Suku Pulau Sentinel

Suku Sentinelese hidup di Pulau Sentinel, yang berada di dua negara berbeda yakni Indonesia dan India


Suku Pulau Sentinel
grid.id/medium.com
Dihuni Suku Pedalaman Paling Berbahaya, Inilah Fakta Pulau Sentinel yang Terletak di Ujung Barat Laut Indonesia 

Suku Sentinelese hidup di Pulau Sentinel, yang berada di dua negara berbeda yakni Indonesia dan India




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pulau Sentinel berada di ujung Barat Laut Indonesia dan dihuni suku pedalaman paling berbahaya di dunia.

Pulau Sentinel menjadi tempat tinggal masyarakat suku pedalaman yang tidak segan membunuh siapapun yang mencoba memasuki wilayahnya.

Pulau ini sebenarnya berada di Teluk Benggala India dan masuk dalam gugusan Kepulauan Andaman India.

Selama 60.000 tahun, penduduk asli Suku Sentinel tidak berinteraksi dengan dunia luar dan memiliki cara hidupnya sendiri.

Keadaan ini didukung dengan letaknya yang terpencil dan tidak memiliki pelabuhan alami, ditambah dengan karang-karang tajam mengelillingi hampir seluruh pulau dan tertutup dengan hutan lebat. [1]

Pulau Sentinel  di kawasan Gugusan Kepulauan Andaman India
Pulau Sentinel di kawasan Gugusan Kepulauan Andaman India (grid.id/Wikimedia Commons)


Suku Sentinel sejak masa kolonial dikenal sebagai suku kanibal dan bar-bar, namun tidak ada bukti pendukung mengenai fakta tersebut.

Akhir abad ke-20, pemerintah India selaku pengelola Kepulauan Andaman dan Nikobar tempat masyarakat Sentinel berada, sudah berupaya dilakukan komunikasi dengan Suku Sentinel.

Namun upaya tersebut selalu diakhiri dengan luncuran panah oleh penduduk asli Pulau Sentinel dari pinggir pantai.

Meskipun kontak sebelumnya tidak membuahkan hasil, di awal 1990 diketahui suku Sentinel bersedia menerima kelapa dari para antropolog yang tergabung Anthropological Survey of India (AnSI).

Salah satu tim peneliti, yakni Madhumala Chattopadhyay berusaha membuat mempelajari suku-suku pedalaman di Kepulauan Andaman dan Nikobar.

Madhumala merupakan antropolog senior yang menghabiskan waktu enam tahun untuk meneliti dan mempublikasikan 20 karya ilmiah mengenai mereka.

Madhumala juga seorang penulis buku berjudul Tribes of Car Nicobar.

Sebelum Madhumala terlibat dalam ekspedisi di Pulau Sentinel Utara tahun 1991, dirinya mendapat reaksi mengenai wanita diragukan untuk terlibat dalam ekspedisi suku pedalaman yang ‘tidak ramah’.

Madhumala Chattopadhyay akhirnya tergabung dengan ekspedisi menuju Pulau Sentinel Utara, sebagai antropolog wanita pertama yang berkomunikasi dengan suku Sentinel. [2]

Ilustrasi masyarakat pulau Sentinel yakni Suku Sentinel
Ilustrasi masyarakat pulau Sentinel yakni Suku Sentinel (scientificmystery.com)

  • Ekspedisi Berawal dengan Memberikan Kelapa


Madhumala Chatopadhyay mencapai Pulau Sentinel Utara menggunakan perahu kecil dan disambut oleh anggota suku Sentinel yang berada di pinggir pantai dengan membawa busur dan panah.

Ekspedisi dimulai dengan mengapungkan buah kelapa ke arah suku Sentinel di pinggir pantai.

Tanpa diduga, anggota suku Sentinel menginjakkan kaki ke air untuk mengambil buah kelapa yang telah dihanyutkan.

Pengambilan kelapa dilakukan oleh kaum pria Sentinel, sementara wanita dan anak-anak menonton dari pinggir hutan.

Meskipun suku Sentinel menerima kelapa yang diberikan tim ekspedisi, ancaman dari serangan Suku Sentinel masih cukup kuat.

Hingga akhirnya tim dari AnSI berhasil mecapai bibir pantai, namun anggota suku tidak mengajak ke tempat tinggal mereka. [3]

Kolase dari Dr Madhumala Chattopadhyay
Kolase dari Dr Madhumala Chattopadhyay (thelogicalindia.com/Sayantani Nath)

  • Pertemuan Berikutnya Berakhir Pengusiran


Sepuluh bulan berselang, Madhumala Chattopadhyay datang kembali ke Pulau Sentinel Utara dengan tim lebih besar.

Harapannya adalah suku Sentinel lebih bersahaja dengan para peneliti.

Harapan mereka kemudian terwujud karena Suku Sentinel mengetahui keberadaan tim peneliti dan mendekati mereka tanpa bersenjata.

Seperti sebelumnya, Suku Sentinel mengambil kelapa yang dibawa di atas kapal, mereka bahkan membawa senapan milik polisis yang terlihat bagai sepotong logam.

Keakraban yang telah dijalin oleh Madhumala Chattopadhyay harus berubah ketika salah satu peneliti mencoba mengambil hiasan dari daun yang dikenakan anggota suku pria.

Sang pria akhirnya marah dan mengeluarkan pisau hingga membuat seluruh tim peneliti meninggalkan pulau Sentinel.[4]

Dr Madhumala Chattopadhyay dan timnya bersama Suku Sentinel di tahun 1991
Dr Madhumala Chattopadhyay dan timnya bersama Suku Sentinel di tahun 1991 (thelogicalindia.com/Sayantani Nath)

  • Perjalanan Terakhir


Perjalanan ketiga ke Pulau Sentinel Utara terhalang akibat cuaca buruk dan tidak menemukan satu orang pun di pinggir pantai Pulau Sentinel.

Tim peneliti akhirnya memutuskan kembali ke India dan pemerintah India memutuskan untuk mengurangi waktu kunjungan ke Pulau Sentinel Utara untuk melindungi Suku Sentinel dari virus penyakit.

Suku Sentinel telah hidup berabad-abad di Pulau Sentinel tanpa masalah.

Masalah mereka muncul setelah melakukan kontak dengan suku maupun orang luar wilayahnya.

Suku Sentinel masih memegang teguh adat budaya dan ajaran nenek moyang mereka yang hidup berdampingan dengan alam. [5]

Dr Madhumala ketika berinteraksi dengan anak-anak Jarawa (Jarawa= bahasa daerah Pulau Sentinel)
Dr Madhumala ketika berinteraksi dengan anak-anak Jarawa (Jarawa= bahasa daerah Pulau Sentinel) (thelogicalindia.com/Sayantani Nath)

(*)

(TribunnewsWiki.com/Ibnu Rustamaji)



Informasi -
Nama Suku Suku Sentinelese
Asli Pulau Sentinel India
Lokasi 1. Sabang, Aceh, Ujung Barat Laut Indonesia
2. Teluk Benggala India.
3. Gugusan Kepualauan Andaman India
Bahasa Resmi 1. Bahasa Jarawa
2. Bahasa Adat Suku Sentinel
Kemerdekaan 1970


Sumber :


1. www.grid.id
2. nationalgeographic.grid.id
3. nationalgeographic.grid.id






ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved