Fajar Nugros

Fajar Nugros adalah seorang Sutradara juga Aktor yang telah menelurkan lebih dari 15 film hingga tahun 2020, salah satunya adalah film Yowis Ben 2 dan Dignitate.


zoom-inlihat foto
fajar-nugros1.jpg
Instagram/@fajarnugrs
Fajar Nugros Sutradara Indonesia asal Yogyakarta

Fajar Nugros adalah seorang Sutradara juga Aktor yang telah menelurkan lebih dari 15 film hingga tahun 2020, salah satunya adalah film Yowis Ben 2 dan Dignitate.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Fajar Nugroho atau yang lebih dikenal dengan nama Fajar Nugros adalah seorang sutradara sekaligus aktor Indonesia asal Yogyakarta.

Pria kelahiran Yogyakarta, 29 Juni 1979 ini memiliki hobi menulis atau mengarang sejak duduk di bangku Sekolah Dasar.

Sutradara ini terjun ke dalam industri film melalui hobi menulisnya.

Hingga kini, Fajar telah menelurkan lebih dari 15 film layar lebar, di antaranya adalah Cinta Brontosaurus, Refrain, Adriana, Yowis Ben, dan Yowis Ben 2.

Fajar juga pernah mendapatkan penghargaan dari Festival Film Bandung sebagai Sutradara Terpuji untuk film besutannya yang berjudul Adriana. (1)

Baca: Riri Riza

Baca: FILM - Yowis Ben (2018)

  • Perjalanan Karier #


Lelaki yang berasal dari Yogyakarta ini sejak duduk di Sekolah Dasar telah menjuarai beberapa lomba, di antaranya lomba azan, kaligrafi, dan mengarang.

Fajar hobi mengarang, ia aktif mengirim cerita pendek hasil tulisannya pada surat kabar harian di Yogyakarta yang bernama Bernas.

Saat duduk di bangku Sekolah Mennegah Atas dan Perguruan Tinggi, ia mengikuti lembaga pers agar bisa membuat cerita pendek dan cerita bersambung.

Keinginan Fajar menjadi seorang sutradara terbesit ketika ia menonton dilm pendek milik Ifa Isfansyah yang berjudul Air Mata Surga.

Sejak saat itu, Fajar berpikir untuk membuat film pendek meski hanya menggunakan handycam.

Fajar akhirnya belajar bersama komunitas film di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sutradara ini sempat membuat 5 hingga 6 film documenter yang ia ikutkan dalam ajang Eagle Awards Metro TV.

Fajar sempat merasa tidak percaya diri karena merasa orang-orang dari generasinya, seperti Yosep Anggi Noen, dinilai memiliki standar tinggi.

Akhirnya untuk lebih mengenal dan belajar tentang dunia film, Fajar hijrah ke Jakarta mengikuti kakak kelasnya, Hanung Bramantyo.

Meskipun mendalami film, Fajar tetap melanjutkan hobi menulis cerita pendek.

Fajar telah memiliki 300 cerita pendek yang diunggah ke akun media sosialnya, Multiply, dan beberapan cerpen miliknya berakhir ke layar lebar.

Fajar mendapatkan ide menulis dari mana saja, sebagian besar dari bengong-bengong saat menunggu.

Selain itu, Fajar pada awalnya juga tidak menggunakan laptop, karena laptop belum banyak pada saat itu.

Fajar belajar dan mengetahui tentang seluk beluk dunia film dari sutradara Hanung Bramantyo, Hanung mengajarkannya soal teknis dan perihal lainnya yang berhubungan dengan Sutradara yang tidak bisa didapatkan saat sekolah formal.

Baca: FILM - Sabtu Bersama Bapak (2016)

Baca: FILM - Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2019)

Hingga kini, Fajar telah berhasil menyutradarai lebih dari 15 film, meskipun harus memulai karier sutradaranya dengan jalan berliku.

Saat menyutradarai film Queen Bee di tahun 2009, film garapan Fajar tersebut tidak sukses, padahal budget yang dikeluarkan cukup fantastis.

Hanung menilai Fajar masih belum siap secara mental dan pengetahuan, akhirnya Fajar kembali menjadi asisten Hanung.

Saat itu Hanung sedang menggarap film Sang Pencerah dan Tanda Tanya(?).

Tiga tahun kemudian, Fajar kembali menyutradarai film yang berjudul Cinta di Saku Celana.

Awalnya, Cinta di Saku Celana adalah Film Televisi (FTV), saat itu produser Chand Parvez Servia memuji cerpennya dan mengajaknya untuk membuat FTV.

Namun, Fajar akhirnya membujuk Chand Parvez untuk menjadikan cerpennya menjadi film layar lebar.

Keadaan itu dijadikannya sebagai ajang unjuk gigi agar kemampuannya dilihat, mulai dari mengubah treatment filmnya hingga mengajak aktor dan aktris yang ia kenal dari Hanung, untuk membantunya menyampaikan apa yang ia mau.

Akhirnya, film itu dipertimbangkan untuk rilis sebagai film layar lebar.

Sejak saat itu, tawaran-tawaran untuk membesut berbagai film mulai menghampiri Fajar.

Namun, tidak semua tawaran film diambilnya karena tidak semuanya sesuai dengan dirinya. (2)

  • Filmografi #


Film Layar Lebar

  • Dignitate (2020)
  • MeloDylan (2019)
  • Yowis Ben 2 (2019)
  • Generasi Micin (2018)
  • Terbang: Menembus Langit (2018)
  • Yowis Ben (2018)
  • Moammar Emka's Jakarta Undercover (2017)
  • Gangster (2015)
  • Cinta Selamanya (2015)
  • 7 Hari 24 Jam (2014)
  • Bajaj Bajuri the Movie (2014)
  • Refrain (2013)
  • Cinta Brontosaurus (2013)
  • Cinta di Saku Celana (2012)
  • Queen Bee (2009)

TV Mini Series

  • Irreversible Destiny (2019)
  • The New Chapter of Destiny (2019)
  • Destiny Will Find Its Own Way (2019)
  • Chasing the Destiny (2019)
  • Distressing Destiny (2019)
  • The Dark Knight of Destiny (2019)
  • Fall in Love is Destiny (2019)
  • Escape From Destiny (2019)
  • Optional Destiny (2019)
  • Facing the New Destiny (2019)
  • Avoid the Destiny (2019)
  • Restart the Destiny (2019)
  • Broken Dreams (2019) (3)

(TribunnewsWiki.com/Ron)



Nama Fajar Nugroho
Lahir Yogyakarta, 29 Juni 1979
Pekerjaan Sutradara & Aktor
Penghargaan Sutradara Terpuji Festival Film Bandung 2014
Instagram @fajarnugrs


Sumber :


1. filmindonesia.or.id
2. kumparan.com
3. www.imdb.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - My Blackberry Girlfriend

    My Blackberry Girlfriend adalah sebuah film drama komedi
  • Film - Teman Tegar Maira:

    Teman Tegar Maira: Whisper form Papua adalah sebuah
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved