Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Tari Sining merupakan satu diantara banyak tradisi yang telah memiliki Hak Intelektual Komunal (HIK), dari Kementerian Hukum dan Ham Republik Indonesia.
Tarian Sining sebenarnya sejak tahun 1942, sudah tidak pernah dimainkan kembali.
Sementara itu Sining merupakan Tarian Khas Aceh Tengah, tarian ini dimainkan dua orang dan membawakan cerita tentang pembangunan rumah adat Gayo.
Tari Sining merupakan bagian dari periodesasi ketiga, dalam sejarah tari Indonesia.
Pembagian periodesasi tari Indonesia didasarkan atas periode sebelum Masehi, Pengaruh Budaya Hindu mulai abad ke-1 Masehi, Pengaruh Budaya Islam mulai abad ke-13 Masehi, Pengaruh Budaya Eropa abad ke-15 Masehi, dan Periode Kemerdekaan 1945[1].
Sejarah Tari Sining #
Tari Sining diperkirakan muncul dan eksis pada sekitar abad ke-18 dan awal abad ke-19.
Dalam kehidupan masyarakat Gayo tempo dulu, tari ini digelar dalam dua prosesi adat saat mendirikan rumah baru, dan sebagai bagian dari prosesi upacara memandikan dan penobatan raja (munikni reje).
Pada prosesi mendirikan rumah, Tari Sining ditarikan di atas kayu (bere lintang) yang melintang di antara dua fondasi dengan ketinggian mencapai 8 hingga 12 meter di atas permukaan tanah.
Sehari sebelumnya, tari ini juga ditarikan di atas dulang dalam posisi merapat ke tanah.
Pada prosesi kedua, Tari Sining dilakukan ketika akan melantik atau menobatkan seorang raja.
Tarian digelar di tempat terbuka (lapangan) atau dekat dengan sumber air (pinggiran danau).
Sebagai bagian dari prosesi penobatan, Tari Sining juga dilaksanakan secara berkala setiap tahunnya kepada raja sebagai simbol pembersihan diri atas segala khilaf selama memimpin.
Diiringi syair mistik dan kuat, Tari Sining dapat digambarkan sebagai tari yang indah, energik, dinamis dan simbolik yang mengambarkan dan menirukan gerakan burung ungau dan burung wo[2].
Lirik Syair Pengiring Tarian #
Berikut lirik syair musik pengiring Tari Sining:
“Hee Kayu ari uten rime simo”rip wan arul pematang, Bur ijo tingir I sagi ni karang.
Tabi ko ulung ranting cabang, batang lesuh rues rantang Sibergel Jempa, Gesing, Kuli, Keruwing atawe Medang.
Tuahmu bang si cacak bepilih kati kutebang Malé kurasuk.
Kupantik kin reje tiang
Penupang ni supu, sesérénni rering
Sike ko kaso turun, bere bujur, ko bere lintang.”
Apabila dinyanyikan dengan Bahasa Indonesia maka berbunyi:
“Wahai kayu dari hutan rimba yang hidup di lembah dan ketinggian, Gunung biru curam di tepi tebing.
Maaf kepada daun ranting cabang, batang lurus ruas angina Yang bernama Jempa, Gesing, Kuli, Keruwing ataupun Medang.
Tuahmulah yang layak bepilih hendak kutebang.
Akan kurasuk susun, kutegakkan unutk reje tiang.
Penopang atap supu, tempat sandaran dinding.
Kaulah kayu turun, balok bujur, kaulah balok lintang.” [3]
Filosofi Tari Sining #
Filosofi tari ini adalah sebagai simbol kekuatan, keteduhan, kedamaian dan keharmonisan antara penghuni rumah dengan alam.
Tari Sining dalam masyarakat Gayo digelar dalam dua prosesi adat yang sacral, kedua prosesi tersebut adalah:
1. Sebagai tarian prosesi pembangunan tempat hunian, dan
2. Sebagai tarian pengiring dalam upacara memandikan dalam rangka melantik pemimpin baru.
Proses tersebut harus dilakukan oleh ketua adat dan rakyat secara bersama, guna memperkuat kearifan lokal terhadap pemimpinya.
Rakyat yang baik adalah rakyat yang mau mengingatkan pemimpinya yang keliru, begitu juga pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau memperbaiki kekeliruannya dengan tetap mengagungkan rakyat sebagai pemegang adat.
Tarian Sining apabila dipertunjukan secara utuh untuk raja, disebut sebagai tari “Turun Kowih/Turun Ku Lut.”
Tari Sining merupakan konteks karya dan ekspresi budaya masyarakat, dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal.
Tarian ini merupakan perwujudan masyarakat dalam menginterpretasikan masalah kehidupan sosial, dan menginginkan kemakmuran, kebahagiaan, dan rasa aman dalam bentuk kesenian[4].
Video #
Berikut video Tari Sining masyarakat Gayo Aceh:
(*)
(TribunnewsWiki.com/Ibnu Rustamaji)
| Nama Tarian | Tari Sining |
|---|
| Asal | Gayo, Aceh |
|---|
Sumber :
1. aceh.tribunnews.com
2. kebudayaan.kemdikbud.go.id
3. kebudayaan.kemdikbud.go.id
4. kebudayaan.kemdikbud.go.id