TRIBUNNEWSWIKI.COM - Liverpool saat ini menjadi tim dengan performa paling impresif di lima liga besar Eropa.
Catatan 20 kemenangan dari 21 laga Liga Inggris adalah bukti nyata betapa supernya kekuatan pasukan Juergen Klopp di musim 2019-20 ini.
Meski begitu ada satu laga di Liga Inggris musim ini yang menggagalkan Liverpool meraih tiga poin sempurna, yakni ketika berjumpa rival bebuyutan Manchester United.
Laga pertemuan dua klub tradisional di persepak bolaan Inggris itu berakhir dengan skor imbang 1-1 pada pertemuan pertama di Old Trafford musim ini.
Baca: Hak Siar Liga Inggris Jadi Satu di Antara Penyebab Pemecatan, Helmy Yahya Akan Tempuh Jalur Hukum
Baca: Hasil Liga Inggris Pekan 22: Liverpool Unggul 16 Poin di Puncak Klasemen, Manchester United Berpesta
Salah satu kunci mengapa Manchester United sukses meredam keganasan sepak bola gegenpressing atau counter-pressing a la Liverpool adalah taktik serangan balik yang mereka miliki.
Secara teknis, Manchester United memang dihuni oleh banyak pemain yang memiliki kecepatan tinggi seperti Marcus Rashford, Anthony Martial dan pemain baru, Daniel James.
Ditambah Paul Pogba yang biasa menjadi orkestrator permainan inkonsisten dan cedera, Ole Gunnar Solskjaer pun menjadikan gaya bermain dengan mengandalkan serangan balik cepat sebagai senjata utama di musim 2019-20.
Hal tersebut bisa dilihat dari tingginya momen serangan balik atau fast breaks yang dibuat Manchester United musim ini dengan angka 20 kali.
Positifnya, gaya sepak bola serangan balik pun sukses ketika digunakan Manchester United ketika melawan klub-klub papan atas.
Selain mampu menahan Liverpool dan Arsenal, pasukan Ole sukses mengalahkan Chelsea, Leicester City, Tottenham Hotspurs serta Manchester City pada paruh pertama Liga Inggris musim 2019-20 ini.
Klub-klub papan atas terjungkal karena mayoritas mereka bermain dengan penguasaan bola yang lebih tinggi ketika melawan Manchester United dan sepak bola reaktif seperti serangan balik yang diperagakan Ole Gunnar Solskjaer terbukti manjur.
Ketika menahan Liverpool dengan skor 1-1 pada pekan ke-9 Liga Inggris (20/10/2019), Manchester United hanya memiliki angka 32% penguasaan bola berbanding 68% milik sang tamu.
“Kami (tim) bermain dengan serangan balik cepat bahkan sejak pertama kali saya disini dan itulah Manchester United,” pasca tim asuhannya secara mengejutkan mengalahkan Manchester City dengan skor 1-2 di Stadion Etihad (8/12/2019) dilansir dari Skysports.
Eksploitasi sisi sayap
Namun tak ada gading yang tak retak.
Sepak bola dengan serangan balik khas Manchester United beberapa kali menemui kegagalan ketika melawan tim papan bawah yang seringkali menerapkan taktik bertahan ketika jumpa mereka.
Secara total di Liga Inggris, Manchester United mampu memenangi lima dari enam laga ketika mereka tak dominan menguasai bola, namun hanya menang empat kali dari 14 laga ketika Harry Maguire dkk lebih banyak mengendalikan bola.
Masalah menjadi besar ketika lebih banyak menguasai bola, para pemain Manchester United sulit menggunakan kecepatannya untuk mengeskploitasi ruang karena lawan bermain rapat dan dalam.
Liverpool bermain dengan “memindahkan” playmaker dari gelandang ke bek sayap terutama sisi kanan, Trent Alexandre-Arndold yang seringkali naik membantu serangan.
Untuk meredam Liverpool yang memiliki dua bek sayap berbahaya dan timnya sangat piawai melakukan transisi permainan, Manchester United harus membiarkan sang lawan menguasai bola lebih banyak, berani menerapkan garis pertahanan tinggi, pressing ketat dan siap mengekploitasi ruang di kedua sisi pertahanan mereka.
Namun sialnya, penyerang yang biasa menghuni sayap kiri Manchester United, Marcus Rashford diragukan tampil kala pertemuan kedua klub ini pada Derbi North-West Minggu (19/1/2020) nanti.
Padahal pemain timnas Inggris tersebut yang menjadi hantu pada pertemuan pertama mereka dengan mencetak satu gol.
Liverpool sendiri bisa belajar dari pertemuan pertama ketika melawan Manchester United di Liga Inggris musim ini.
Selain kemungkinan Rashford absen, Juergen Klopp bisa meniru langkah taktik Pep Guardiola yang berhasil balas dendam atas Manchester United di leg pertama semifinal Piala Liga Inggris (8/1/2020) lalu.
Manchester City asuhan Guardiola dengan sangat sabar nan presisi mempertahankan dan memainkan bola hingga ke pertahanan sendiri ketika menghadapi pressing ketat para pemain United.
Guardiola dengan sengara memancing pertahanan United agar naik terlalu tinggi dan mengalami scretch, sehingga meninggalkan celah ruang terbuka untuk dieksploitasi para penyerang Manchester City yang berkecepatan tinggi.
Meski dikenal bukan ahli terbaik dalam penguasaan bola, Liverpool bisa sedikit mencontoh beberapa detail taktik yang dilakukan Manchester City agar impian meraih gelar juara yang dinanti-nanti semakin terwujud nyata.
Sebaliknya bagi Manchester United, kemenangan atas Liverpool bisa mempertebal rasa percaya diri dalam misi meraih zona Liga Champions atau empat besar Liga Inggris di akhir musim nanti. Siapa sanggup menang pada laga Minggu (19/1/2020) nanti di Stadion Anfield?
Berikut prediksi susunan pemain Liverpool vs Manchester United :
Liverpool (formasi 4-3-3) : Alisson, Alexander-Arnold, Gomez, Van Dijk, Robertson, Henderson, Wijnaldum, Lallana, Salah, Firmino, Mané.
Pelatih : Juergen Klopp
Manchester United (formasi 4-3-3) : De Gea, Wan-Bissaka, Maguire, Lindelof, Williams, Matic, Fred, Pereira, James, Lingard, Martial.
(Tribunnewswiki.com/Haris)