Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika asam lambung sering mengalir kembali ke tabung yang menghubungkan mulut dan perut (kerongkongan).


zoom-inlihat foto
gerddd.jpg
millbasindoctor.com
GERD atau Gastroesophageal reflux disease.

Gastroesophageal reflux disease (GERD) terjadi ketika asam lambung sering mengalir kembali ke tabung yang menghubungkan mulut dan perut (kerongkongan).




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - GERD atau Gastroesophageal reflux disease adalah gangguan pencernaan akibat asam lambung yang naik ke esofagus (refluks). (1)

GERD dapat membuat penderita merasa mual bahkan muntah dan juga dada terasa panas seperti terbakar (heartburn).

Penyakit GERD dapat terjadi ketika ada gangguan pada katup (sphincter) bagian abwah esofagus.

Dalam kebanyakan kasus, GERD dapat dihilangkan melalui perubahan pola makan dan gaya hidup.

Namun, beberapa orang mungkin memerlukan obat atau operasi.

Baca: Obsessive compulsive disorder (OCD)

Refluks yang sering atau konstan dapat menyebabkan penyakit refluks gastroesofageal (GERD).
Refluks yang sering atau konstan dapat menyebabkan penyakit refluks gastroesofageal (GERD). (mayoclinic.org)

  • Ciri-ciri dan Gejala #


Berikut ini ciri-ciri dan gejala GERD :

1. Rasa terbakar di dada (heartburn). Bahkan, sampai menyebar sampai ke tenggorokan, bersama dengan rasa asam di mulut. (2)

2. Dada terasa nyeri.

3. Kesulitan menelan (disfagia).

4. Batuk kering.

5. Suara serak atau sakit tenggorokan.

6. Susah menelan.

7. Mual atau muntah.

8. Gangguan tidur pada malam hari.

9. Sering bersendawa. (3)

10. Bau mulut.

11. Kerusakan gigi.

  • Faktor Risiko #


Terdapat berbagai faktor risiko bagi penderita GERD, sebagai berikut :

  • Obesitas (4)
  • Mengalami masalah pada jaringan ikat
  • Ada tonjolan di perut bagian atas yang bisa naik sampai ke diafragma
  • Pengosongan lambung yang tertunda
  • Kehamilan
  • Merokok
  • Mulut kering
  • Asma
  • Diabetes melitus
  • Hernia hiatus

  • Pencegahan #


1. Menurunkan berat badan. (5)

2. Tidak merokok.

3. Meninggikan kepala saat tidur.

4. Jangan tidur atau berbaring setelah makan, setidaknya hingga waktu 2 hingga 3 jam setelah makan.

5. Hindari makanan dan minuman yang memicu asam lambung naik, seperti alkohol, susu, kopi, makanan pedas dan mint.

6. Hindari atau tidak memakai pakaian ketat.

  • Pengobatan #


1. Antasida

Obat antasida dapat menetralisir asam yang ada di perut. (6)

Namun, konsumsi obat antasida tidak dapat langsung memulihkan kerongkongan akibat asam lambung.

Selain itu, terlalu sering meminum obat antasida dapat menimbulkan efek samping seperti diare, sembelit, serta gangguan ginjal.

2. H2-receptor blocker

Obat-obatan dalam kategori H2-receptor seperti cimitidine, famotidine, nizatidine, dan ranitidine.

Obat-obatan tersebut bertujuan untuk mencegah serta menghambat sekresi asam lambung.

Obat H2-receptor blocker dapat membantu mengurangi produksi asam lambung dalam waktu yang cukup lama, yakni hingga 12 jam.

3. Proton pump inhibitors (PPIs)

Nama lainnya Inihibitor pompa proton, merupakan obat yang melakukan hambatan pada pompa ion di lambung sehingga produksi asam lambung dapat dikurangi.

Kinerja obat ini lebih kuat dan memberikan waktu bagi jaringan esofagus yang rusak untuk memperbaiki diri.

4. Penguat Sfingter

Obat untuk memperkuat tekanan sfingter esofagus bagian bawah yaitu Baclofen.

Obat ini mampu menurunkan frekuensi relaksasi dari sfingter esofagus bagian bawah.

(TRIBUNNEWSWIKI/Afitria)



Nama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
Penyakit Pencernaan
   


Sumber :


1. www.healthline.com
2. www.webmd.com
3. www.alodokter.com
4. www.honestdocs.id
5. hellosehat.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved