Perang Suriah: Erdogan Peringatkan Negara Eropa, Turki Tidak Akan Tampung Gelombang Pengungsi Baru

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa negaranya tidak dapat lagi menampung 'gelombang pengungsi baru'.


Perang Suriah: Erdogan Peringatkan Negara Eropa, Turki Tidak Akan Tampung Gelombang Pengungsi Baru
abc.com.au
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyebut Turki tidak akan tampung gelombang imigran baru 


Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan memperingatkan bahwa negaranya tidak dapat lagi menampung 'gelombang pengungsi baru'.

Aksi yang dilakukan pihak otoritas keamanan Turki oleh pihak Amnesty International dianggap ilegal

Pihak keamanan Turki diindikasikan telah mendeportasi pengungsi ke Suriah yang karena menganggap sebagai ancaman bahaya.

Pernyataan ini tentu merupakan suatu pelanggaran hak asasi manusia.

Para pengungsi ini dilaporkan telah ditindas dan diancam dengan menggunakan kekerasan atau dimasukkan penjara.

Aparat kepolisian juga dilaporkan telah memperdaya para pengungsi untuk menandatangani dokumen "kembali secara sukarela".

Pihak kepolisian Turki meyakinkan pengungsi untuk menandatangani dokumen yang berisi form pendaftaran, kuitansi bukti pembayaran, ataupun formulir yang tertulis pernyataan bahwa mereka tidak ingin tinggal di Turki.

Sementara itu, juga terdapat dokumen yang tertulis bahwa pengungsi tidak terdaftar secara benar di tempat pengungsian.

Oleh karena itu, mereka (para pengungsi) harus kembali ke Suriah.

Menurut laporan Amnesty International, pemeriksaan rutin yang dilakukan aparat kepolisian dan petugas migrasi Turki, seperti pembaharuan dokumen atau pemeriksaan identifikasi di tempat umum, mengakibatkan para pengungsi tersebut dideportasi paksa kembali ke daerah konflik.

Klaim Turki

Merespon temuan Amnesty Internasional, pihak Turki membuat klaim bahwa pengungsi Suriah melakukan hal tersebut secara sukarela, seperti dilaporkan oleh Anna Shea, peneliti dan migran dari Amnesty Internasional.

"Klaim Turki yang menyebut para pengungsi Suriah memilih kembali ke daerah konflik sangatlah berbahaya, dan sebuah kebohongan," ujar Anna Shea.

"Sebaliknya, penelitian kami menunjukkan para pengungsi tersebut diperdaya atau dipaksa untuk kembali ke daerah konflik," tambah Shea.

Zona aman

Pihak Amnesty Internasional telah melakukan verifkasi atas 20 kasus deportasi paksa di Turki.

Dari semua kasus tersebut, para pengungsi dilaporkan telah dikirim kembali melewati perbatasan kedua negara tersebut.

Pengiriman tersebut dilakukan dengan menggunakan sebuah bus dengan kondisi tangan mereka diikat.

Mayoritas dari pengungsi yang dideportasi adalah laki-laki.

Tak hanya itu, pihak Amnesty Internasional juga menemukan para remaja serta sejumlah keluarga yang mempunyai anak kecil.

Keluarga yang memiliki anak kecil ini ikut dikirim kembali ke zona perang.

"Sangatlah mengerikan kesepakatan yang tercapai antara Turki dengan Rusia minggu ini terkait masalah deportasi pengungsi ini, sementara belum ada penetapan zona aman. Dipindahkannya para pengungsi hingga kini sangatlah tidak aman dan sekarang jutaan pengungsi asal Suriah dalam bahaya," tutur Shea.

Turki langgar kesepakatan?

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pada hari Kamis (24/10) menuduh Turki dan sekutunya melanggar perjanjian gencatan senjata selama dua minggu.

Komandan pasukan SDF, Mazloum Abdi, mengatakan pasukan militer Turki dan "jihadis mereka" terus melancarkan serangan di perbatasan timur kota Ras al-Ain.

Ia pun meminta Rusia dan Amerika untuk mengendalikan Turki.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Turki mengatakan lima tentara terluka di dekat perbatasan kota akibat diserang oleh milisi Kurdi YPG, aliansi utama pasukan SDF.

Turki menganggap milisi Kurdi YPG sebagai kelompok teroris yang berafiliasi dengan pemberontak Kurdi yang berperang di Turki.

"Tindakan tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk membela diri," terang Kementerian Pertahanan Turki.

Secara terpisah, media pemerintah Suriah mengatakan pasukan Turki dan sekutunya bentrok dengan pasukan Suriah di luar kota Tal Tamr, menyoroti sistuasi konflik yang tengah berlangsung dan potensi keikutsertaan Ankara dan Damaskus ke dalam konflik ini.

Media pemerintah Suriah tersebut melaporkan sejumlah pasukan Suriah terluka dalam insiden tersebut.

 

Baca: Turki Tangkap Anggota Keluarga Baghdadi, Erdogan: Kami Tak Ribut seperti Amerika

Baca: Kisah Narapidana ISIS Asal Australia: Mengaku Direkrut dalam Acara Amal & Diizinkan Tentara Turki

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)





Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh




ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved