TRIBUNNEWSWIKI.COM - Negara Cina memperingatkan Vietnam untuk tidak meributkan isu sengketa Laut Cina Selatan.
Hal itu diungkapkan usai otoritas senior di Vietnam menyatakan akan menempuh jalur hukum, dengan memakai beberapa opsi yang menyangkut sengketa kawasan perbatasan perairan negaranya dengan Cina.
Gesekan dua negara komunis ini timbul lantaran sejak Juli, Cina mengirim sebuah kapal untuk melakukan peninjauan atas batas wilayah Zona Ekonomi Ekskulsif (ZEE) yang sempat diklaim oleh Vietnam.
Area ZEE ini sebelumnya sempat diklaim juga oleh Cina.
Menteri Luar Negeri Vietnam, Le Hoai Trung yang berkomentar ihwal sengketa wilayah perairan dalam konferensi di Hanoi, Rabu, (6/11/2019).
Le Hoai Trung menyampaikan bahwa Vietnam lebih memilih untuk melakukan negosiasi, namun juga punya pilihan lain atas kawasan perbatasan yang disengketakan.
Beberapa pilihan yang dimaksud adalah melalui jalur arbitrase dan litigasi, seperti dilaporkan Reuters, (8/11/2019).
Cina Sebut Masalah Laut Cina Selatan adalah Klaim-Klaim Negara Lain
Sedangkan saat disinggung perihal sikap Vietnam, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang menyatakan bawah inti dari permasalahan Laut Cina Selatan adalah klaim Vietnam dan negara-negara lainnya.
Ia menyebut bahwa negara-negara lain juga turut "menyerbu dan menduduki" pulau-pulau di Cina.
"Kami harap Vietnam dapat memahami realitas sejarah dan tunduk pada level tertinggi konsensus yang telah dicapai oleh kedua negara, menjunjung tinggi resolusi atas sengketa dengan dialog dan konsultasi serta menghindari tindakan-tindakan yang dapat memperkeruh masalah dan memperburuk suasana perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan serta relasi bilateral", ujar Geng.
Negara Cina sebelumnya sempat melakukan klaim pada hampir semua perairan yang memiliki potensi besar di Laut Cina Selatan.
Cina menyebut bahwa mereka telah mendirikan pos-pos militer di pulau-pulau buatan di sekitar Laut Cina Selatan.
Namun demikian, negara-negara seperti, Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga melakukan klaim di beberapa bagian dari perairan Laut Cina Selatan.
Cina Tak Mau Akui Putusan Pengadilan Arbitrase
Pada tahun 2016, negara Filipina berhasil memenangkan putusan di Pengadilan Arbitrase di Den Haag, Belanda.
Dalam pengadilan ini, Filipina berhasil membatalkan klaim Cina atas sebagian besar wilayah perairan di Laut Cina Selatan, menyusul laporan kasus yang diajukan otoritas Manila pada tahun 2013.
Namun demikian, Cina menolak untuk mengakui putusan pengadilan internasional yang memberikan hak-hak cadangan energi milik negara Filipina di Laut Cina Selatan yang sempat diakui masuk dalam wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) nya.
Sementara negara Vietnam sendiri yang pada mulanya bertujuan melakukan pendekatan terukur untuk memperjuangkan hak kedaulatannya terhadap Cina, baru-baru ini belum berkomentar tentang kemungkinan mengikuti putusan pengadilan tersebut.
Jackie Chan Dianggap Mendukung China, Vietnam Tolak Kerjasama
Agenda kunjungan bintang film laga, Jackie Chan, ke Vietnam dalam sebuah acara amal dilaporkan ditunda lantaran banyaknya komentar marah dari pengguna media sosial berkaitan dengan konflik sengketa di Laut Cina Selatan.
Aktor kelahiran Hong Kong ini diagendakan untuk mengunjungi Hanoi, Vietnam untuk datang pada acara amal Operation Smile, sebuah kegiatan yang memberikan operasi gratis kepada anak-anak yang memiliki kerusakan di bagian wajah.
Agenda yang telah dipersiapkan ini berujung batal setelah diperkirakan ribuan pengguna media sosial Facebook marah dan membanjiri komentar di laman resmi situs amal penyelanggara kegiatan yang menyebut bahwa Jackie Chan diduga berpihak kepada Cina atas sengketa wilayah perairan Laut Cina Selatan.
Para pengguna media sosial tersebut marah usai penyelenggara menyebut kedatangan Jackie Chan minggu lalu, seperti dilaporkan AFP, (8/11/2019).
Sebelumnya Beijing telah melakukan klaim atas ekspansi wilayah teritorial di Laut Cina Selatan.
Beberapa dari komentar mengklaim bahwa ujaran Jackie Chan pernah mengandung dukungan terhadap Cina dalam hal ini yang disebut Beijing sebagai 'Sembilan Garis Putus / Nine-Dash-Line' yang merupakan klaim Beijing terhadap kawasan perairan di bagian selatan Cina.
Jachie Chan Tak Bermaksud Dukung Wilayah Tersebut
Namun demikian, ujaran dan ekspresi Jackie Chan tidak secara eksplisit menerangkan bahwa ia mendukung wilayah tersebut.
Negara-negara seperti Vietnam, Malaysia, Filipina, Taiwan, Brunei, dan Indonesia sebelumnya berkompetisi melakukan klaim atas wilayah laut di bagian Cina selatan.
Di beberapa perbatasan laut sering terjadi ketegangan yang cukup memanas antara para penjaga batas laut.
"Kami sangat minta maaf.. Operation Smile tidak akan diadakan dengan melibatkan Jackie Chan", ujar penyelanggara di Vietnam.
Posisi Vietnam
Vietnam adalah satu dari sejumlah negara di Asia Tenggara yang paling vokal melakukan kritik terhadap isu Laut Cina Selatan yang diklaim oleh Beijing.
Menteri Luar Negeri Vietnam pada Kamis (7/11/2019), mengulangi pengakuannya yang sering dinyatakan terkait isu perbatasan laut, menyebut bahwa 'negara memiliki dasar hukum penuh dan bukti nyata untuk menegaskan kedaulatan 'laut' Vietnam'.
Vietnam Menarik Film Abominable dari Bioskop
Pada awal bulan ini dilaporkan bahwa Hanoi menarik film kartun garapan The DreamWorks, yang berjudul Abominable dari bioskop.
Hal tersebut dilakukan lantaran terdapat adegan yang menampilkan peta wilayah laut dengan klaim 'Sembilan Garis Putus' milik Beijing, Cina.
Sama seperti di Vietnam, fllm Abominable juga tidak ditayangkan di Malaysia setelah pihak distributor menolak untuk memotong adegan kontroversial yang memancing kemarahan tersebut.
Sementara di Filipina, komplain yang sama juga sedang diajukan.
Jackie Chan Berpihak ke Cina?
Sebelumnya, Jackie Chan sempat dituduh berpihak kepada Cina saat terjadinya protes warga Hong Kong usai menyebut kerusuhan yang terjadi di kota kelahirannya dengan mengatakan, "sedih dan stress."
Komentarnya tersebut memicu kemarahan warga di Hong Kong, namun diterima hangat di Cina di mana ia begitu banyak memiliki fans di sana.
Klaim Beijing Atas Laut Cina Selatan
Pada mulanya, Beijing membuat klaim sebagian besar laut di wilayah Laut Cina Selatan dengan penggambaran yang samar, yaitu berdasarkan dari peta pada tahun 1940an yang menyatakan bahwa Republik Cina menganggap telah mengambil pulau-pulau -di wilayah selatan China- dari kekuasaan Jepang.
Bagaimana Sikap Indonesia?
Indonesia sempat melayangkan keinginan untuk mengganti nama kawasan di bagian selatan Laut Cina Selatan.
Nama yang diusulkan adalah menjadi Laut Natuna Utara, seperti dilaporkan Deutsche Welle, (11/9/2017).
Indonesia juga dilaporkan semakin agresif dengan menambah kekuatan militer di Kepulauan Natuna dengan mengerahkan beberapa kapal perang di kawasan tersebut.
Sementara Cina sendiri menyerukan untuk membatalkan rencana penggantian nama kawasan tersebut.
Cina dan Indonesia sebelumnya juga sempat terlibat perselisihan kawasan perairan pada tahun 2016, usai ditangkapkan sebuah kapal nelayan Cina dan awaknya oleh kapal perang Indonesia.
Dilansir Deutsche Welle tahun 2017, Cina setidaknya mempunyai satu kapal induk, dengan pengusaan terhadap 57 kapal selam, 78 kapal fregat dan kapal perusak, 27 korvet, 180 kapal patroli, 52 kapal pendarat, dan 523 kapal penjaga pantai.
Secara garis besar, Cina mempunyai 235.000 pasukan yang terbagi dalam tiga armada.
Merespon klaim Cina, Angkatan Laut Amerika Serikat menantang klaim tersebut dengan mengadakan latihan militer di kawasan yang diklaim milik Cina.
Pihak Indonesia dalam hal ini Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa klaim Cina ihwal sembilan garis putus tidak memiliki dasar dalam hukum internasional.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)