Tembakau Deli Medan

Tembakau Deli Medan tidak mudah ditemukan dan dibudidayakan diluar kompleks perkebunan tembakau Sumatera Timur dan tidak disemua kawasan Sumatera mudah ditanami tembakau


Tembakau Deli Medan
nationalgrographic.grid.id/Feri Latief
Dua orang pekerja perusahaan tembakau di Medan, tengah mempersiapkan pengeringan daun tembakau 

Tembakau Deli Medan tidak mudah ditemukan dan dibudidayakan diluar kompleks perkebunan tembakau Sumatera Timur dan tidak disemua kawasan Sumatera mudah ditanami tembakau




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Tembakau Deli tidak banyak ditemukan dan dibudiyakan di seluruh kawasan Indonesia, hanya kawasan dengan kondisi geografis tertentu yang bisa ditanami tembakau Deli.   

Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, dikenal sebagai pusat produksi tembakau Deli.

Saat ini pengelolaan tembakau Deli dibawah PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 2 , Sumatera Utara.

Para pekerja didominasi perempuan sebagai pengolah tembakau Deli, dengan tujuan meneruskan tradisi yang pernah mencetak sejarah tembakau di dunia.

Rata-rata pekerja sudah bekerja lebih dari 30 tahun, dan masih bertahan mengolah tembakau untuk bahan baku cerutu berkualitas ekspor ke Eropa terutama Bremen Jerman.

Para pekerja perempuan ini biasanya melakukan pemeraman tembakau, pemeraman tembakau sendiri memiliki arti pengeringan daun tembakau[1].

Pengeringan daun tembakau tersebut nantinya untuk bahan baku cerutu, dengan proses awal fermentasi.

Namun saat ini produksi tembakau menurun, lantaran banyak lahan yang kemudian beralih fungsi menjadi tanaman lain.

Gudang pemeraman tembakau persero PTPN Nusantara IX Bulu Cina
Gudang pemeraman tembakau persero PTPN Nusantara IX Bulu Cina (nationalgrographic.grid.id/Feri Latief)

  • Sejarah


Jacobus Nienhuys datang ke Sumatera Timur tahun 1863, 6 tahun kemudian mendirikan perusahaan Deli Tabaks Maatschappij.

Jacob Nienhuys dan Peter Wilhelm Janssen mendirikan usaha tembakau di Sumatera Timur, karena tembakau Medan digemari penikmat cerutu di Eropa dan sebagai bahan baku cerutu.

Perkebunan tembakau di Sumatera tahun 1870-1979 dilaporkan sudah mencapai 169 kebun tembakau, sementara di Sumatera Timur mulai berkembang perkebunan tembakau sejak tahun 1889.

Ribuan warga China, India, dan Jawa kemudian beramai-ramai datang ke Medan, guna menjadi tenaga kerja industri tembakau.

Berbagai bangsa akhirnya hidup dan menetap di Medan.

Dalam catatan Jan Bremen sering sekali warung di Medan dikunjungi tujuh orang tamu mewakili bangsanya, yakni: Belanda, Jerman, Denmark, Inggris, Swiss, dan Norwegia.

Perkebunan tembakau yang terus berkembang, membuat Medan tumbuh sebagai kota metropolitan kelas dunia.

Tercatat tahun 1930 sekira 11.000 orang Eropa tinggal di Pantai Timur Sumatera, dan banyak yang bekerja di industri perkebunan tembakau.

Negara Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman tercatat sebagai investor besar perkebunan tembakau  di Sumatera Timur pada periode 1913-1932.

Sarana dan prasarana mulai berdiri seperti: perkantoran, hotel, bank, kantor pos, sekolah, pasar, dan stasiun kereta api.

Beberapa bangunan tersebut masih berdiri di Medan, meski juga banyak bangunan bersejarah tersebut yang sudah beralih fungsi.

Tembakau membuat Medan tumbuh dengan budaya masyarakat Eropa, mengakibatkan daerah di sekitarnya tumbuh menjadi pusat pertanian sesuai kebutuhan masyarakat Eropa di Medan.

Namun perkebunan tembakau tidak bisa ditanam di seluruh Sumatera, tanaman keras ini hanya cocok ditanam di Medan dan Langkat.

Pekerja perempuan tengah menata lembaran daun tembakau untuk kemudian dikirim ke pabrik rokok
Pekerja perempuan tengah menata lembaran daun tembakau untuk kemudian dikirim ke pabrik rokok (nationalgrographic.grid.id/Feri Latief)

  • Profil pekerja


Pekerja perkebunan tembakau Deli pada masa colonial, didominasi pekerja dari Tionghoa.

Perusahaan perkebunan Deli lebih memilih pekerja Tionghoa, karena dikenal pekerja keras dan tekun.

Jan Breman mencatatkan sebelum matahari terbit para pekerja sudah berada di lading untuk merawat tembakau muda, menyiram, mencari ulat daun tembakau, atau membuka lahan baru.

Mereka terbiasa bekerja sampai matahari terbenam dengan istirahat 2 jam di siang hari, bahkan malam hari mereka masih sibuk mengurus tembakau.

Masyarakat Tionghoa bisa saja merupakan pekerja yang tak simpatik, karena kesukaanya berteriak dan rebut.

Tetapi setiap tuan kebun harus menghormati mereka karena telah memiliki tenaga kerja dan prestasi kerja yang luar biasa.

Anthony Reid menyatakan pemerintah Tionghoa yang progresif menentang emigrasi warganya ke Sumatera Timur.

Pernyataan muncul setelah merebaknya berita eksploitasi yang dialami buruh Tionghoa di Deli.

Imbasnya adalah biaya pengangkutan buruh Tionghoa menjadi meningkat, dan perusahaan perkebunan tembakau Deli lebih memilih buruh Jawa dengan biaya murah.

Dominasi masyarakat Tionghoa di Sumatera Timur meningat di tahun 1930, sebagai pendatang terbanyak di Sumatera Timur.

Sebuah komunitas yang berimbang muncul, terdiri dari pedagang, petani, nelayan, dan penebang kayu.

Para pekerja tengah melakukan pengepresan lembar daun tembakau supaya lebih mudah pengemasannya, sebelum masuk ke pabrik rokok
Para pekerja tengah melakukan pengepresan lembar daun tembakau supaya lebih mudah pengemasannya, sebelum masuk ke pabrik rokok (nationalgrographic.grid.id/Feri Latief)
Daun tembakau yang sudah siap dikirim, akan dikemas dengan kotak kayu berukuran besar untuk menjaga daun selama pengiriman
Daun tembakau yang sudah siap dikirim, akan dikemas dengan kotak kayu berukuran besar untuk menjaga daun selama pengiriman (nationalgrographic.grid.id/Feri Latief)

Tembakau Deli mengalami kemerosotan, semenjak nasionalisasi seluruh aset pemerintah asing di tahun 1957.

Asset perusahaan yang tersisa Deli Maatschappij dengan 16 kebun dan Senembahan Maatschappij dengan 6 kebun, dibawah PTPN II di tahun 1965.

Meskipun merugi, perkebunan tembakau Deli di Medan tetap dilestarikan, karena merupakan tanaman bernilai sejarah tinggi.

Masalah harga tembakau yang sangat murah dan biaya produksi tinggi, pelelangan tembakau yang awalnya berada di Bremen Jerman dialihkan di kebun Tandem, Binjai Sumatra Utara untuk menghemat biaya.

Tembakau Deli kualitas 2 dijual ke Malaysia, Denmark, dan Jerman sedangkan tembakau kualitas 3 dijual ke Amerika Serikat sebagai tembakau suntil.

Tembakau dengan kualitas 1 biasanya, akan dikirim ke pabrik rokok di kawasan setempat sedangkan kualitas 2 dan 3 diexport ke Eropa.
Tembakau dengan kualitas 1 biasanya, akan dikirim ke pabrik rokok di kawasan setempat sedangkan kualitas 2 dan 3 diexport ke Eropa. (nationalgrographic.grid.id/Feri Latief)
Daun tembakau yang siap export
Daun tembakau yang siap export (nationalgrographic.grid.id/Feri Latief)

____________________

Referensi:

Breman, Jan. 1997. "Menjinakan sang kuli: politik kolionial, tuan kebun, dan kuli di Sumatera Timur awal abad ke-20". Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV).

Laura Stoler, Anna. 1992. "Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt, 1870-1979". University Michigan Press. 



Nama Perusahaan PTP Nusantara II
Alamat Jl. Pertempuran No.58, Pulo Brayan Kota, Kec. Medan Bar., Kota Medan, Sumatera Utara 20116
Fungsi Gedung Pemeraman Tembakau PTPN II Medan
   


Sumber :


1. nationalgeographic.grid.id


Baca Juga




ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved