Friedrich Silaban

Friedrich Silaban adalah seorang arsitek generasi awal di negeri Indonesia. Sosok Friedrich Silaban dikenal dengan sejumlah karya arstikektur yang kemudian menjadi landmark di Indonesia.


Friedrich Silaban
Kompas.com
Friedrich Silaban 

Friedrich Silaban adalah seorang arsitek generasi awal di negeri Indonesia. Sosok Friedrich Silaban dikenal dengan sejumlah karya arstikektur yang kemudian menjadi landmark di Indonesia.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Friedrich Silaban adalah seorang arsitek generasi awal di negeri Indonesia.

Sosok Friedrich Silaban dikenal dengan sejumlah karya arstikektur yang kemudian menjadi landmark di Indonesia.

Yakni Stadion Utama Gelora Bung Karno, Monumen Nasional dan Masjid Istiqlal.

Friedrich Silaban merupakan arsitek kesayangan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno.

  • Kehidupan Awal


Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, Friedrich Silaban hanya bersekolah di HIS Narumonda, Tapanuli, Sumatera Utara, dan Koningin Wilhelmina School, sebuah sekolah teknik di Jakarta.

ia kemudian bekerja menjadi pegawai Kotapraja Batavia, Opster Zeni AD Belanda, Kepala Zenie di Pontianak Kalimantan Barat (1937) dan sebagai Kepala DPU Kotapraja Bogor hingga 1965.

Seiring perjalanan waktu, ia terkenal dengan berbagai karya besarnya di dunia arsitektur dan rancang bangun.

Beberapa hasil karyanya menjadi simbol kebanggaan bagi daerah tersebut. (1) (2)

Friedrich Silaban 2
Friedrich Silaban

  • Karier Arsitektur


Friedrich Silaban menerima anugerah Tanda Kehormatan Bintang Jasa Sipil berupa Bintang Jasa Utama dari pemerintah atas prestasinya dalam merancang pembangunan Masjid Istiqlal.

Frederich Silaban juga merupakan salah satu penandatangan Konsepsi Kebudayaan yang dimuat di Lentera dan lembaran kebudayaan harian Bintang Timur mulai tanggal 16 Maret 1962.

Yakni sebuah konsepsi kebudayaan untuk mendukung upaya pemerintah untuk memajukan kebudayaan nasional.

Friedrich Silaban juga berperan besar dalam pembentukan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Pada April 1959, Ir. Soehartono Soesilo yang mewakili biro arsitektur PT Budaya dan Ars. F. Silaban merasa tidak puas atas hasil yang dicapai pada Konferensi Nasional di Jakarta.

Mereka berpendapat pekerjaan perancangan berada di dalam lingkup kegiatan profesional (konsultan), yang mencakupi tanggung jawab moral dan kehormatan perorangan yang terlibat.

Sebaliknya pekerjaan pelaksanaan (kontraktor) cenderung bersifat bisnis komersial.

Akhir kerja keras dua pelopor ini bermuara pada pertemuan besar pertama para arsitek dua generasi di Bandung pada tanggal 16 dan 17 September 1959.

Pertemuan ini dihadiri 21 orang, tiga orang arsitek senior, yaitu: Ars. Friedrich Silaban, Ars. Mohammad Soesilo, Ars. Liem Bwan Tjie dan 18 orang arsitek muda lulusan pertama Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung tahun 1958 dan 1959.

Dalam pertemuan tersebut dirumuskan tujuan, cita-cita, konsep Anggaran Dasar dan dasar-dasar pendirian persatuan arsitek murni, sebagai yang tertuang dalam dokumen pendiriannya, “Menuju dunia Arsitektur Indonesia yang sehat”.

Pada malam yang bersejarah itu resmi berdiri satu-satunya lembaga tertinggi dalam dunia arsitektur profesional Indonesia dengan nama Ikatan Arsitek Indonesia disingkat IAI. (2)

Friedrich Silaban memenangkan kompetisi untuk merancang tugu nasional.

Pada diskusi Minggu lalu, sempat dibahas bahwa awalnya rancangan tugu nasional ini penuh dengan perdebatan.

Bahkan sempat ada dua kali kompetisi demi mendapatkan rancangan yang terbaik.

Pada awalnya tugu ini memiliki bentuk yang sangat besar, kira-kira bisa mencapai 4x lipat ukuran Monas sekarang.

Silaban bisa memenangkan kompetisi ini karena rancangannya bisa menguasai ruang yaitu lapangan Medan Merdeka yang sangat luas dan tidak simetris.

Presiden Soekarno juga sempat turut serta dan ikut campur terhadap rancangan yang dibuat.

Akhirnya pada 17 Agustus 1961 Monumen Nasional mulai dibangun dan diresmikan justru bukan pada era pemerintahan Soekarno yang memiliki gagasan, tetapi baru diresmikan pada 1975. (3)

Puncak Monumen Nasional yang dilapisi emas.
Puncak Monumen Nasional yang dilapisi emas. (Kompas Images/Roderick Adrian Mozes)

  • Hasil Karya
    • Gedung Universitas HKBP Nommensen - Medan (1982)
    • Stadion Utama Gelora Bung Karno - Jakarta (1962)
    • Rumah A Lie Hong - Bogor (1968)
    • Monumen Pembebasan Irian Barat - Jakarta (1963)
    • Markas TNI Angkatan Udara - Jakarta (1962)
    • Gedung Pola - Jakarta (1962)
    • Gedung BNI 1946 - Medan (1962)
    • Menara Bung Karno - Jakarta 1960-1965 (tidak terbangun)
    • Monumen Nasional / Tugu Monas - Jakarta (1960)
    • Gedung BNI 1946 - Jakarta (1960)
    • Gedung BLLD, Bank Indonesia, Jalan Kebon Sirih - Jakarta (1960)
    • Kantor Pusat Bank Indonesia, Jalan Thamrin - Jakarta (1958)
    • Rumah Pribadi Friderich Silaban - Bogor (1958)
    • Masjid Istiqlal - Jakarta (1954)
    • Kantor Dinas Perikanan - Bogor (1951)
    • Tugu Khatulistiwa - Pontianak (1938)
    • Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata - Jakarta (1953)
    • Kampus Cibalagung, Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP)/Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) - Bogor (1953)


(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas)



Info Pribadi
Nama Lengkap Friedrich Silaban
Tempat dan Tanggal Lahir Bonan Dolok, Sianjur Mulamula, Samosir, Sumatra Utara, Hindia Belanda, 16 Desember 1912
Meninggal Jakarta, 14 Mei 1984
Kebangsaan Indonesia


Sumber :


1. nationalgeographic.grid.id
2. www.silaban.net
3. idea.grid.id






ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved