TRIBUNNEWSWIKI.COM - Setiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Setiap memperingati Hari Pahlawan, ada jejak pertempuran para pahlawan yang mengingatkan akan peristiwa perang terbuka terbesar di Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.
Jejak pertempuran para pahlawan yang tercatat sekitar 6000-7000 pejuang yang bersatu dalam aksi 10 November.
Baca: Hari Pahlawan 2019, Ini Daftar Tokoh yang Diberi Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi
Hari Pahlawan sendiri ditengarai oleh peristiwa dikibarkannya bendera Belanda di atas Hotel Yamato, Surabaya.
Peristiwa tersebut terjadi pada 74 tahun lalu, tepatnya pada 19 September 1945.
Hingga membuat masyarakat Surabaya murka dan berinisiatif merobek bendera tersebut.
Kemurkaan warga Surabaya ini wajar, terlebih Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada bulan sebelumnya.
Surabaya sendiri sekarang dikenal sebagai Kota Pahlawan.
Dilansir dari Grid.id, berikut beberapa jejak perjuangan para pahlawan 10 November di Surabaya.
1. Monumen Bambu Runcing
Sudah bukan rahasia lagi jika bambu runcing merupakan senjata perang bangsa Indonesia.
Bambu yang dibentuk meruncing layaknya tombak ini dijadikan sebagai senjata untuk melawan musuh.
Bambu runcing dibuat lantaran Indonesia sangat minim senjata modern.
Monumen bambu runcing terdiri dari lima pilar dan memiliki tinggi yang tidak sama, dan dibentuk seperti bambu runcing.
Monumen bambu runcing ini terletak di Jalan Panglima Sudirman yang berdekatan dengan Kebun Binatang Surabaya, Tunjungan Plaza, Surabaya Plaza, dan Tugu Pahlwan Surabaya.
Baca: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Ucapan Hari Pahlawan 10 November, Cocok untuk Update Status Medsos
2. Tugu Pahlawan
Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam perang 10 November 1945, dibangunlah Tugu Pahlawan.
Monumen Tugu Pahlawan diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1952.
Tugu Pahlawan berlokasi di Jalan Pahlawan Surabaya.
Tepatnya didekat kantor pemerintahan provinsi Jawa Timur, yang berdekatan dengan Monumen Bambu Runcing.
3. Gedung Grahadi
Gedung Grahadi lokasinya masih berdekatan dengan Tugu Pahlawan.
Gedung Grahadi dibangun pada masa pemerintahan Residen Dirk Van Hogendorps (1794-1798) tepatnya pada tahun 1795.
Gedung Grahadi diambil dari bahasa sansekerta yang berarti rumah bernilai derajat tinggi.
Gedung ini kini menjadi kediaman resmi Gubernur Jawa Timur dan masih berbetuk seperti aslinya meski telah berusia lebih dari dua abad.
4. House of Sampoerna
Salah satu saksi bisu pertempuran pejuang Surabaya dengan tentara sekutu Inggris untuk kali pertama adalah House of Sampoerna.
Kontak senjata pertama kali terjadi di sekitaran theater atau Bioskop Sampoerna dan Pabrik Rokok Liem Seeng Tee.
Hingga saat ini House of Surabaya yang merupakan kompleks Sampoerna Theater masih terawat dengan baik.
Kini Sampoerna Teater telah berubah menjadi museum sejarah perjalanan perusahaan rokok Sampoerna.
Baca: Mengenal Sosok Rasuna Said, Sang Pahlawan Indonesia: Kisah Singa Betina yang Tak Semua Orang Tahu
5. Jalan Tunjungan
Jalan Tunjungan yang berada di kawasan Tunjungan Plaza menjadi sangat ramai setelah peristiwa 10 November.
Pasalnya pada 10 November 1945 terjadi hantaman senjata arek-arek Surabaya melawan Sekutu.
6. Hotel Yamato
Diketahui Hotel Yamato merupakan saksi sejarah terjadinya pertempuran 10 November.
Hotel Yamato yang sebelumnya dikenal sering berganti nama menjadi LMS, Oranhe Hotel, kini lebih dikenal dengan nama Hotel Majapahit.
Hotel tersebut dibangun tahun 1910 dan terus mengalami renovasi dan juga berevolusi.
7. Jembatan Merah
Nama Jembatan merah didapatkan lantaran pada 10 November terjadi pertumpahan darah disana.
Jembatan merah sudah ada sejak zaman VOC dan masih kokoh hingga sekarang.
Jembatan merah merupakan sarana penting untuk menuju Gedung Karesidenan Surabaya melewati Kalimas. (TribunnewsWiki.com/Melia Istighfaroh)
Baca: Alasan Lengkap 12 Zodiak Kenapa Sulit Jatuh Cinta, Capricorn Takut Cintanya Tak Terbalaskan