Obat Flu dan HIV Diklaim Bisa Bunuh Virus Corona, Benarkah? Begini Penjelasannya

Menurut Somsak, terlalu dini untuk menyatakan obat flu dan HIV ini dapat diaplikasikan pada semua kasus virus corona


zoom-inlihat foto
pasien-virus-corona-di-china.jpg
South China Morning Post
Jumlah kasus virus korona yang diketahui melonjak 1.737 menjadi 7.771 di Cina pada Kamis, (30/1/2020) pagi termasuk kasus pertama yang dikonfirmasi di Tibet, menurut otoritas kesehatan, meningkatkan total global menjadi hampir 8.000 - dan mendekati total infeksi di seluruh dunia dalam wabah SARS tahun 2002-2003. (South China Morning Post)


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pemerintah Kota Beijing, China mengumumkan pada Minggu (26/1/2020) bahwa rumah sakit di kota tersebut menggunakan obat HIV untuk melawan virus corona Wuhan.

Sedangkan di Thailand, seorang pasien yang positif terinfeksi virus corona diklaim dapat disembuhkan menggunakan racikan obat yang diberikan oleh dokter setempat.

Obat tersebut terdiri atas campuran antivirus yang biasa untuk menangani penyakit flu dan HIV.

Dilansir oleh Kompas.com, berdasarkan keterangan Kriengsak Atipornwanich, dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Rajavithi Thailand berujar, pasien itu langsung negatif virus corona selang 48 jam sejak memakai racikan itu, Minggu (2/2/2020).

Terkait hal tersebut, dokter spesialis pulmonology Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Raden Rara Diah Handayani memberikan penjelasan.

Baca: Jepang Karantina 3.500 Penumpang dan Awak Kapal Pesiar The Diamond Princess untuk Uji Virus Corona

Baca: VIRAL Foto Diduga Mayat Korban Virus Corona Bergelimpangan di Wuhan, Ini Fakta Sebenarnya

Menurut Rara, kasus-kasus seperti terjadi di situ bisa saja kondisional.

Artinya, kasus-kasus itu bukan berarti obat flu dan anti-HIV dapat dijadikan obat standar guna memberantas virus corona di dalam tubuh.

"Yang sudah punya pasien (corona) dan juga melakukan terapi seperti itu baru sedikit, jadi memang belum bisa dikatakan bahwa itu nanti obatnya. Ini masih dalam proses penelitian," jelas Rara kepada wartawan di sela seminar bertajuk"Fakta Virus Corona dan Influenza" di RSUI Depok, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020) siang.

“Jadi kalau antivirusnya betul-betul untuk vaksin (corona), belum ada," imbuh dia.

coronavirusees
Spesialis pulmonologi Rumah Sakit Universitas Indonesia, Depok, Raden Rara Diah Handayani.(KOMPAS.COM/VITORIO MANTALEAN)

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Jenderal Depertemen Layanan Medis Thailand Somsak Akkslim beberapa saat sejak temuan di Rumah Sakit Rajavithi.

Menurut Somsak, terlalu dini untuk menyatakan obat ini dapat diaplikasikan pada semua kasus.

Baca: Jadi Tempat Asal Virus Corona, Ini Penampakan Pasar Seafood Huanan di Wuhan

Baca: Seorang Pria di Filipina Meninggal Dunia Akibat Virus Corona, Menjadi Kematian Pertama di Luar China

Penggunaan racikan obat flu dan anti-HIV untuk sementara waktu hanya akan digunakan pada pasien dengan kondisi parah.

"Memang ada beberapa negara yang dokter-dokternya mencoba memberikan racikan itu. Kenapa? Kerena ada kesamaan bagaimana dua virus itu berkembang di dalam badan," ujar Rara.

"Prinsip sebagai dokter ketika memutuskan memberi racikan itu, kami melihat bagaimana proses obat bekerja, bagaimana virus menjadi penyakit, dan bagaimana obat itu bisa memutus rantai pengembangan penyakit itu," ia membeberkan.

Sebelumnya diberitakan jika seorang pasien positif terinfeksi virus corona di Thailand diklaim dapat disembuhkan menggunakan racikan obat yang diberikan oleh dokter setempat.

Obat itu terdiri atas campuran antivirus yang biasa untuk menangani penyakit flu dan HIV.

Hasil uji lab pada pasien asal China tersebut semula menunjukkan wanita berusia 70 tahunan itu positif terjangkit virus corona.

Sebelumnya ia diketahui terjangkit virus dengan nama 2019-nCoV itu sejak 10 hari terakhir dan sudah menjalani perawatan medis.

Akan tetapi, hanya dalam jangka waktu 48 jam atau 2 hari setelah diberikan obat campuran itu, terjadi perubahan drastis pada kondisi wanita tersebut.

Ia dinyatakan bebas dari virus yang sebelumnya menyerangnya.

Informasi terkait sembuhnya pasien virus corona itu disampaikan langsung oleh Kementerian Kesehatan Thailand melalui sebuah konferensi pers, Minggu (2/2/2020).

Dalam kesempatan itu, hadir pula dokter yang menjadi peramu obat-obatan tersebut, dr. Kriengsak Atipornwanich, dokter spesialis paru dari Rumah Sakit Rajavithi.

"Hasil uji lab dari seorang pasien yang positif virus corona berubah menjadi negatif virus setelah 48 jam. Dari kondisi lemah, pasien itu kini dapat duduk di ranjang rumah sakit setelah 12 jam diberikan obat tersebut," kata Kriengsak.

Baca: Perdana Menteri Jepang Angkat Bicara Mengenai Isu Pembatalan Olimpiade Tokyo Akibat Virus Corona

Baca: Viral Anjing dan Kucing Dilempar dari Jendela hingga Tewas, Pemilik Takut Tertular Virus Corona

Pasien yang sembuh dari virus corona bisa kembali terinfeksi

Dikutip Kompas.com dari South China Morning Post (SCMP), pada Jumat (31/1/2020), ahli medis memperingatkan para pasien yang telah sembuh dari virus corona.

Menurut ahli medis tersebut, para pasien tersebut masih memiliki risiko untuk terinfeksi kembali.

Mereka juga menganjurkan orang-orang untuk menghindari perkumpulan massa atau bahkan menari di taman kota dan alun-alun.

Kepala Bagian Penyakit Menular di Rumah Sakit Persahabatan China-Jepang, Zhan Qingyuan, mengungkapkan bahwa orang-orang yang sudah memiliki virus di dalam tubuhnya akan mengembangkan antibodi.

Akan tetapi, orang-orang tersebut harus tetap waspada sehingga mereka tidak sakit lagi.

"Antibodi mungkin tidak bertahan lama. Jadi, masih ada risiko pasien yang pulih ini akan terinfeksi lagi. Mereka harus terus menjaga diri mereka agar tetap terlindungi," ungkap Zhan.

(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy, Kompas.com)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved