Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Kabupaten Grobogan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah.
Ibu kotanya adalah Purwodadi.
Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap, dan berbatasan langsung dengan 9 kabupaten lain.
Letak astronomis wilayah antara 110° 15' BT – 111° 25' BT dan 7° LS - 7°30’ LS, dengan jarak bentang dari utara ke selatan ± 37 km dan dari barat ke timur ± 83 km.
Etimologi #
Asal mula daerah itu disebut grobogan menurut cerita tutur yang beredar di daerah Grobogan, suatu ketika pasukan kesultanan Demak di bawah pimpinan Sunan Ngundung dan Sunan Kudus menyerbu ke pusat kerajaan Majapahit.
Dalam pertempuran tersebut pasukan Demak memperoleh kemenangan gemilang.
Runtuhlah Kerajaan Majapahit.
Ketika Sunan Ngundung memasuki istana, dia menemukan banyak pusaka Majapahit yang ditinggalkan.
Benda-benda itu dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam sebuah grobog, kemudian dibawa sebagai barang boyongan ke Demak.
Di dalam perjalanan kembali ke Demak, grobog tersebut tertinggal di suatu tempat karena sesuatu sebab, tempat itulah yang kemudian disebut Grobogan.
Grobog juga adalah tempat menyimpan senjata/barang pusaka, wayang, perhiasan, dan sebagainya.
Peristiwa tersebut sangat mengesankan hati Sunan Ngundung, sebagai kenangan, tempat tersebut di beri nama Grobogan, yaitu tempat grobog tertinggal.
Sejarah #
Untuk wilayah yang sekarang bernama Kabupaten Daerah Tingkat II Grobogan, dalam menetapkan Hari Jadinya didasarkan pada kapan terciptanya pemerintahan lokal Kabupaten di Grobogan pada masa dahulu.
Dalam sejarah Jawa, jabatan Bupati adalah Bupati Prajurit.
Sebutannya Adipati.
Tugasnya : menyediakan prajurit dan tenaga untuk raja dan kerajaan. Maka Bupati ini harus bertempat tinggal di Khutogoro.
Di samping tugas tersebut, maka dia harus pula menyediakan kebutuhan istana, orang aneh, kain-kain, dan sebagainya.
Sebagai pemimpin dari beberapa Bupati tersebut diangkat Bupati Nayoko atau Wedono Bupati Sepuh (Serat Adhel : 11-13) Bupati jenis ini memiliki wilayah yang pasti dan sistem pemerintahan yang tetap.
Misalnya pada zaman kerajaan kita ketahui adanya Bupati Panekar, Bupati Numbak Anyar, Bupati Bumi Gede, Bupati Penumping, dan sebagainya.
Setelah sistem administrasi wilayah dikembangkan menurut pola administrasi Barat (Belanda), maka pada Tahun 1840 dikeluarkan Serat Angger-Anggeran Nagari atau Serat Angger Gunung, yang mengatur tata tertib dan pemerintahan di daerah pedesaan.
Untuk pengamanan wilayah maka diadakan pos penjagaan (keamanan sepanjang jalan lalu-lintas utama antara Surakarta-Semarang dan Surakarta-Yogyakarta-Semarang.
Nama pos penjagaan itu adalah Pos Tundan, yaitu sebagai tempat penjagaan daerah tersebut.
Sedang di daerah Gubernermen juga mulai ditertibkan pembentukan Regenschap atau Kabupaten Administratip.
Kemudian pembentukan Pos Tundan itu ditingkatkan lagi dengan pembentukan Kabupaten Gunung Polisi berdasarkan Staatsblad 1847 no. 30 dan kelengkapannya melalui Staatsblad van Ned. Indie 11854 no. 32.
Sampai di sini tugas seorang Bupati masih sebagai Bupati Prajurit dan Kepala Pengadilan Wilayah yang bertindak sebagai Polisi Daerah.
Kemudian Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatblad van Ned. Indie, 30 September 1918 No. 14 tentang status Bupati Staatblad ini kemudian diikuti keluarnya Rijksblad Surakarta, 12 Oktober 1918 No. 23 dan No. 24 yang disyahkan pelaksanaan oleh Pranatan Patih Dalem No. 383 th 1918 yang isinya penggantian nama Abdi Dalem Patari (Abdi Dalem Gunung) beserta stafnya menjadi Abdi Dalem Pangeran Projo supaya sesuai dengan status Kabupaten daerah Gubernemen;
Para Abdi Dalem Wedana, Panewu Mantri kang sumengko kasebut Golongan Polisi, nanging kang kawajiban nindakake babagan paprintahan, ikut ing sumengko jenenge Golongan Abdi Dalem mau Kasalinan, Abdi Dalem Pangreh Praja. (Rijksblad Surakarta, 1918 No. 23 : 169-171).
Mungguh kuwajiban para panewu panggedening Distrik Serat tumrap babagan Polisi wae nanging iya anindakake babagan peprintahan (Rijksblad Surakarta, 1918 No. 14:171).
Dengan ketetapan tersebut maka seluruh Jawa ada sebutan Kabupaten Pangreh Projo, termasuk Kabupaten Grobogan di Purwodadi. Perlu diketahui bahwa struktur Pemerintahan Kabupaten Pangreh Praja adalah sebagai berikut :
- Bupati, disebut Bupati Pangreh Praja.
- Panewu Gunung disebut Wedono Pangreh Praja.
- Panewu Sekretaris yang disebut Wedono Kondaning Bupati Pangreh Praja.
- Mantri Gunung disebut Mantri Pangreh Praja.
- Mantri Sekretaris yang disebut Panewu Kondhaning Wedanan Pangreh Praja.
- Mantri Polisi disebui Mantri Pangreh Praja.
Disamping itu juga ditetapkan struktur birokrasi dengan di tingkat Distrik (Kawedanan) dan Onder Distrik (Kemantren) di daerah-daerah wilayah Kabupaten Pangreh Praja.
Jumlah Pejabat menurut Staatsblad V Ned Indie 1924 No.18 dengan Rijksbald Surakarta 1924 No.19 adalah sebagai berikut. Staatsbald V Ned Indie 1924 No. 18 hal 40-41 Rijksblad 1924 No.24 hal. 41-42.
- Para pembantu Sekretaris, pembantu Priyayi, termasuk Golongan Pangreh Praja.
- Para Carik serta Mantri di Kabupaten pra Carik Panewon dan Keonderan Distrik serta uang diperbantukan di Algemene Polisi.
- Para Priyayi yang memiliki Diploma Pangreh Projo Pemerintahan Jawa serta Para Mantri Polisi.
- Para Mantri Sekretaris Kabupaten.
- Para Mantri Pembesar Onder Distrik.
- Para Panewu Sekretaris.
- Para Panewu Pembesar Distrik.
- Bupati Anom Pangreh Praja.
- Bupati Pangreh Praja.
Dari penjelasan diatas, setelah kita mengkaji perkembangan sejarah Grobogan yang sekarang menjadi Kabupaten daerah Tingkat II Grobogan, untuk menetapkan hari jadinya dapat di ajukan alternatif sebagai berikut :
Berdasarkan penjelasan di atas, maka Hari Jadi Kabupaten Grobogan jatuh pada hari Senin, 21 Jumadilakir, 1650 atau 4 Maret 1726.
Pada saat itu Susuhunan Amangkurat IV mengangkat seorang abdi yang berjasa kepada Sunan, bernama Ng. Wongsodipo menjadi Bupati Monconegari Grobogan dengan nama RT Martopuro.
Dalam pengangkatan ini ditetapkan pula wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya, ialah ditetapkan pula wilayah yang menjadi daerah kekuasaannya, ialah Sela, Teras, Karas, Wirosari, Santenan, Grobogan, dan beberapa daerah di Sukowati bagian Utara Bengawan Sala. (Babad Pecina : 172-174).
Oleh karena Kota Kartosuro pada waktu itu sedang dalam keadaan kacau, maka RT Martopuro masih tetap di Kartosuro.
Sedang pengawasan terhadap daerah Grobogan diserahkan kepada kemenakan sekaligus menantunya : RT Suryonegoro (Suwandi).
Tugasnya menciptakan struktur pemerintahan Kabupaten Pangreh Praja. Seperti adanya Bupati Patih, Kaliwon, Panewu, Mantri dan seterusnya sampai jabatan Bekel di desa-desa.
Pengertian Monconagari ialah daerah taklukan Raja Daerah ini bukan daerah asli.
Pendudukan sebagai daerah yang berkewajiban "seba" kepada raja setahun sekali yaitu pada hari besar "Gerebeg".
Perlu diketahui bahwa sejak masa Kartosuro sampai masa Surakarta awal, awal Kerajaan dibagi menjadi tiga kelompok daerah yaitu :
Kuthogoro, yaitu tempat tinggal raja, keluarga raja dan pejabat tinggi kerajaan.
Negara Agung yaitu daerah asli kerajaan, daerah ini dibagi menjadi 8 Kabupaten Nayaka (dibawah Bupati Prajurit).
Kedelapan Kabupaten tersebut ialah : Kabupaten Bumi, Bumija, Bumi Gede Kiwa, Bumi Gede Tengan, Sewu Numbak Anyar, Penumping, dan Panekar.
Monconagari, daerah ini merupakan daerah vasal yang terdiri dari daerah Monconagari Kilen dan monconagari Wetan serta pengangkatan Ng. Wongsodipo sebagai Bupati Grobogan dengan gelarnya RT.
Martapura belum dapat dikatakan sebagai waktu lahirnya Kabupaten Grobogan, sebab sebelum memenuhi persyaratan dasar bagi sebuah Kabupaten.
Dari penjelasan di muka, jelas bahwa pangangkatan Bupati Grobogan atas diri Ng. Wongsodipo atau RT Martopuro atau Adipati Puger disertai dengan penyerahan kekuasaan atas daerah-daerah yang menjadi wilayahnya.
Ini berarti, bahwa pengangkatan Bupati di sini adalah sebagai Bupati Kepala Daerah.
Sebagai Bupati Patih adalah RT Suryonegoro.
Dalam perkembangan selanjutnya sebagai Bupati Kepala Daerah, Adipati Puger menguasai daerah-daerah Demak, Santenan, Cengkal Sewu, Wirosari, Sela, Teras, Karas, Blora dan Jipang, serta daerah-daerah di Sukowati bagian utara Bengawan Sala.
Sedang sebutan Adipati merupakan sebutan bagi seorang Bupati Monconagari yang memiliki kedaulatan atas daerah-daerah yang dikuasainya.
Penataan administrasi wilayah sudah barang tentu dilakukan secara bertahap dan baru pada masa pembentukan Kabupaten Pangreh Praja (1847) sistem administrasi Kabupaten sudah boleh dikatakan mendekati sempurna, seperti Kabupaten Daerah Tingkat II sekarang.
Di samping itu Adipati Puger atau RT Martopuro menjabat Bupati Grobogan sampai meninggalnya (1753), dan nantinya dia digantikan oleh menantunya : RT Suryonagoro dengan gelarnya RT Yudonagoro.
Dari penjelasan di atas, maka tanggal 4 Maret 1726 dapat ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Grobogan telah ada dan jelas memiliki perangkat yang diisyaratkan bagi adanya sebuah Kabupaten, yaitu adanya : wilayah, rakyat, dan pemerintahan, walaupun belum sempurna (Senin, 21 Jumadilakir, 1650).
Selanjutnya sebagai akhir uraian dari bab ini perlu disebutkan para Bupati yang pernah memerintah di Kabupaten Grobogan.
Menurut data yang ada Kabupaten Grobogan dengan ibu kota Grobogan pindah ke kota Purwodadi terjadi pada Tahun 1864.
Peristiwa ini hanyalah merupakan perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Grobogan.
Jadi tidak terjadi perubahan status daerah tersebut.
Dalam perkembangan selanjutnya kita ketahui bahwa pada 1928 (Staatbald, 1928 No. 117) Kabupaten Grobogan mendapatkan tambahan dua distrik (Kawedanan) dari Kabupaten Demak, yaitu :
1. Kawedanan distrik Manggar dengan ibukotanya di Godong
2. Kawedanan distrik Singen Kidul dengan ibukotanya di Gubug.
Maka Jumlah desa di dalam wilayah Kabupaten Grobogan dengan tambahan dua Kawedanan tersebut yang semula terdiri atas 129 desa menjadi 280 desa sampai sekarang.
Pada tanggal 1 Januari 1930 (Staatblad 1930, No. 3) berdirilah Regent Schapsraad (Dewan Katapaten) Grobogan sebagai badan ekonomi dimana Regent (Bupati) sebagai ketuanya.
Pada Bulan April 1932 asistenan Karangasem Kawedanan Wirosari dihapus dan dalam Bulan September 1933, asistenan Gadoh Kawedanan Manggar juga dihapus (Staatblad 1932, No. 16; Staatblad 1933, No. 51).
Kemudian mendapatkan tambahan asistenan Klambu Distrik Undaan Kabupaten Kudus.
Pada Bulan Maret 1942 di masa Perang Dunia II daerah Grobogan juga tidak luput dari pendudukan tentara Jepang.
Pada waktu itu Bupati Grobogan R. Adipati Ario Soekarman Martohadinagoro meninggalkan kota (Purwodadi) dan mengungsi di Pesanggrahan Argomulyo (milik Perhutani).
Tetapi tidak lama kemudian oleh Jepang diserahkan kembali ke Purwodadi dengan ditetapkan sebagai Kentyo (Bupati) Grobogan.
Pada tahun 1944 Bupati Ario Soekarman di pindah ke Semarang, digantikan oleh R Soegeng sampai Tahun 1946.
Geografis #
Kabupaten Grobogan, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah.
Ibukota kabupaten berada di Purwodadi.
Tepatnya di Kelurahan Purwodadi Kecamatan Purwodadi.
Secara geografis, wilayah Kabupaten Grobogan terletak di antara 110o15’ BT – 111o25’ BT dan 7o LS - 7o30’ LS dengan kondisi tanah berupa daerah pegunungan kapur, perbukitan dan dataran di bagian tengahnya.
Wilayah Kabupaten Grobogan terletak di antara dua pegunungan Kendeng yang membujur dari arah barat ke timur, dan berbatasan dengan :
- Sebelah Barat : Kabupaten Semarang dan Demak.
- Sebelah Utara : Kabupaten Kudus, Pati dan Blora.
- Sebelah Timur : Kabupaten Blora.
- Sebelah Selatan : Kabupaten Ngawi, Sragen, Boyolali, dan Kabupaten Semarang.
Berdasarkan hasil Evaluasi Penggunaan Tanah (EPT) tahun 1983 Kabupaten Grobogan mempunyai luas 1.975,86 Km dan merupakan kabupaten terluas nomor 2 di Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap.
Jarak dari utara ke selatan ± 37 Km dan jarak dari barat ke timur ± 83 Km.
Jarak Ibukota Kabupaten Grobogan ke beberapa kota sekitarnya adalah sebagai berikut :
- Purwodadi ke Semarang : ± 64 Km
- Purwodadi ke Demak : ± 39 Km
- Purwodadi ke Kudus : ± 45 Km
- Purwodadi ke Pati : ± 45 Km
- Purwodadi ke Blora : ± 64 Km
- Purwodadi ke Sragen : ± 64 Km
- Purwodadi ke Surakarta : ± 64 Km
Secara administratif Kabupaten Grobogan terdiri dari 273 desa dan 7 kelurahan yang tersebar di 19 kecamatan, dengan ibukota kabupaten di Purwodadi.
Kecamatan terbesar adalah Kecamatan Geyer dengan luas 196,19 Km² (9,9%), sedangkan yang terkecil Kecamatan Klambu dengan luas 46,56 Km² (2,2%).
Transportasi #
Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan, berada di jalan provinsi yang menghubungkan Semarang-Surabaya lewat Cepu.
Angkutan kereta api juga melintasi wilayah kabupaten ini, khususnya kawasan selatan Purwodadi.
Terdapat dua jalur utama kereta api, yakni dari:
- Semarang Tawang menuju timur (Surabaya Kota)
- Semarang Tawang menuju tenggara (Solo Balapan)
Kabupaten Grobogan memiliki sejumlah stasiun kereta api, di mana Stasiun Ngrombo adalah yang terbesar, di mana kereta api jarak jauh rute Surabaya, Semarang, dan Jakarta singgah di stasiun tersebut.
Sedangkan stasiun-stasiun kereta api yang lain hanya dilewati kereta api-kereta api tersebut.
Pariwisata #
Tempat wisata alam di Kabupaten Grobogan adalah:
- Api Abadi Mrapen, di Manggarmas
- Waduk Kedung Ombo, di Rambat
- Cindelaras, di Ngrandah
- Bledug Kuwu, di Kuwu
- Bledug Kesongo, di Gabus
- Bledug Medang Kawit, di Tanjungharjo
- Air Terjun Widuri, di Kemaduhbatur
- Air Terjun Ngasinan, di Kemaduhbatur
- Air Terjun Ngayongan, di Karangasem
- Air Terjun Gulingan, di Sedayu
- Goa Urang, di Kemaduhbatur
- Goa Gajah, di Kemaduhbatur
- Goa Macan, di Sedayu
- Goa Lowo, di Sedayu
- Goa Gogor, di Sumber Jatipohon
- Goa Angil-Angil, di Kemaduhbatur
- Goa Ngesong, di Tegalrejo
- Goa Teges, di Tegalrejo
- Wisata pager gunung (kec. Brati)
Wisata Pemandian
Tempat wisata pemandian di Kabupaten Grobogan adalah:
- Pemandian Sanggeh, di Tambirejo
- Pemandian Mudal, di Karangasem
- Pemandian Segoro Gunung, di Nglinduk
- Sendang Keyongan, di Penganten
- Sendang Wangi, di Karangasem
- Sendang Coyo, di Mlowokarangtalun
- Sendang Bulusan, di Jipang
- Sendang Sungapan, di Sembungharjo
Wisata Keluarga
Tempat wisata keluarga di Kabupaten Grobogan adalah:
- Bloombang Waterpark, di Kuripan
- Wisata Pesawat & Air Master Park, di Kuripan
- Mulia Waterpark Klambu, di Klambu
- Kolam Renang Jatipohon, di Sumber Jatipohon
Wisata Religi
Tempat wisata religi di Kabupaten Grobogan adalah:
- Makam Ki Ageng Selo, di Selo
- Makam Ki Ageng Tarub, di Tarub
- Makam Ki Ageng Getas Pendowo, di Kuripan, Purwodadi
Event
Kabupaten Grobogan terdapat beberapa acara perayaan, yaitu:
- Pekan Raya Grobogan, di Alun-Alun
- Purwodadi Expo, di Alun-Alun
Kuliner Khas #
Grobogan memiliki beberapa makanan khas, yaitu:
- Swike Kodok
- Botok Yuyu
- Sayur Becek
- Sego Pager
- Walang Goreng
- Peyek Laron
- Ungker Jati
- Pecel Gambringan, Desa Depok kecamatan Toroh
- Garang Asem
- Nasi Jagung
Kesehatan #
Sarana Kesehatan
Rumah sakit di Grobogan, adalah:
- Rumah Sakit Umum Daerah Dr. R Soemodiardjo Purwodadi
- Rumah Sakit Permata Bunda Purwodadi
- Rumah Sakit Panti Rahayu Yakkum Purwodadi
- Rumah Sakit Islam Purwodadi
- Rumah Sakit Umum PKU Muhammadiyah Gubug
- Rumah Sakit Umum Enggal Waras Godong
(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas)
| Informasi |
|---|
| Nama Kabupaten | Kabupaten Grobogan |
|---|
| Provinsi | Jawa Tengah |
|---|
| Ibu Kota | Purwodadi |
|---|
| Bupati | Sri Sumarni |
|---|
| Luas | 1.975,865 km2 |
|---|
| Populasi | 1.455.032 jiwa (2018) |
|---|
| Situs Resmi | www.grobogan.go.id |
|---|