PT Dirgantara Indonesia

PT Dirgantara Indonesia (DI) merupakan industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara.


zoom-inlihat foto
pt-dirgantara-indonesia.jpg
Tribunnewswiki.com
PT Dirgantara Indonesia

PT Dirgantara Indonesia (DI) merupakan industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - PT Dirgantara Indonesia (DI) merupakan industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara.

Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia.

DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur.

Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985.

Setelah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000.

  • Sejarah


SEBELUM KEMERDEKAAN INDONESIA

Sejak mithologi boneka Indonesia, berkembang dalam kehidupan budaya orang Indonesia dan sosok Gatotkaca menjadi tokoh legendaris sebagai 'pahlawan terbang', keinginan orang Indonesia untuk memiliki kemampuan terbang sejak saat itu sangatlah tinggi.

Pada era pemerintah kolonial Belanda, tidak ada program desain pesawat terbang, melainkan mereka melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan lisensi, evaluasi teknis dan keselamatan untuk semua pesawat yang beroperasi di seluruh Indonesia.

Pada tahun 1914, Bagian Uji Terbang (Bagian Uji Terbang) didirikan di Surabaya dengan tugas untuk mempelajari kinerja penerbangan pesawat di wilayah tropis.

Kemudian pada tahun 1930, diikuti oleh pembentukan Bagian Produksi Pesawat (Bagian Pembuatan Pesawat Udara) yang menghasilkan pesawat AVRO-AL Kanada, dimana badan pesawat yang dimodifikasi terbuat dari kayu lokal.

Fasilitas manufaktur ini kemudian dipindahkan ke Lapangan Udara Andir atau Lapangan Terbang Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara).

Pada periode inilah minat untuk membuat pesawat dikembangkan di bengkel milik pribadi.

Pada tahun 1937, delapan tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, dari permintaan pengusaha lokal dan beberapa pemuda Indonesia, yang dipimpin oleh Tossin membangun pesawat terbang di sebuah bengkel yang berlokasi di Jl. Pasirkaliki, Bandung.

Mereka menamakannya pesawat PK. KKH.

Pesawat ini pernah mengejutkan dunia penerbangan saat itu karena kemampuannya yang dapat terbang ke Belanda, Tiongkok dan sebaliknya.

Sebelum ini, sekitar tahun 1922, Indonesia bahkan telah terlibat dalam modifikasi pesawat di rumah pribadi di Jl. Cikapundung, Bandung.

Pada tahun 1938, atas permintaan LW. Walraven dan MV. Patist - desainer PK. KKH - pesawat kecil dibangun di bengkel di Jl. Kebon Kawung, Bandung.

ERA KEMERDEKAAN

Pada tahun 1946, Biro Perencanaan & Konstruksi didirikan di TRI-Udara atau Angkatan Udara Indonesia (sekarang disebut TNI-AU).

Disponsori oleh Wiweko Supono, Nurtanio Pringgoadisurjo, dan Sumarsono, sebuah lokakarya yang khusus didirikan di Magetan, dekat Madiun, Jawa Timur.

Dari bahan sederhana sejumlah Zogling, pesawat ringan NWG-1 pun dibuat.

Pembuatan pesawat ini juga melibatkan Tossin, didukung oleh Ahmad, cs.

Jumlahnya enam, pesawat itu digunakan untuk mengembangkan minat penerbangan bagi masyarakat Indonesia dan pada saat yang sama juga digunakan untuk memperkenalkan dunia penerbangan kepada para calon pilot yang siap mengikuti pelatihan penerbangan di India.

Kemudian pada tahun 1948 mereka berhasil membuat mesin pesawat pertama, ditenagai oleh mesin Harley Davidson, yang disebut WEL-X. Dirancang oleh Wiweko Supono, pesawat itu kemudian dikenal sebagai RI-X.

Era ini ditandai dengan munculnya sejumlah klub aeromodelling yang menyebabkan lahirnya pelopor teknologi penerbangan, bernama Nurtanio Pringgoadisuryo.

Tetapi mereka harus menghentikan kegiatan ini karena Pemberontakan Madiun komunis dan agresi Belanda.

Pada periode ini kegiatan penerbangan dilakukan sebagai bagian dari revolusi fisik untuk kebebasan nasional.

Pesawat yang tersedia disini dimodifikasi untuk misi tempur.

Agustinus Adisutjipto adalah sosok yang paling luar biasa dalam periode ini, yang merancang dan menguji terbang sebuah pesawat serta menerbangkannya dalam pertempuran udara.

Dia memodifikasi pesawat Cureng menjadi versi serangan darat.

Setelah era pendudukan Belanda berakhir, kegiatan yang disebutkan di atas dilanjutkan di Bandung di lapangan terbang Andir - yang kemudian dikenal sebagai Bandara Husein Sastranegara. Pada tahun 1953 kegiatan ini dilembagakan menjadi Seksi Percobaan (Bagian Percobaan).

Dikelola oleh 15 anggota, yang berada di bawah pengawasan Komando Depot Perawatan Teknik Udara, dipimpin oleh Mayor Udara Nurtanio Pringgoadisurjo.

Berdasarkan desain Nurtanio, pada 1 Agustus 1954, bagian tersebut berhasil menerbangkan prototipe 'Si Kumbang', sebuah pesawat yang terbuat dari full logam dengan satu tempat duduk dan dibuat sebanyak tiga unit.

Pada tanggal 24 April 1957, berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Indonesia No. 68, Seksi Percobaan dikembangkan menjadi organisasi yang lebih besar, bernama Sub Depot Penyelidikan, Percobaan & Pembuatan.

Pada tahun berikutnya, 1958, purwa-rupa pelatih dasar "Belalang 89" berhasil diterbangkan.

Sebagai produksi berseri, pesawat setelahnya disebut Belalang 90 dan dibuat dalam 5 unit, dan mereka mengambil beberapa calon pilot terbaik di Akademi Angkatan Udara & Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Akademi Angkatan Udara & Pusat Penerbangan Angkatan Darat).

Pada tahun yang sama, pesawat sport "Kunang 25" diterbangkan. Filosofi dari pesawat ini adalah untuk memotivasi generasi muda Indonesia yang tertarik pada bidang pembuatan pesawat.

Untuk meningkatkan latar belakang aeronautika mereka, selama periode 1960an – 1964, Nurtanio dan tiga kolega lainnya dikirim ke Far Eastern Air Transport Incorporated (FEATI) Filipina, salah satu universitas aeronautika pertama di Asia.

Setelah menyelesaikan studi mereka, mereka kembali ke Bandung untuk bekerja di LAPIP.

PARADIGMA BARU

Selama 24 tahun terakhir pendiriannya, IPTN telah berhasil mentransfer teknologi penerbangan yang canggih dan mutakhir, sebagian besar dari belahan bumi barat, ke Indonesia.

IPTN telah menguasai desain pesawat, pengembangan, dan manufaktur komuter regional kecil hingga menengah.

Dalam menghadapi sistem pasar global baru, IPTN mendefinisikan kembali dirinya menjadi 'IPTN 2000' yang menekankan pada penerapan strategi baru, berorientasi bisnis, untuk memenuhi situasi saat ini dengan struktur yang baru.

Program restrukturisasi meliputi reorientasi bisnis, membenarkan dan menyusun sumber daya manusia dengan beban kerja yang tersedia, dan kapitalisasi yang kuat berdasarkan pasar yang lebih fokus dan misi bisnis yang lebih terkonsentrasi.

IPTN kini menjual kemampuan tingginya di bidang teknik – dengan menawarkan desain untuk menguji layanan aktivitas, manufaktur, komponen pesawat dan non-pesawat serta layanan purna jual.

Dalam hubungan inilah nama IPTN telah diubah menjadi PT DIRGANTARA INDONESIA (PERSERO) atau Indonesian Aerospace disingkat IAe yang secara resmi diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, KH. Abdurrahman Wahid, di Bandung pada 24 Agustus 2000.

  • Visi dan Misi


Visi:

Menjadi Pemimpin Pasar Pesawat Turboprop Kelas Menengah Dan Ringan Serta Menjadi Acuan Dari Perusahaan Dirgantara Di Wilayah Asia Pasifik Dengan Mengoptimalkan Kompetensi Industri Dan Komersial Terbaik.

Misi:

  • Sebagai pusat kompetensi dalam industri kedirgantaraan dan misi militer serta untuk aplikasi non-aerospace yang relevan.
  • Sebagai pemain kunci di industri global yang memiliki aliansi strategis dengan industri kedirgantaraan kelas dunia lainnya.
  • Memberikan produk dan jasa yang kompetitif dalam hal kualitas dan biaya.

  • Produksi


Pesawat Sayap Tetap

  • N-2130, proyek Dihentikan karena krisis finansial Asia 1997
  • N-250, proyek Dihentikan karena krisis finansial Asia 1997
  • NC-212
  • CN-235
  • N219 Nurtanio 
  • CN-235 NG, pengembangan dari CN-235 dengan peningkatan kapasitas pesawat
  • Sikumbang produksi era Nurtanio
  • Belalang produksi era Nurtanio
  • Kunang produksi era Nurtanio
  • Gelatik produksi era LAPIP lisensi dari CEKOP Polandia (sekarang dikenal dengan nama PZL)

Komponen pesawat (sebagai sub-kontraktor pabrikan luar negeri)

  • Komponen sayap dari Boeing 737
  • Komponen sayap dari Boeing 767
  • Komponen sayap dari Airbus A320
  • Komponen sayap dari Airbus A330
  • Komponen sayap dari Airbus A340
  • Komponen sayap dari Airbus A380
  • Komponen sayap dari Airbus A350
  • Komponen ekor dari Sukhoi Superjet 100

Helikopter

  • NBO 105 dipergunakan secara luas di Indonesia, lisensi dari MBB Jerman. Dihentikan sejak juli 2011.
  • NBK 117
  • NBell 412 lisensi dari Bell Helicopter, AS
  • NAS 330 Puma lisensi dari Aerospatiale, Prancis
  • Eurocopter 332 Super Puma Pengembangan dari Puma, lisensi dari Eurocopter, Prancis
  • Eurocopter Fennec pengganti NBO 105.
  • Eurocopter Ecureuil pengganti NBO 105.
  • Eurocopter EC725
  • Tailboom dan fuselage dari EC 725 dan EC 225

Lainnya

  • SUT Torpedo
  • Turbin Uap 2 MW oleh PT Nusantara Turbin Propulsi (anak perusahaan PT. DI)
  • Turbin Uap 4 MW oleh PT Nusantara Turbin Propulsi (anak perusahaan PT. DI)
  • Hovercraft 

  • Direktur Utama


Berikut adalah daftar Direktur Utama IPTN/Dirgantara Indonesia:

  • B.J. Habibie (1976- berhenti ketika mulai menjabat Wapres)
  • Paramayuda (sbg care taker s/d ditetapkan Dirut baru)
  • Jusman Syafii Djamal (2000-2002)
  • Edwin Sudarmo (2002-2005)
  • Muhammad Nuril Fuad (2005-2007) - bukan Direktur Utama tetapi Direktur Umum.
  • Budi Santoso (2007-2017)
  • Elfien Goentoro (2017-sekarang)
  • Rencana Bisnis

  • Anak Perusahaan
    • IPTN North America, Inc
    • PT. NUSANTARA TURBIN DAN PROPULSI
    • PT. GENERAL ELECTRIC NUSANTARA TURBINE SERVICES (GENTS)
    • PT. GENERAL ELECTRIC TECHNOLOGY INDONESIA (GETI)


(Tribunnewswiki.com/Putradi Pamungkas)



Informasi
Nama Perusahaan PT Dirgantara Indonesia (Persero)
Jenis BUMN / Perseroan Terbatas
Industri Dirgantara dan Pertahanan
Didirikan PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio (23 Agustus 1976)
PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (11 Oktober 1985)
PT Dirgantara Indonesia (24 Agustus 2000)
Kantor Pusat Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Situs Resmi indonesian-aerospace.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved