TRIBUNNEWSWIKI.COM - Seorang perempuan mengungkapkan dirinya ketagihan memakan bedak bayi atau baby powder dan dapat menghabiskan hampir 200g sebotol dalam waktu sehari.
Perempuan bernama Lisa Anderson (44) ini memakan bedak bayi ini sejak 15 tahun yang lalu.
Ia mengaku memulai memakan bedak bayi atau baby powder lantaran ada dorongan yang 'begitu besar' saat mengeringkan anaknya yang selesai mandi.
Lisa mengatakan dirinya begitu lahap memakan bedak bayi dan semakin intensif memakannya sampai sekarang.
Ibu dari 5 orang anak ini sering menaruh bubuk bedak bayi di balik telapak tangannya sebelum memakannya.
Ia melakukan ini setidaknya setiap 30 menit sekali dan hingga berulang kali setiap malamnya.
Lisa mengklaim telah menghabiskan biaya sekitar 8,000 Pounsterling atau sekitar Rp. 146,7 Juta untuk membeli baby powder merk Johnson's Baby Powder yang merupakan merk favoritnya.
Dalam seminggu, Lisa menghabiskan biaya sekitar 182 ribu rupiah untuk mengonsumsi baby powder tersebut.
Seperti pernyataannya kepada DailyMail.com, (7/1/2020), waktu paling lama bagi Lisa tidak makan baby powder adalah selama dua hari.
Baca: Bayi Lina Bakal Diurus Orang Lain, Sule Bocorkan Kemarahan Mantan Mertua hingga Sebut Siap Menerima
Sempat Menyimpan Rahasia dari Publik
Lisa Anderson telah lama menyimpan rahasia kebiasaannya ini selama lebih dari sepuluh tahun sebelum memberitahukannya kepada mantan pasangannya.
Mantan pasangannya ini sebelumnya sempat penasaran mengapa Lisa sering mengendap-endap pergi ke kamar mandi.
Sampai berita ini dibuat, Lisa telah memberanikan dirinya untuk menemui doktor profesional terkait kebiasaannya ini.
Seorang dokter mengatakan kepadanya bahwa ia diduga menderita 'sindrom pica' yang merupakan gangguan makan yang ditandai dengan keharusan memakan benda-benda non-makanan.
Keharusan memakan non-makanan seperti cat, debu, dan kotoran merupakan suatu tanda dari sindrom pica.
Baca: Aksi Petugas Pemadam Kebakaran Selamatkan Bayi 7 Jam Terjebak Banjir, Menangis Tak Kuasa Tahan Haru
Bahaya Bedak Bayi
Bedak bayi atau baby powder beracun saat dihirup dan atau dimakan oleh manusia.
Benda ini sempat menjadi kontroversial karena dianggap berpotensi menyebabkan kanker pada perempuan yang menggunakan di kulit mereka selama bertahun-tahun,
Kendati demikian, Lisa Anderson tetap tidak mempu menahan diri untuk terus memakannya.
Lisa Anderson, ibu dari 5 anak yang berasal dari Paignton, Devon, Britania Raya ini mengatakan, "Aku tahu ini sedikit aneh, namun ya gimana, ini rasanya enak."
"Aku bisa habiskan sebuah botol 200g dalam sehari, dan satu yang lebih besar aku habiskan dalam waktu satu setengah minggu."
"Aku masih ingat baunya sungguh menarik. Sekarang aku tak bisa melakukan tanpa itu. Aku sering lakukan dan mendapatkannya setiap setengah jam. Aku benar-benar tak bisa habiskan setengah jamku tanpa itu."
"Waktu terlama saya tidak gunakan itu adalah dua hari. Itu adalah saat terburuk dalam hidupku. Saya benci itu."
Tertarik karena Habis Mandikan Anak
Lisa mengaku merasa tertarik memakan bedak bayi pada tahun 2004, beberapa hari usai melahirkan anak kelimanya.
Ia tak pernah ingin memakan bedak bayi saat melahirkan empat anak sebelumnya.
"Aku selalu punya itu (bedak bayi) di rumah dan selalu menaburkannya pada diriku sendiri setelah habis mandi."
"Aku juga menggunakannya pada anak-anak setelah memandikannya dan itu ga ada masalah."
"Dan pada suatu hari aku ingat, saat di kamar mandi, aku mencium bau yang sangat kuat."
"Ada sedikit serbuk bubuk bayi di ujung tutup botolnya."
"Ada dorongan yang begitu kuat untuk memakannya dan aku tak bisa melawannya. Pada awalnya aku hanya menjilat tanganku dan benar-benar menikmatinya. Enak sekali. Itu memuaskan keinginan yang tak pernah ku tahu."
Minum Air Setelah Makan Bedak Bayi
Lisa Anderson seringkali meminum air mineral usai menikmati rasa bedak bayi tersebut.
Saat berada di luar rumah, ia sering mengunyah permen karet untuk menggantikan hasratnya pada bubuk bedak bayi.
"Tentu aku tak membawanya saat aku keluar."
"Saat aku pergi ke luar, entah ke toko maupun ke rumah sakit, aku sering makan permen mint."
"Di hari yang lain, saat aku keluar beberapa jam, aku pernah mengunyah 6 permen karet langsung dengan rasa mint yang kuat."
"Tapi saat aku pulang ke rumah, aku selalu memakai bedak bayi tersebut untuk aku makan. Rasa dan tekstur kapurnya lah yang aku nikmati. Aku bangun sedikitnya empat kali dalam semalam dan menikmatinya saat bangun."
"Ini berlangsung selama beberapa tahun. Aku tak bisa bayangkan saat itu tak ada dalam hidup saya."
"Sama seperti seseorang saat kecanduan, aku juga semakin sering memakan banyak setiap kali aku punya."
Lisa Anderson merahasiakan kondisinya selama 10 tahun sampai mantan pasangannya mengikuti dirinya ke kamar mandi lantaran curiga.
Kelainan
Sindrom pica yang diderita Lisa Anderson diungkapkan oleh pihak dokter.
Sindrom pica sering terjadi bersamaan dengan gangguan kesehatan mental lainnya seperti autisme.
Ini juga disebut sebagai tanda-tanda dari stres.
Sindrom pica tidak banyak diketahui namun kemungkinan besar lebih umum terjadi di beberapa negara-negara berkembang, seperti laporan The National Eating Disorder.
Lebih jauh lagi, Lisa Anderson telah dirujuk oleh dokter umum untuk melakukan konseling yang akan dimulai pada bulan ini.
Berisiko Kesehatan
Kebiasaan tak biasa yang dimiliki Lisa bukannya tanpa risiko kesehatan.
Bedak merupakan bubuk yang terbuat dari mineral yang terbuat dari talc, sebuah bahan mineral yang terbuat dari campuran silikon, magnesium, dan oksigen.
Mineral talc diperkirakan beracun bagi tubuh apabila dihirup atau dikonsumsi.
Efek samping yang paling umum terjadi adalah masalah pernafasan disertai batuk dan iritasi mata.
Selain itu, efek berkelanjutan yang dapat ditimbulkan adalah menyebabkan nyeri dada dan bahkan gagal paru-paru, serta tekanan darah rendah, kejang-kejang, diare, hingga muntah.
Lisa menyebut, "Meskipun aku telah melakukan ini selama bertahun-tahun, aku baru menyadarinya di tahun ini bahwa ini tak bisa disebut normal."
"Pasanganku tak suka aku melakukannya lantaran berkaitan dengan kanker dan dampak bagi kesehatanku,"
"Aku coba riset sendiri melalui internet dan kemudian memutuskan untuk pergi ke dokter sendiri,"
"Aku telah lakukan itu bertahun-tahun tanpa mengetahui apa yang dapat terjadi padaku. Namun saat ini sudah terjadi. Aku hanya ingin orang lain tahu bahwa mereka tidak sendirian,"
Badan Internasional untuk penelitian kanker atau The International Agency for Research on Cancer yang merupakan bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya memutuskan bahwa Talc dimungkinkan bersifat kanker bagi manusia, berdasarkan serangkaian penelitian.
Hal ini terjadi karena bentuk alami dari mineral tersebut di mana bedak mengandung material asbes, suatu zat mematikan yang diketahui dapat menyebabkan kanker ketika dikonsumsi dalam jangka waktu lama kendati rendah dalam pemakaiannya.
Pada tahun 2016, sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan sekitar 33 persen peningkatan risiko kanker ovarium disebabkan karena penggunaan bedak talek genital.
NHS menyebut penelitian tersebut terlalu dini mengambil kesimpulan lantaran tidak memberi rekomendasi bahan apa yang pantas digunakan untuk mencuci vagina dengan bersih.
Pada bulan Juli 2018, bedak bayi merk Johnson&Johnson diperintahkan untuk membayar denda 3,6 miliar poundsterling kepada 22 perempuan setelah mereka menganggp bedak bayi memberikan mereka kanker ovarium.
Beday bayi merek Johnson&Johnson telah menghadapi sekitar 9000 kasus hukum yang disebabkan karena penyalahgunaan bedak bayi.
Mereka selalu membantah apabila bedak taleknya tidak aman.
Lebih jauh lagi mereka mengklaim bahwa material bedaknya tidak mengaundung asbes.
Bagi orang-orang yang pernah secara sengaja menghidup bedak dan atau tertelan disarankan untuk segera meminta pertolongan.
--
Disclaimer:
Pencantuman merk di berita merupakan bagian dari penginformasian peristiwa internasional dan tidak ada niatan untuk mendiskreditkan salah satu pihak.
Perbuatan yang dirasa merugikan tubuh dan membahayakan kesehatan selayaknya tidak untuk ditiru
--
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)