FILM - Nyanyian Akar Rumput (2018)

Film Nyanyian Akar Rumput (2018) adalah film dokumenter Indonesia yang mengangkat kisah tentang keluarga Wiji Thukul.


zoom-inlihat foto
nyanyian-akar-rumput.jpg
Infoscreening.co
Poster Nyanyian Akar Rumput (Infoscreening.co)

Film Nyanyian Akar Rumput (2018) adalah film dokumenter Indonesia yang mengangkat kisah tentang keluarga Wiji Thukul.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Film Nyanyian Akar Rumput (2018) adalah film dokumenter Indonesia yang mengangkat kisah tentang keluarga Wiji Thukul.

Nyanyian Akar Rumput akan tayang di bioskop mulai 16 Januari 2020.

Nyanyian Akar Rumput tayang perdana (World Premier) dan berkompetisi dalam ajang "23rd Busan International Film Festival 2018" yang digelar pada 4-13 Oktober 2018 di Busan, Korea Selatan.

Nyanyian Akar Rumput telah menyabet Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2018 untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.

FFI adalah ajang apresiasi tertinggi dalam dunia perfilman di Indonesia yang diadakan tiap tahun.

Film garapan Yuda Kurniawan ini memang mengangkat isu mengenai peristiwa yang cukup serius dan menegangkan di Indonesia.

Namun menurut sang sutradara, ternyata beberapa warga Korea Selatan pun bisa menikmati alur film garapannya.

Tak hanya sabet Piala Citra,  penghargaan lain pun turut diberikan kepada Nyanyian Akar Rumput.

Penghargaan itu antara lain penghargaan NETPAC Award dalam ajang "13th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2018" yang terselenggara di Yogyakarta pada 27 November-4 Desember 2018 lalu.

Kemudian, film Nyanyian Akar Rumput juga pernah diputar di "17th Festival Film Dokumenter Yogyakarta 2018".(1)

Nyanyian Akar Rumput (2018) mengambil judul dari salah satu puisi Wiji Thukul yang ia buat di tahun 1988.

Film ini mengisahkan haru biru istri dan kedua anak Thukul dalam menjalani hidup setelah suami dan/atau ayah mereka dinyatakan hilang; 10 tahun pasca puisi ditulis.

Disertai dengan footage peristiwa kerusuhan Mei 98, film ini turut mengingatkan kembali sejarah kelam bangsa Indonesia.(2)

Baca: FILM - Doctor Dolittle (1998)

Baca: FILM - Janin (2020)

  • Sinopsis #


Salah satu kasus Hak Asasi Manusia (HAM) yang sampai saat ini belum menemukan titik terang adalah kasus penghilangan paksa penyair sekaligus aktivis Wiji Thukul.

Wiji Thukul diduga kuat hilang akibat dari aktivitas politiknya melawan rezim Orde Baru.

Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) menyatakan bahwa Wiji Thukul dinyatakan hilang bertepatan dengan peningkatan operasi represif dalam upaya pembersihan aktivitas politik yang berlawanan dengan Orde Baru.

Sebanyak 22 orang aktivis diculik dalam operasi ini.

Bahkan 13 orang di antaranya –termasuk Wiji Thukul, belum diketahui keberadaannya hingga saat ini.

Kasus penculikan atau penghilangan orang secara paksa meninggalkan duka yang dalam bagi banyak pihak, terutama keluarga korban.

Bagi Sipon, istri Wiji Thukul, keadaan tersebut memaksanya harus menjadi orangtua tunggal bagi kedua orang anaknya.

Kondisi ini pula yang membuat Sipon menjadi skeptis terhadap pemerintah yang tidak pernah serius dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat.

Sikap ini turut memengaruhi pilihan politisnya pada Pemilu Presiden 2014.

Pilihan Sipon dilandasi alasan yang sangat personal yakni karena adanya nama Prabowo Subianto, mantan Jendral di rezim Orde Baru yang menjadi salah satu calon presiden kala itu.

Prabowo terduga kuat sebagai dalang di balik terbentuknyaTim Mawar; kelompok yang melaksanakan penculikan-penculikan tersebut. 

Sipon hingga saat ini terus menuntut pemerintahan terpilih untuk melanjutkan penyelidikan terhadap kasus pelanggaran HAM berat melalui Aksi “Kamisan” dan “ Menolak Lupa” bersama keluarga korban lainnya.

Berbeda dengan sang ibu, kedua anak Thukul justru bersikap apolitis.

Mereka menyuarakan perjuangan dengan cara berbeda, meski tidak jauh-jauh dari bakat seni yang diwariskan sang ayah.

Terutama anak laki-lakinya, Fajar Merah.

Meski begitu, Fajar sebenarnya tidak punya banyak memori tentang Thukul dan kerap menolak disangkut-pautkan dengan sosok yang tidak punya andil dalam tumbuh kembangnya.

Tetapi, ia kemudian mencoba mengenali sosok ayah melalui tulisan-tulisan dan cerita-cerita mengenai perjuangan sang ayah; hingga akhirnya mendapat penglihatan lain yang mencerahkan.

Bersama teman-temannya, ia kemudian membentuk sebuah grup musik bernama Merah Bercerita pada tahun 2010.

Sebagian besar lagu-lagu yang dinyanyikan dan direkam menjadi sebuah album adalah adaptasi dari puisi-puisi karya Wiji Thukul.

Pada berbagai kesempatan aksi, Fajar bersama dengan Merah Bercerita datang bukan sebagai seorang demonstran, melainkan sebagai penampil.

Dalam karya-karyanya, Fajar tidak menduplikasi utuh apa yang telah dikerjakan ayahnya di masa lalu, tetapi menambah nyawa baru lewat gubahan musik hingga membentuk lagu-lagu bernada satire.(2)

Film yang digarap hampir selama tiga tahun dengan Yuda sebagai videografer tunggal ini juga merekam perjalanan Fajar Merah mengenal bapaknya, lewat lagu-lagunya, termasuk puisi yang dilagukannya.

Yuda merencanakan awalnya film ini selesai ketika Fajar menyelesaikan album. Namun, usai itu rupanya berlanjut.

Yuda memang sengaja menghadirkan gambaran pilpres empat tahun silam.

Ketika ada seorang anak yang kehilangan bapaknya, hingga 16 tahun kemudian muncul figur yang diharapkan, yang mampu menyelesaikan kasus HAM. Termasuk kasus bapaknya, yang dihilangkan negara.

Pada 2018 lalu Pilpres digelar. Mengulang head-to-head pilpres sebelumnya.

Mengiringi itu, Nyanyian Akar Rumput (2018) hadir, “Sebagai monument ingatan buat semua, bahwa ini pernah terjadi di Indonesia. Di sisi lain, ini juga jadi penanda zaman dari gejolak jiwa muda di tengah pilpres 2014 silam,” tutup Yuda. (3)

Baca: FILM - Mangkujiwo (2020)

  • Pemain #


Fajar Merah

Fitri Nganthi Wani

Siti Dyah Sujirah

Gandhi Asta

Lintang Bumi

Yanuar Arifin

Baca: FILM - Temen Kondangan (2020)

  • Penghargaan
    • 23rd Busan International Film Festival 2018. World Premiere & Documentary Competition.
    • 13th Jogja Netpac Asian Film Festival 2018. WINNER NETPAC Award.
    • 17th Yogyakarta Documentary Film Festival 2018. Official Selection.
    • 38th Indonesian Film Festival 2018. WINNER CITRA Award. Best Documentary Feature.
    • Diorama International Film Festival 2019. Documentary Competition. New Delhi, India (4
    #


  • Trailer dan Poster #


Trailer:

Poster Film Nyanyian Akar Rumput:

Nyanyian Akar Rumput (Infoscreening.co)

(Tribunnewswiki.com/Ekarista)



Judul Film Nyanyian Akar Rumput
Genre Dokumenter
Tanggal Rilis Oktober 2018 di Busan Korea
Sutradara dan Produser Yuda Kurniawan
Produksi REKAM Docs
Studio Super 8mm Studio and Katahati Sound Post


Sumber :


1. entertainment.kompas.com
2. ffd.or.id
3. infoscreening.co


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved