menonjolnya yakni pembangunan ekonomi Banyuwangi dengan menggenjot sektor pariwisata dengan menggelar event-event besar untuk promosi ke turis asing dan domestik.
Dia dianggap sukses mengubah wajah pariwisata lewat sejumlah event seperti Tour de Ijen, Banyuwangi Festival, Banyuwangi Ethno Carnival, dan Banyuwangi Jazz Festival.
Baca: Jokowi Jamin Ibu Kota Baru RI Bebas Banjir dan Macet : Tidak Ada di Dunia yang Seperti Ini
Baca: Mantan PM Inggris hingga Putra Mahkota UEA Jadi Dewan Pengarah Ibu Kota Baru, Apa Imbalannya?
Sebelum terjun ke birokrasi, Bambang Brodjonegoro merupakan akademisi tulen.
Dirangkum dari kemenkeu.go.id, Brodjonegoro lahir di Jakarta pada tanggal 3 Oktober 1966.
Dirinya menempuh pendidikan sarjana di bidang Ekonomi Pembangunan dan Ekonomi Regional pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1985-1990.
Kemudian dirinya melanjutkan pendidikan di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, dan meraih gelar Master pada tahun 1995.
Sedangkan gelar Ph.D diraih dari universitas yang sama pada Agustus 1997.
Brodjonegoro merupakan akademisi tulen, karirnya dihabiskan sebagai dosen di almamaternya, Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi dosen tamu pada The Department of Urban and Regional Planning, University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, pada bulan November 2002.
Di tahun 2005 hingga 2009 dirinya ditunjuk sebagai Dekan FE-UI.
Kemudian menjadi Director General Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank hingga tahun 2011.
Pada tanggal 27 Oktober 2014, Jokowi melantik Brodjonegoro sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Kerja Tahun 2014 sampai dengan 2016.
3. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Dikutip dari Pertamina.com, Basuki Tjahaja Purnama atau dikenal sebagai Ahok kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) tercatat pernah menggeluti tambang sebagai Kontraktor di PT. Timah Persero.
Sedangkan karier politiknya dimulai saat dirinya menjadi Anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode (2004), Bupati Belitung Timur periode (2005) dan Anggota DPR RI (2009).
Baca: WHO Sebut Uang Kertas Jadi Benda yang Bisa Tularkan Virus Corona, Ini Daftar Benda Lainnya
Baca: Pemprov DKI Jakarta Restok 1,450 Boks Masker, Dijual 6,500 Per Lembar: Harga Perolehan Memang Naik
Karier politiknya makin melejit setelah dipinang Gerindra untuk mendampingi Jokowi pada Pilgub DKI Jakarta.
Ahok kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Jokowi yang terpilih menjadi presiden.
Sayangnya, saat pencalonannya sebagai Gubernur DKI, dirinya kalah dari Anies Baswedan.
Bahkan, Ahok sempat mendekam sebagai narapidana di Mako Brimob setelah terjerat kasus tuduhan penistaan agama.
Namanya kembali menjadi sorotan setelah ditunjuk menjadi Komisaris Utama Pertamina.
4. Tumiyana
Saat ini, pria kelahiran Klaten, 10 Februari 1965 tersebut menjabat sebagai Komiasaris PT Kereta Cepat Indonesia China (2018-sekarang).
Sebelumnya, Tumiyana pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan - PT PP (Persero) Tbk. (2008 - 2016), dan Direktur Utama - PT PP (Persero) Tbk. (2016 - April 2018)
Tumiyana diangkat pertama kalinya sebagai Direktur Utama Wika sejak keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan Tahun Buku 2017.
Rapat tersebut diselenggarakan pada tanggal 24 April 2018, berdasarkan Akta Keputusan RUPS Tahunan Nomor 94 Tanggal 26 April 2018.
Selain itu, Tumiyana juga dikenal sebagai pengusaha di sector peternakan dan memiliki sebuah peternakan sapi besar di Klaten.
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy, Tribunnews.com/Endra Kurniawan, Kompas.com)