Gang Dolly Surabaya

Kawasan Gang Dolly Surabaya yang telah ditutup oleh Pemkot Surabaya, memiliki rekam jejak sejarah yang cukup panjang begini kisah selengkapnya


Gang Dolly Surabaya
grid.id/majalah-Jakarta
Advenso Dollyres Chavit dan keluarga














Kawasan Gang Dolly Surabaya yang telah ditutup oleh Pemkot Surabaya, memiliki rekam jejak sejarah yang cukup panjang begini kisah selengkapnya




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Masyarakat Surabaya dan Indonesia sudah tidak asing lagi dengan, nama Gang Dolly di Surabaya.

Gang Dolly awalnya merupakan kawasan prostitusi terbesar di Surabaya.

Nama Gang Dolly disematkan bukan tanpa arti, Dolly merupakan nama seseorang perempuan berdarah Filipina dan Jawa kelahiran Surabaya.

  • Advonso Dollyres Chavit


Awalnya nama Dolly merupakan nama panggilan dari Advonso Dollyres Chavit.

Sang ayah bernama Chavit kelahiran Filipina dan ibunda bernama Herliah asli orang Jawa, Dolly lahir sekitar tahun 1929 di Surabaya.

Dolly sempat mengenyam pendidikan Sekolah Mindo (Selevel SMP), namun tidak tamat lantaran perang berkecamuk.

Ibunda Dolly merupakan golongan masyarakat kelas menengah ke bawah, sehingga hidup Dolly dalam keadaan terbatas.

Dolly diketahui sebagai sosok yang religius, karena orangtuanya mendidik untuk sering ke Gereja untuk mengingat Tuhan.

Memasuki umur 16 Dolly mulai memberontak, dan mulai merokok layaknya seorang pria Belanda.

Rokok yang dihisapnya pun tidak sembarangan, yakni bermerek Escort, Commodore, atau Kansan.

Meskipun terlihat tomboy Dolly muda tidak dapat menutupi kecantikannya.

Menjelang umur 20 tahun, Dolly menikah dengan Yakup seorang kelasi Belanda dan memiliki anak laki-laki.

Ketika sang anak memasuki umur lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia.

Dolly pun akhirnya mulai menghadapi krisis keuangan, karena harus mengurusi rumah tangga sendirian dan mengurus sang anak.

Terlebih ketika sang anak menginginkan membeli es krim, yang merupakan jajan mahal masa itu.

Dolly muda harus dapat membesarkan anak, dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Untuk menutup semua kebutuhan, Dolly dengan terpaksa memutuskan untuk bekerja di dunia prostitusi awal tahun 1950.

Paras Dolly yang cantik dan fasih berbahasa Belanda, membuatnya banyak dicari oleh laki-laki.

Dan saat itulah Dolly menjadi idola, khususnya bagi ekspatriat yang baru turun dari kapal di Surabaya.

Dengan fisik yang sempurna, Dolly biasa melayani lelaki di Hotel Simpang atau LMS.

Dolly dalam melayani lelaki tidak pernah mau menerima bayaran, namun hanya menerima berbagai barang mahal.

Mengetahui hal tersebut lelaki ekspatriat banyak yang ingin menikahi Dolly, namun pihaknya lebih memilih menjadi orangtua tunggal.

Dolly lebih memilih menjadi orangtua tunggal, lantaran takut apabila anak tunggalnya menerima perlakuan kasar dari ayah tiri.

Keluarga Advonso Dollyres Chavit
Keluarga Advonso Dollyres Chavit (instastoryviewer.net)

  • Kisah Hidup Advenso Dollyres Chavit


Kembang Kuning Surabaya, merupakan komplek pelacuran terbesar di Indonesia.

Awal tahun 1960 Dolly mulai berhijrah ke Kembang Kuning, dan diasuh oleh Tante Beng seorang mucikari tersohor waktu itu.

Dolly selama delapan tahun hidup bersama, dan menjadi anak kesayangan Tante Beng.

Tante Beng selian orangtua asuh, juga guru bagi Dolly.

Tahun 1969 Dolly memutuskan pindah, ke Kawasan Kupang Gunung dan mendirikan ‘Wisma’ .

‘Wisma’ merupakan istilah lain dari rumah bordil.

Dalam ‘Wisma’ dibedakan hingga empat status yakni remaja, mamamia, Nirmala, dan wisma tentrem.

Dolly merancang ‘wisma’ tersebut sendirian, berbekal ilmu yang didapatkan dari kedua orantuannya.

Kawasan Eks Lokalisasi Dolly Surabaya
Kawasan Eks Lokalisasi Dolly Surabaya (tirto.id/Kukuh Bimo N)

  • Kehidupan Pribadi Dolly


Dolly mengaku bukan seorang germo, Karena tidak ada keluarganya berprofesi sebagai germo.

Dolly pun menilai bahwa bekerja sebagai germo atau pelacur sangat tidak baik, dan menyengsarakan.

Profesi Pekerja Seks Komersial, menurut Dolly bukanlah dosa karena para penjaja berusaha untuk mencari makan dan lelaki datang dengan sendiri.

Dolly sukses menghidupi dirinya dan orang lain berawal dari, menyewakan ‘wisma’ yang dimiliki ke orang lain.

Hingga tahun 1990 Dolly lebih memilih Malang sebagai tempat tinggalnya, dan mulai mengasuh 10 orang psk.

Selain psk, Dolly juga merawat seorang perempuan penderita kanker.

Suasana akhir pekan terakhir kawasan Gang Dolly
Suasana akhir pekan terakhir kawasan Gang Dolly (nationalgrographic.grid.id/)

  • Prinsip Hidup Dolly


Dolly mengaku bukan seorang germo, Karena tidak ada keluarganya berprofesi sebagai germo.

Dolly pun menilai bahwa bekerja sebagai germo atau pelacur sangat tidak baik, dan menyengsarakan.

Profesi Pekerja Seks Komersial, menurut Dolly bukanlah dosa karena para penjaja berusaha untuk mencari makan dan lelaki datang dengan sendiri.

Dolly sukses menghidupi dirinya dan orang lain berawal dari, menyewakan ‘wisma’ yang dimiliki ke orang lain.

Hingga tahun 1990 Dolly lebih memilih Malang sebagai tempat tinggalnya, dan mulai mengasuh 10 orang psk.

Selain psk, Dolly juga merawat seorang perempuan penderita kanker.

Nama Gang Dolly awalnya merupakan kawasan prostitusi yang dibuka pertama kali oleh Advenso Dollyer Chavit.

Dolly mendirikan kawasan tersebut, kemudian menyewakan kawasan tersebut ke orang lain dan memilih pindah ke Malang.

Sebenarnya Dolly sudah berkeinginan untuk menghapus nama Dolly dari Kawasan Gang Dolly Surabaya, namun urung dilakukan.

Suasana kampung Gang Dolly sebelum ditutup
Suasana kampung Gang Dolly sebelum ditutup (nationalgrographic.grid.id/)

________________________________

Referensi:

Eddy Suhardi."Majalah Jakarta No 270. Advonso Dolly Chevit". 1991.

(*)

(TribunnewsWiki.com/Ibnu)



Informasi
Nama Kawasan Gang Dolly Surabaya
Sebagai Kawasan Prostitusi
Alamat Kembang Kuning Surabaya
Pendiri Advonso Dollyres Chevit
Panggilan Dolly
Tahun Berdiri 1960
Kondisi Terkini Tutup Permanen


Sumber :








ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved