Basoeki Abdullah

Basoeki Abdullah adalah seorang maestro pelukis asal Indonesia yang banyak berkarya di nusantara hingga Eropa sejak zaman pra-kemerdekaan hingga jelang era reformasi.


zoom-inlihat foto
advgr.jpg
Tribunnews
Basoeki Abdullah

Basoeki Abdullah adalah seorang maestro pelukis asal Indonesia yang banyak berkarya di nusantara hingga Eropa sejak zaman pra-kemerdekaan hingga jelang era reformasi.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Basoeki Abdullah adalah salah seorang maestro pelukis asal Indonesia.

Basoeki Abdullah lahir di Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 25 Januari 1915.

Basoeki Abdullah dikenal sebagai pelukis aliran realis dan naturalis.

Basoeki Abdullah pernah diangkat menjadi pelukis resmi Istana Merdeka Jakarta dan karya-karyanya menghiasi istana-istana negara dan kepresidenan Indonesia, disamping menjadi barang koleksi dari penjuru dunia.

Basoeki Abdullah wafat pada 5 November 1993 atau pada usia 78 tahun.

  • Masa Muda #


Basoeki Abdullah adalah anak dari pasangan R. Abdullah Suryosubroto dan Raden Nganten Ngadisah.

Kakeknya adalah dokter Wahidin Sudirohusodo (1857-1917), salah seorang tokoh sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia, pada awal tahun 1900-an.

Bakat melukis Basoeki Abdullah terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubroto.

Seorang pelukis dan juga sempat mencacatkan namanya dalam sejarah seni lukis Indonesia sebagai salah satu tokoh Mooi indië.

Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai senang menggambar orang, diantaranya adalah beberapa tokoh terkenal seperti Yesus Kristus, Mahatma Ghandi, Rabindranath Tagore, dan Khrisnamurti.

Pada usia 10 tahun, Basoeki Abdullah telah melukis tokoh Mahatma Ghandi dengan menggunakan pensil diatas kertas yang hasilnya luar biasa untuk ukuran anak seusia itu.

Pendidikan formal yang pernah ditempuh Basoeki Abdullah semasa kanak-kanak dan masa muda diperoleh di HIS (Hollands Inlandsche Scool), dan  kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Ultgebried Lager Onderwijs).

Pada tahun 1913 berkat bantuan Pastur Koch SJ., Basoeki Abdullah mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Rupa (Academie Voor Beldeende Kunsten) di Den Haag, Belanda dan menyelesaikan studinya dalam waktu 2 tahun lebih 2 bulan dengan meraih penghargaan sertifikat Royal International of Art (RIA).

Setelah dari Den Haag, Belanda, Basoeki Abdullah juga mengikuti pelajaran semacam studi banding di sejumlah sekolah seni rupa di Paris dan Roma.

Basoeki Abdullah semasa kecil.
Basoeki Abdullah semasa kecil. (kemdikbud.go.id)

  • Mengenalkan Karya dan Karya untuk Indonesia #


Pada tahun 1939, Basoeki Abdullah melakukan perjalanan keliling di Indonesia dengan membawa hasil karya lukisnya agar dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Hal ini dilakukan setelah merasa bahwa selama bertahun-tahun karyanya hanya dinikmati oleh bangsa asing.

Pameran keliling ini dilakukan Basoeki Abdullah, diantaranya di kota Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan di Medan.

Berbagai kritikan dan sanjungan senantiasa datang bersama-sama, tetapi Basoeki Abdullah tetap bertahan.

Dalam perjalanan seninya itu, Basoeki Abdullah bukan sekedar mencari pengakuan akan keberadaannya sebagai seorang pelukis, tetapi Basoeki Abdullah juga mengharapkan masukan-masukan kritis yang mampu mendorong untuk terus berkarya.

Perjalanan pemeran ini, berlangsung cukup lama. Pada tahun 1939 Basoeki Abdullah berpameran di Jakarta dan Bandung, kemudian pada tahun 1941 Basoeki Abdullah berpameran di kota Solo, Surabaya, Semarang, dan kota Yogyakarta.

Basoeki Abdullah kembali berpameran di Jakarta pada tahun 1942.

Pada tahun 1942, Basoeki Abdullah mulai nampak dalam pergerakan revolusi secara nyata dengan melukis tokoh-tokoh perjuangan.

Pada tahun 1943, Basoeki Abdullah bergabung dalam organisasi PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), yaitu sebuah organisasi yang didirikan oleh pemerintahan Jepangpada tanggal 9 Maret 1943.

Didalam organisasi Putera ini, Basoeki Abdullah ini mendapatkan tugas mengajar seni lukis.

Antara lain, muridnya yaitu : Kusnadi (yang kemudian terkenal sebagai kritikus seni), dan Zaini (pelukis), Selain organisasi PUTERA, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sdhojo (Pusat Kebudayaan milik Pemerintahan Jepang) bersama dengan Affandi, S. Soedjojono, Otto Djaja, dan Basoeki Resobowo.

Selama masa kemerdekaan, Basoeki Abdullah berada dieropa bersama istrinya Maya Michel.

Sampai saat ini, belum diketahui apa yang melatar belakanginya, tetapi dari beberapa peristiwa yang terjadi, bahwa Basoeki Abdullah terus aktif berpameran di Eropa (Belanda dan Inggris).

Pameran-pameran tersebut diantaranya di Merdag Museum Nederland (1945), di Bristol Inggris (1946), di Apeldoorn, Amersfoort dan Maritim Museum (1947), di Nieuwe Muzick School-Zeist (1948), dan di Scheveningen Nederland dan Victoria Hotel (1949).

Pada tahun 1949 ini pula, Basoeki Abdullah sempat melukis Bung Hatta, Mr. M. Roem, dan Sultan Hamid II dalam rangka Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.

Hal lain yang sangat menonjol pada masa ini, yaitu ketika Basoeki Abdullah memenangkan sayembara melukis yang diselenggarakan dalam rangka penobatan Ratu Yuliana pada tanggal 6 September 1948 di New Kerk, Amsterdam (Belanda).

Sayembara ini dikuti oleh 87 pelukis Eropa. Peristiwa ini cukup mencengangkan kala itu.

Khalayak mengenal sosok Basoeki Abdullah sebagai pelukis Mooi Indie, sekaligus potretlisyang mumpuni sehingga karya-karyanya kini banyak tersebar di banyak museum, galeri, dan bahkan istana di dalam dan luar negeri.

Tidak dapat dipungkiri, stigma tersebut muncul karena memang banyak karya Basoeki Abdullah yang menceritakan tentang keindahan alam Indonesia, tokoh negara, dan kecantikan wanita.

Sehingga karya-karya Beliau yang menceritakan tentang perjuangan Indonesia di masa sebelum dan sesudah kemerdekaan kerap terabaikan dan tidak diketahui oleh masyarakat.

Semua berawal dari kekaguman Basoeki Abdullah kecil terhadap figur kakeknya, dr. Wahidin Sudirohusodo dan beberapa tokoh lainnya seperti Pangeran Diponegoro dan Mahatma Gandhi, yang telah mempengaruhi pemikiran Beliau hingga akhir hayatnya.

Hal tersebut tampak dari kekagumannya yang dituangkan melalui hasil karya lukisnya. Selain itu Basoeki Abdullah juga turut mengagumi Bung Karno karena cita-citanya yang ingin mewujudkan Indonesia merdeka.

Sketsa Bung Karno karya Basoeki Abdullah

Jika kita menelisik sejarah Basoeki Abdullah turut berperan bagi Bangsa Indonesia dengan cara bergabung sebagai tenaga pengajar, terutama seni lukis, pada organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA).

Dengan bergabung dengan organisasi ini, Basoeki Abdullah semakin memahami betapa sulitnya lika-liku politik.

Sehingga Basoeki menyadari bahwa PUTERA merupakan sebuah tenaga awal yang dapat menjadi titik untuk memulai perjuangan, meskipun sebenarnya Ia tidak menyetujui dengan konsep yang terkandung dalam pendirian organisasi tersebut.

Pada masa-masa inilah Basoeki Abdullah kerap melukiskan perjuangan Bangsa ini dalam merebut kemerdekaan.

Dua sketsa Basoeki Abdullah, yakni Sketsa Revolusi Perjuangan Indonesia (tahun pembuatan belum diketahui), yang dibuat sebanyak dua karya, secara keseluruhan menggambarkan proses perjuangan Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya.

Sketsa pertama menggambarkan proses perjuangan kemerdekaan Indonesia, mulai dari kedatangan sekutu di Indonesia, terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI), penandatanganan naskah penyerahan kedaulatan antara Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan pemerintahan Belanda yang diwakili Sultan HB IX dan A. J. Lovink, hingga haru birunya Istana Merdeka saat Merah Putih dikibarkan.

Sementara itu sketsa kedua menggambarkan suasana heroik pertempuran TNI, hingga elit-elit politik Indonesia saat itu. Kedua sketsa tersebut menjadi dokumentasi sejarah perjuangan Bangsa Indonesia yang dikemas dengan cita rasa seni yang tinggi.

Sketsa Revolusi Perjuangan IndonesiaSelain itu Basoeki Abdullah adalah sosok yang gemar melukis tokoh-tokoh yang menjadi idolanya.

Dalam hal perjuangan, Basoeki Abdullah tercatat telah melukis beberapa tokoh perjuangan seperti dr.  Wahidin Sudirohusodo, tokoh penggagas berdirinya Boedi Oetomo, yang juga merupakan kakeknya sendiri.

Selain itu Basoeki Abdullah juga membuat lukisan Pangeran Diponegoro hingga Cut Nyak Dien, sehingga tanpa kita sadari bahwa kita mengenal sosok-sosok yang wajahnya tercantum dalam buku pelajaran sejarah tersebut justru karena lukisan Beliau.

Selain itu sketsa Presiden Soekarno yang dibuat oleh Basoeki Abdullah saat berjumpa dengan sosok yang dikaguminya tersebut di Sukabumi tahun 1942, dibuatkan perangkonya oleh Perusahaan Percetaka Perkeba pada tahun 1965.

Basoeki Abdullah adalah sosok yang berjuang demi Bangsanya dengan cara tidak mengangkat senjata.

Ia lebih memilih dengan cara yang dicintainya, yakni dengan goresan kuas.

Benua Eropa pun sempat dibuat geger pada tahun 1948 ketika lukisan Beliau terpilih sebagai pemenang, mengalahkan 87 pelukis Eropa, saat diberlangsungkan sayembara lukis dalam rangka penobatan Ratu Juliana.

Saat itulah daratan Eropa mengenal Basoeki Abdullah dan Indonesia, sebagai Negara yang berbudaya dan berseni tinggi.

Lukisan sosok Bung Karno karya Basoeki Abdullah.
Lukisan sosok Bung Karno karya Basoeki Abdullah. (museumbasoekiabdullah.or.id)

  • Karya di Eropa dan Pelukis Istana Negara #


Di masa revolusi, rupanya Basoeki Abdullah tidak berada di Tanah Air. Apa sebab, kita tidak tahu.

Barangkali karena istrinya wanita Belanda, yaitu Maya Michel.

Sehingga ia merasa tidak aman, mungkin takut dicurigai.

Adapun titik temu antara Basoeki dan Maya, keduanya sama-sama seniman dan seniwati.

“Dia teman baik, seni tak bisa putus”, demikian Basoeki Abdullah pernah berkomentar kepada penulis mengenai hubungannya dengan Maya.

Selama beristrikan Maya, karya-karya Basoeki banyak yang berbobot. Selama di Eropah yang kedua ini, Basoeki tampak sudah lebih matang.

Karya-karyanya senantiasa menjadi sorotan media massa apabila ia mengadakan pameran.

Misalnya dalam tahun 1946, dalam De Vrije Katheder di Amsterdam, pernah diturunkan satu tulisan dengan judul “Indonesia, door Javaan en Nederlander Gezien”.

Pada tanggal 6 September 1948 bertempat di Nieuw Kerk Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Juliana, diadakan sayembara melukis dimana Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropah, dan ia keluar sebagai Juara Umum. Ia melukis Ratu Juliana dan lukisannya itu hingga kini dipasang di Istana Soestdijk.

Adapaun lukisannya tentang Pangeran Diponegoro lahir di Den Haag tahun 1949, sewaktu sedang berlangsung K.M.B. Begitu juga ia melukis Bung Hatta, Ibu Rahmi Hatta, Mr. Mohamad Roem dan Sultan Hamid II di Den Haag sewaktu K.M.B.

Seperti di ketahui, selama di negeri Belanda, Basoeki seringkali berkeliling Eropah.

Selain dia seorang pelukis juga pandai menari dan sering tampil dengan tarian wayang wong dengan membawakan sebagai Rahwana atau sebagai Hanoman. Dia tidak hanya menguasai soal kewayangan, budaya Jawa dimana ia berasal.

Akan tetapi Basoeki Abdullah juga menggemari komposisi-komposisi Franz Schubert, Beethoven dan Paganini. Dengan demikian wawasannya sebagai seorang seniman cukup luas, dan tidak Jawa Sentris.

Dalam tahun 1946 British Press pernah menyiarkan pertunjukan wayang wong, dengan istilah “Javaansch Ballet”.

Dalam tahun 1949, di Scheveningen Basoeki Abdullah pernah mengadakan sebuah pameran yang mendapat perhatian besar dari pers dan masyarakat Belanda. “Indonesische Schilder in Palace Hotel ge-exposeerd”.

Surat kabar Het Parool, edisi 4 Maret 1947 menulis “Indonesisch Schilderkunst in Rotterdam”.

Media massa Al Palaxzo edisi 30 Oktober 1955 menulis “Mostra Indonesia”. O Benfica edisi 23 November 1956 menulis : “Encontros com artistas E’Escritores Basoeki Abdullah”.

Media massa Novidades edisi 5 Pebruari 1956 menulis “A exposicao De Pintura de Basoeki Abdullah”.

Pernah Basoeki Abdullah berkunjung ke Spanyol, selain ia membuat sketsa-sketsa tempat-tempat bersejarah, arsitektur gaya Spanyol, pertunjukkan Banteng dengan Matador, ia juga tuangkan perjalanannya tersebut.

Berupa kesan-kesan perjalanan kedalam sebuah seri artikel dengan judul : “Spanje gezien door een Indonesisch Schilder”, dimuat dalam “Wereld Nieuws” 25 e Jaargang No. 46, edisi 4 November 1953. Seri kedua berjudul : “Madrid en de Schatten van het Museo del Prado” (II).

Seri ketiga berjudul : “Sterke Moorse invloeden zijn nog overal in Spanje her Kenbaar” (III). Seri keempat berjudul : “Barcelona, Stierengevechten en nog eits” (IV). Kemudian seri tulisannya yang terakhir berjudul : “Elke Spaanse Stad is een Museum op zichzelf” (V).

Roy Tjiahengan pernah menulis sebuah artikel dalam harian The Indonesian Observer, edisi No. 515 27 June dengan judul : “Indonesian Painter In Europe Basoeki Abdullah achieves great success”.

Dimanapun Basoeki Abdullah mengadakan pameran apakah di Indonesia, Eropah ataukah di Asia seperti Singapura, Tokyo dan Bangkok, senantiasa menjadi perhatian dan menempati halaman berbagai surat kabar, dan dikunjungi oleh pejabat tinggi dan tokoh-tokoh terkemuka serta masyarakat peminat seni lukis disana.

Sekalipun ia berkarya di Eropah, tahun 1959 Basoeki mengadakan pameran di Singapura.

Ada media massa cetak yang menulis. “Artist’s Inspirations Monday’s Tete-a-Tete with Irene Lim, Two Lovely girls – Wedding Vows – Honour and obey”, dalam Singapore Standard edisi 16 February, 1959.

Dalam The Week Ender, ada judul “Pretty as A Picture”, edisi January 30, 1959. Ada juga disalah satu media asing yang menulis “Signature of the Indonesian Prince of Solo and His Wife”.

Sewaktu Basoeki Abdullah akan mengadakan pameran di Tokyo, sk. The Mainchi edisi 7 June 1954 menulis berita “Indonesian artist’s exhibition to be held in Tokyo June 15-20.

Dengan demikian membuktikan, bahwa Basoeki Abdullah adalah pelukis Indonesia yang memiliki reputasi internasional periode kedua di negeri Belanda ini adalah masanya/kehidupan Basoeki dengan Maya, seorang seniman yang beristrikan seorang seniwati.

Rumah tangga yang dibinanya sejak tahun 1944, ternyata berakhir dengan perceraian di tahun 1959.

Di Tokyo, Basoeki Abdullah jatuh cinta dengan gadis Jepang, Miss Seistko Arima.

Karena kelihatannya Basoeki cintanya serius, maka akhirnya keduanya berpisah, Maya kembali ke negeri Belanda, sedangkan Basoeki Abdullah dari Tokyo terbang ke Muangthai.

Lukisan Ratu Juliana karya Basoeki Abdullah.
Lukisan Ratu Juliana karya Basoeki Abdullah. (kemdikbud.go.id)

  • Jenis Karya Basoeki Abdullah #


Menurut catatan sejarah, karya-karya Basoeki Abdullah dapat diklasifikasikan dalam 5 jenis atau kategori tema, yaitu :

  • Potret

Dalam kategori ini karya-karya masuk di dalamnya adalah potret yang para pembesar maupun maupun lukisan potret pesanan yang pernah dibuat oleh Basoeki Abdullah.

Kategori ini dianggap sebagai sesuatu yang khas dan ketat, karean dalam hal ini siapa yang ada dalam lukisan adalah mereka yang dikenal atau mereka yang digambar secara khusus maupun lukisan potret diri sendiri.

Untuk ketokohan dan konsep teknik yang presisi atau kemiripan wajah menjadi nilai utama.

Mungkin jika dipaksa menjadi dokumen, kategori inilah yang paling dekat “bertugas” untuk itu.

  • Figur Manusia

Dalam kategori ini, karya-karya yang termasuk di dalamnya adalah lukisan sengan model manusia sebagai objek.

Kategori ini lebih mengutamakan figure manusia yang tidak mementingkan aspek ketokohan sang subjek atau figure yang digambar.

Secara visual, manusia dalam lukisan kategori ini tentu saja lebih banyak mengekspos tubuh secara utuh dan tak dibebani oleh konsep karya seni pesanan dan biasanya digambar sendiri maupun lebih dari satu orang. Dalam kategori ini tidak dibatasi oleh persoalan kemiripan maupun ketokohan.

Beberapa contoh di dalamnya termasuk figure-figur perempuan telanjang atau sosok-sosok yang digambar karena alasan-alasan tertentu seperti manusia dalam aktivitas budaya, aktivitas sehari-hari, anak-anak, ataupun karena kedekatan dengan konsep tentang humanism dan “keindahan manusia” versi Basoeki Abdullah.

  • Lanskap Alam

Dalam kategori ini, lukisan yang termasuk kedalam di dalamnya adalah yang bertema pemandangan alam (gunung dan laut), situasi masyarakat yang sedang beraktifitas (seperti membajak sawah) sampai pada karya-karya yang melukiskan objek binatang dan tetumbuhan, baik bersama-sama maupun sendirian.

Dalam kategori lanskap alam, kita juga akan menemui karya-karya yang memadukan figure (biasanya wanita telanjang) yang sedang mandi di sungai atau pegunungan.

Dalam kasus ini keutamaan tema yang menjadi aspek penting dalam ketegorisasi.

Karya-karya lanskap Basoeki Abdullah tergolong bertipe lukisan lanskap gaya Inggris, seperti yang digubah oleh John Constable.

Sedikit dengan gaya langit yang dikembangkan oleh gaya cat air William Turner. Meskipun Basoeki menambah kesan indah-indah tetapi ia masih tergolong tak melakukan penympangan terlalu jauh.

Objek yang diambil tak terlalu berubah dan masih “alami”, jika dibandingkan dengan gaya lukisan Belanda maupun gaya Ideal-Klasik meski semua masih dalam kerangka aliran Romantisme.

  • Drama, Mitos & Spiritualitas

Kategori ini ingin menggambarkan situasi pikiran Basoeki Abdullah yang penuh dengan sikap-sikap religious, serta spirit local dengan pembawaan yang romantis.

Dalam kategori ini sejumlah tema dapat dimasukan, seperti cerita pewayangan (seperti Pergiwa-Pergiwati atau Gatot Kaca melawan Antasena), dunia religi (Jika Tuhan Murka), cerita rakyat (Joko Tarup), duni mitos (Nyi Roro Kidul) maupun hal-hal yang terkait dengan tema-tema yang bersifat naratif, seperti Korban Kelaparan di Padang Tandus dan karya Batu-Batu Bersejarah.

Kategori ini menandai rangkaian pemikiran Basoeki Abdullah yang tak bisa lepas dari peran sosialnya sebagai anggota masyarakat.

  • Kebangsaan

Sedangkan kategori ini merupakan sekumpulan karya-karya yang dimaksudkan sebagai bentuk sikap-sikap dukungan pada upaya pemerintah dalam konteks berbangsa dan menandai jejak-jejak yang menorehkan kepedulian terhadap persoalan sejarah bangsa.

Karya-karya yang ada dalam potret ini dapat berupa potret para pahlawan dan isu perihal nasionalisme. Karya-karya yang bersifat mengetengahkan promosi kebudayaan dapat dimaksukkan dalam kategori ini.

Contoh karyanya adalah Pangeran Diponegoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Ir. Soekarno, gambar-gambar yang dibuat dalam rangka program kerjasama antar bangsa seperti poster gerakan Non-Blok dan sketsa-sketsa masa Revolusi RI.

Lukisan pemandangan alam gunung karya Basoeki Abdullah.
Lukisan pemandangan alam gunung karya Basoeki Abdullah. (pinterest)

  • Keluarga dan Sisi Lain #


Dalam perjalanan hidupnya, Basoeki Abdullah menikah empat kali, istri pertamanya bernama Josephin seorang gadis Belanda yang dinikahinya di Gereja Katolik Den Haag Belanda pada tahun 1937.

Dari hasil pernikahannya dengan Josephin, Basooeki Abdullah dikarunia seorang anak perempuan bernama Saraswati (1938).

Sayang pernikahan tidak berlangsung lama dan merekapun berpisah. Pada tahun 1944, Basoeki Abdullah menikah kembali dengan Maya Michel seorang penyanyi seriosa mezzosoprano yang berbakat.

Titik temu Basoeki Abdullah dengan Maya Michel adalah karena keduanya sama-sama seniman dan seniwati. Perkawinan inipun tidak lama, pada tahun 1956 mereka berdua berpisah.

Pada tahun 1958, Basoeki Abdullah menikah kembali dengan wanita Thailand bernama Somwang Noi, tetapi pernikahan inipun tidak berlangsung lama sekitar 2 tahun, keduanya berpisah pula.

Terakhir pada tanggal 25 Oktober 1963, Basoeki Abdullah kembali menikah dengan seorang wanita Thailand bernama Nataya Nareraat sampai akhir hidupnya dan dikaruniai seorang putri bernama Cicilia Shidawati.

Meninggalnya Pelukis Basoeki Abdullah

Pada hari jum’at, tanggal 5 Nopember 1993, Basoeki Abdullah (diusia 78) meniggal secara tragis dirumah kediamannya (sekarang menjadi Museum Basoeki Abdullah).

Ia terbunuh dipagi hari oleh seorang pencuri yang dibantu tukang kebunnya sendiri yang berusaha mencuri koleksi jam tangan kesayangannya.

Ia ditemukan oleh pembantunya dalam posisi tertelungkup, dengan tangan masih memegang kacamata, disertai wajah dan kepala berdarah.

Suatu peristiwa yang tidak pernah terbayangkan dalam pikiran kita.

Banyak sekali media yang mencatat peristiwa terbunuhnya pelukis ini. Jenazah Basoeki Abdulllah kemudian dimakamkan didesa Mlati, Sleman Yogyakarta, bersanding dengan makam Dr. Wahidin Sudirohusodo, kakek yang amat dicintainya.

Basoeki Abdullah selain seorang pelukis juga pandai menari dan sering tampil dengan tarian wayang wong sebagai Rahwana atau Hanoman.

Basoeki Abdullah tidak hanya menguasai soal pewayangan, dan budaya jawa dimana ia berasal tetapi juga menggemari komposisi-komposisi Franz Schubert, Bethoven, Paganini dengan demikian wawasan sebagai seorang seniman Basoeki Abdullah cukup luas dan tidak jawasentris.

Sisi lain yang menarik dari Basoeki Abdullah adalah rasa humoris yang ada dalam dirinya.

Melihat berbagai koleksi pribadinya seperti mainan tikus-tikusan, laba-laba, atau ular-ularan untuk menggoda orang-orang yang dikenalnya dan yang dekat dengannya mengisaratkan hal itu.

Memorabilia dan karya-karya semasa hidup Basoeki Abdullah diabadikan di Museum Abdullah  yang terletak di jalan Jl. Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat Jakarta Selatan DKI Jakarta, Indonesia +62 21 7698926.

(Tribunnewswiki.com/Haris)



Nama Basoeki Abdullah
Lahir Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia 25 Januari 1915
Kebangsaan Indonesia
Wafat Basoeki Abdullah wafat pada 5 November 1993
Profesi Pelukis dan seniman
Aliran Realis dan naturalis
Orang tua R. Abdullah Suryosubroto dan Raden Nganten Ngadisah
Istri Nataya Nareraat
Anak Saraswati dan Shidawati
Relasi Dr. Wahidin Sudirohusodo (kakek)


Sumber :


1. museumbasoekiabdullah.or.id


Penulis: Haris Chaebar
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved