Rohana Kudus

Pelopor jurnalis perempuan pertama di Indonesia, Rohana Kudus disematkan gelar sebagai Pahlawan Nasional di tahun 2019.


Melia Istighfaroh

Rohana Kudus
wikipedia
Rohana Kudus, wartawan perempuan Indonesia pertama. 

Pelopor jurnalis perempuan pertama di Indonesia, Rohana Kudus disematkan gelar sebagai Pahlawan Nasional di tahun 2019.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perempuan asal Sumatera Barat, Siti Ruana atau dikenal sebagai Rohana Kudus menjadi perempuan Indonesia pertama yang menekuni profesi sebagai wartawan.

Rohana Kudus lahir di Kotogadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember 1884.

Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan yang berprofesi sebagai jurnalis. Sedangkan ibunya bernama Kiam yang bekerja sebagai ibu rumah tangga.

Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga bibi dari penyair Chairil Anwar.

Dia juga merupakan sepupu dari KH Agus Salim.

Kendati tak mengecap pendidikan formal, perempuan berdarah Minangkabau tersebut tetap bisa belajar membaca dan menulis dari sang ayah yang selalu membawakannya buku usai bekerja.

Di usia yang masih belia, dia menguasai bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab Melayu.

Terlebih saat ayahnya dipindahtugaskan ke Alahan Panjang, Rohana bertetangga dengan isteri pejabat Belanda yang suka rela mengajarinya menjahit, merajut, dan menyulam.

Dia juga bebas membaca majalah terbitan Belanda yang memuat berita politik, gaya hidup, serta pendidikan di Eropa. (1)

Ketika Rohana sudah berusia 17 tahun, ia harus tingggal dengan sanak familinya di Koto Gadang karena ayahnya mulai dinas di Kota Medan Sumatra Utara.

Sebagai anak perempuan pertama dari enam bersaudara, Rohana menjadi sosok yang mandiri.

Rohana remaja masih membiasakan diri untuk menarik perhatian dengan menawarkan cerita-cerita kepada anak-anak perempuan yang bahkan lebih tua dari dirinya.

Di masa pertumbuhan sejak kecil sampai remaja, Rohana sudah mulai kritis terhadap kondisi perempuan di Koto Gadang. (2)

Di usia 24 tahun, Rohana kembali ke kampung halaman dan menikah dengan seorang notaris bernama Abdul Kudus. (1) 

  • Karier Jurnalistik


Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi.

Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda.

Kemudian, kiprah Rohana di dunia jurnalistik dimulai dari surat kabar Poetri Hindia pada 1908 di Batavia.

Koran ini dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia.

Rohana dinilai sebagai perempuan Indonesia pertama yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis.

Dia bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa.

Sebelum mendirikan surat kabar Soenting Melajoe ia berkiprah di surat kabar Oetoesan Melajoe yang sudah terbit sejak 1911.

Pengalamannya mendapat apresiasi dari Datoek Soetan Maharadja alias DSM, pemilik Oetoesan Melajoe yang kemudian mendukung Rohana menerbitkan Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. (3)

  • Sekolah Kerajinan Amai Setia


Roehana mendirikan sekolah keterampilan khusus perempuan pada tanggal 11 Februari 1911 yang diberi nama Sekolah Kerajinan Amai Setia.

Di sekolah ini diajarkan berbagai keterampilan untuk perempuan, keterampilan mengelola keuangan, tulis-baca, budi pekerti, pendidikan agama dan Bahasa Belanda.

Banyak sekali rintangan yang dihadapi Roehana dalam mewujudkan cita-citanya.

Jatuh bangun memperjuangkan nasib kaum perempuan penuh dengan benturan sosial menghadapi pemuka adat dan kebiasaan masyarakat Koto Gadang.

Rohana bahkan dihujani dengan fitnahan yang tak kunjung menderanya seiring dengan keinginannnya untuk memajukan kaum perempuan.

Namun gejolak sosial yang dihadapinya justru membuatnya tegar dan semakin yakin dengan apa yang diperjuangkannya.

Selain berkiprah di sekolahnya, Roehana juga menjalin kerjasama dengan pemerintah Belanda karena ia sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit-menjahit untuk kepentingan sekolahnya.

Disamping itu juga Roehana menjadi perantara untuk memasarkan hasil kerajinan muridnya ke Eropa yang memang memenuhi syarat ekspor.

Ini menjadikan sekolah Roehana berbasis industri rumah tangga serta koperasi simpan pinjam dan jual beli yang anggotanya semua perempuan yang pertama di Minangkabau.

Banyak petinggi Belanda yang kagum atas kemampuan dan kiprah Roehana.

Selain menghasilkan berbagai kerajinan, Roehana juga menulis puisi dan artikel serta fasih berbahasa Belanda.

Tutur katanya setara dengan orang yang berpendidikan tinggi, wawasannya juga luas.

Kiprah Roehana menjadi topik pembicaraan di Belanda.

Berita perjuangannya ditulis di surat kabar terkemuka dan disebut sebagai perintis pendidikan perempuan pertama di Sumatra Barat. (4)

  • Sunting Melayu


Sebagai perempuan yang hidup sezaman dengan RA Kartini, dia berhasil menjadi jurnalis perempuan pertama yang dimiliki Indonesia.

Pada 10 Juli 1912, dia mendirikan surat kabar perempuan bernama Sunting Melayu.

Susunan redaksi mulai dari pemimpin redaksi, redaktur, dan penulis semuanya perempuan.

Selain Sunting Melayu, karya-karya jurnalistik Rohana Kudus juga tersebar di banyak surat kabar, seperti Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia. (1)

Rohana mendapatkan jaringan internasional karena bisnis kain tenun, hal itulah yang menjadi dorongan  baginya untuk mendirikan Sunting Melayu.

Ia semakin banyak mendapatkan lebih banyak lagi informasi tentang kemajuan kaum perempuan di Eropa.

Ibarat meminum air laut, dahaga Roehana akan ilmu dan perjuangan tak pernah lepas. Setelah berdiskusi dengan suaminya Abdul Kuddus yang juga aktivis pergerakan, Rohana terpikir untuk mendirikan surat kabar.

Tujuannya untuk menginpisrasi kaum perempuan di Sumbar dan Indonesia agar tak mau kalah dengan kaum laki-laki untuk menjadi insan terpelajar.

Keinginan Rohana untuk mendirikan surat kabar mendapat dukungan dari pimpinan Warta Berita Mahyuddin Datuk Sutan Maharajo.

Surat kabar yangdidirikan Rohana bersama Dt. St Maharajo bernama Soenting Melajoe. Koran ini pertama kali terbit pada 10 Juli 1912.

Sutan Maharajo menjadi pemimpin umum, Roehana menjadi pemimpin redaksi dan Zahara Ratna Djuita yang merupakan putri Dt Sutan Maharajo menjadi editor. (2)

Pada 25 Agustus 1974, Rohana Kudus memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan perintis pers oleh pemerintah atas jasanya dalam memperjuangkan bangsa melalui dunia jurnalistik. (1)

  • Mendirikan Rohana School


Ketika pindah ke Bukittinggi, Rohana kembali mendirikan sekolah bernama Rohana School.

Namanya yang telah melambung di berbagai surat kabar membuat sekolahnya sangat diminati. Muridnya berasal dari berbagai daerah. 

Tak hanya mengajar formal, Rohana juga mengajar wirausaha dengan agen mesin jahit singer. Konsumennya adalah murid-muridnya sendiri.

Pada mulanya, Rohana belajar membordir menggunakan mesin jahit singer dari orang Tionghoa.

Dia pun menjadi perempuan pertama yang menjadi agen jahit. Sebelumnya, usaha tersebut hanya dilakukan oleh orang Tionghoa saja. 

Rohana mengedukasi masyarakat Koto Gadang akan pentingnya pendidikan.

Ia bahkan membuat gerakan dana pendidikan untuk membiayai ribuan anak Koto Gadang agar dapat sekolah ke luar kota hingga mendapatkan gelar sarjana.

Oleh karena itu, pada masa itu banyak masyarakat Koto Gadang yang memiliki gelar sarjana.

Rohana juga dipercaya menjadi guru di Sekolah Darma. Muridnya pun kini tak lagi perempuan, melainkan juga laki-laki.

Dari semua guru di sekolah tersebut, hanya Rohana yang tak pernah menempuh pendidikan formal.

Mula-mula dia hanya mengajar keterampilan menyulam dan merenda, namun pada akhirnya dia diminta mengajar semua mata pelajaran. (1)

Kementerian Sosial Republik Indonesia menetapkan Rohana Kudus atau Ruhana Kuddus, jurnalis perempuan pertama asal Sumatera Barat, sebagai Pahlawan Nasional tahun 2019.

Hal ini ditetapkan berdasarkan pertemuan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan Presiden Joko Widodo pada 6 November 2019 lalu.

Ada pula Surat Menteri Sosial Rl nomor :23/MS/A/09/2019 tanggal 9 September 2019 perihal usulan calon Pahlawan Nasional tahun 2019.

Penobatan gelar itu dilakukan dalam acara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara pada tanggal 8 November 2019. Kemensos turut mengundang Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, dan juga sejumlah ahli waris dari Ruhana Kuddus. (5)

(TribunnewsWiki.com/Niken)



Nama Asli Siti Ruana
Nama Rohana Kudus/Roehana Koedoes
Lahir Koto Gadang, 20 Desember 1884
Profesi Jurnalis
Meninggal Jakarta, 17 Agustus 1972
Pasangan Abdul Kudus
Kategori Pahlawan Nasional


Sumber :


1. www.idntimes.com
2. www.republika.co.id
3. www.liputan6.com


Editor: Melia Istighfaroh






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved