Amir Syarifuddin

Amir Sjarifoeddin Harahap (ejaan baru: Amir Syarifuddin Harahap) (lahir di Medan, Sumatra Utara, 27 April 1907 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Desember 1948 pada umur 41 tahun) adalah seorang politikus sosialis dan salah satu pemimpin terawal Republik Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri ketika Revolusi Nasional Indonesia sedang berlangsung. Berasal dari keluarga Angkola Muslim, Amir menjadi pemimpin sayap kiri terdepan pada masa Revolusi. Pada tahun 1948, ia dieksekusi mati.


zoom-inlihat foto
amir-sjarifuddinnnn.jpg
historia.id
Amir Sjarifuddin saat menjadi perdana menteri memimpin delegasi Indonesia dalam perundingan di Kapal Renville, Desember 1947. Kanan: Pimpinan pemberontakan PKI Madiun yang tertangkap. Amir Sjarifuddin (berkacamata) berada di antara Hardjono dan Maruto Darusman. (Repro Manusia dalam Kemelut Sejarah dan Madiun 1948: PKI Bergerak).

Amir Sjarifoeddin Harahap (ejaan baru: Amir Syarifuddin Harahap) (lahir di Medan, Sumatra Utara, 27 April 1907 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Desember 1948 pada umur 41 tahun) adalah seorang politikus sosialis dan salah satu pemimpin terawal Republik Indonesia. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri ketika Revolusi Nasional Indonesia sedang berlangsung. Berasal dari keluarga Angkola Muslim, Amir menjadi pemimpin sayap kiri terdepan pada masa Revolusi. Pada tahun 1948, ia dieksekusi mati.




  • Kehidupan Pribadi


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Amir Syarifuddin lahir di Medan, 27 Mei 1907.

Ia menorehkan riwayat perjuangan dalam tiga masa.

Yaitu sejak pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, hingga tiga tahun masa pertama Revolusi.

Latar belakang Amir Syarifuddin yang kaya memungkinkan dirinya masuk ke sekolah-sekolah elit.

Ia bersekolah di Haarlem dan Leiden di Belanda sebelum memperoleh gelar sarjana hukum di Batavia atau Jakarta.

Selama Amir Syarifuddin di Belanda, ia belajar mengenai filsafat Timur dan Barat di bawah pengawasan Theosophical Society.

Amir Syarifuddin pindah dari islah ke Kristen pada 1931.

Ada bukti Khotbah yang Amir Syarifuddin berikan dalam gereja Protestan terbesar di Batak Batavia.

Ayahnya, Djamin dengan gelar Baginda Soripada yang merupakan seorang jaksa di Medan.

Sedangkan ibunya, Basuni Siregar berasal dari keluarga Batak. (1)

  • Pendidikan


Amir Syarifuddin bersekolah di ELS atau sekolah dasar Belanda di Medan pada 1914 hingga Agustus 1921.

Amir Syarifuddin menjadi anggota Perhimpunan Indonesia (PI) ketika itu.

Di organisasi inilah ia bertemu dan mendapatkan gemblengan dari Semaun.

Semaun sendiri medupakan seorang pimpinan PKI yang dibuang ke negeri Belanda pada 1923.

Dibawah kepemimpinan Semaun, Amir Syarifuddin dan kader-kader Perhimpunan Indonesia lainnya mendapatkan pendidikan Marxisme -Leninisme.

Kegagalan peristiwa Pemberontakan PKI 1926/27 di tanah air berdampak pada studinya di Belanda.

Tanpa menyelesaikan studinya, pada pertengahan tahun1927 Amir Syarifuddin pulang ke tanah air.

Amir Syarifuddin diminta oleh Semaun untuk membantu sisa-sisa aktivis partai yang luput dari penangkapan, untuk menyusun kembali pergerakan di tanah air.(2)

Amir Syarifuddin melanjutkan studi di Recht Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum) Batavia.

Abang sepupunya Gunung Mulia, seorang anggota Volksraad ketika itu, mengajak Amir Syarifuddin supaya tinggal di rumahnya di Meester Cornelius (sekarang Jatinegara).

Namun, Amir Syarifuddin sendiri lebih suka tinggal di pemondokan mahasiswa di Jalan Kramat Raya 106, yang menjadi tempat berkumpulnya aktivis-aktivis pemuda, pelajar dan mahasiswa.

Rumah inilah yang menjadi tempat dicetuskannya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Di Recht Hooge School, Amir Syarifuddin berhubungan akrab dengan salah seorang guru besarnya yang bernama Profesor J.M.J Schepper.

Schepper sering mengajak Amir Syarifuddin yang masih beragama Islam untuk mengikuti pertemuan yang diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa Kristen di Jalan Kebon Sirih nomor 44 Batavia.

Kelompok ini bernama Christelijke Studenten op Java Vereeniging (CSV), cikal bakal organisasi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.

Belakangan, Amir Syarifuddin sering mengikuti pertemuan kelompok ini.

Bahkan Amir Syarifuddin menjadi peserta aktif didalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh CSV.(3)

  • Perjuangan


Nama Amir Syarifuddin sangat terkenal di antara pemuda-pemuda Indonesia.

Perannya bukan hanya di Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda itu.

Amir Syarifuddin juga merupakan tokoh ulung partai, ahli mengorganisasi massa, pengacara yang handal dan merupakan tokoh pemuda yang paling disegani.

Perjuangannya di awali ketika invansi Jepang ke Hindia Belanda.

Kala itu Amir Syarifuddin berusaha menyetujui dan menjalankan garis Komunis Internasional.

Agar kaum Kiri menggalang aliansi dengan kekuatan kapitalis untuk menghancurkan Fasisme.

Pada Januari 1943, Amir Syarifuddin ditangkap tentara Jepang dan dipenjarakan di Surabaya, kemudian Malang.

Selama ditahanan, ia mengalami penyiksaan yang berat.

Penyiksaan itu dihadapi Amir Syarifuddin dengan tabah.

“Saya mendapat hukuman mati. Tetapi berkat desakan teman-teman saya, hukuman ini diganti dengan hukuman seumur hidup,” tulis Amir dalam salah satu catatannya.(4)

Baru 33 bulan Amir Syarifuddin dipenjara, Perang Dunia II berakhir dan Jepang menyerah kalah.

Perkembangan selanjutnya, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Amir Syarifuddin pun dibebaskan dari penjara, lantas diangkat sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno.

Dalam Kabinet Sjahrir I, ia ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan.

Sekeluar dari penjara Jepang, Amir kemudian mendirikan sebuah partai baru.

Partai tersebut ia beri nama Partai Sosialisasi Indonesia (Parsi).

Nama "sosialis" menandakan tipe masyarakat yang diharapkan partai itu di dalam Republik Indonesia yang baru.

Parsi menerapkan konsepsi partai yang terbuka bagi golongan yang cenderung kiri, demokratis, anti-fasis, dan menentang segala bentuk kekuasaan pribadi.

Amir Syarifuddin ingin menjadikan Parsi sebagai partai yang tidak melakukan pemujaan kepada pimpinan dan menjadi laboratorium demokrasi.

Ia juga menghendaki partai yang “berpikir horizontal”.

Yaitu sebuah partai yang memperjuangkan keadilan sosial serta persamaan hak dan kewajiban, melawan pemikiran suatu masyarakat yang statis dan hierarkis, hanya atasan yang berhak bicara.

Lewat konferensi di Cirebon, 16-17 Desember 1945, Parsi dan Partai Rakyat Sosialis (Paras) yang dibentuk Sutan Sjahrir melebur diri menjadi Partai Sosialis.

Tapi, tak sampai dua tahun kemudian, koalisi ini retak karena perbedaan pendapat antara Amir Syarifuddin dan Sjahrir (yang saat itu juga menjabat Perdana Menteri RI) mengenai Perjanjian Linggajati.

Sjahrir lalu mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri dan belakangan membentuk partai baru yang diberi nama Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Amir Syarifuddin kemudian ditunjuk Presiden Soekarno untuk menggantikan Sjahrir.

Maka, jadilah Amir menjabat Perdana Menteri RI selama tujuh bulan (Juli 1947-Januari 1948). (5)

  • Peristiwa Madiun


Setelah Peristiwa Madiun 1948, pemerintahan Hatta PKI berupaya membentuk negara komunis di Madiun dan menyatakan perang kepada mereka.

Amir Syarifuddin sebagai salah seorang tokoh PKI turut ditangkap bersama beberapa kawannya

Saat peristiwa Madiun terjadi, ia sedang berada di Yogyakarta dalam rangka kongres Serikat Buruh Kereta Api (SBKA).(6)

Tengah malam di hari 19 Desember 1948, mereka dieksekusi bersama-sama oleh polisi militer, anak buah Kolonel Gatot Subroto di lokasi tersebut.

Eksekusi itu sendiri tanpa melalui pengadilan militer dan lebih dipicu sebagai kepanikan menyusul Agresi Militer II Belanda atas Kota Yogyakarta pada pagi harinya.

Sebab, pada Agresi Militer I, 21 Juli 1947, para tahanan republik di LP Wirogunan memanfaatkannya untuk kabur tanpa sempat diadili.

Sejarah memang mencatat kelam nama Amir.

Perannya sebagai pelaku Sumpah Pemuda (Jong Batak) 1928 dan pejuang anti-Jepang, hingga nyaris dihukum mati, jarang diungkit-ungkit.

Apalagi kabar dari salah satu versi, bahwa dialah sebenarnya calon proklamator utama NKRI, sebelum akhirnya pilihan pemuda-pemuda revolusioner jatuh pada Soekarno-Hatta.

Yang muncul dalam lembar sejarah adalah hujatan atas kegagalannya sebagai perdana menteri dengan meneken Perjanjian Renville (1948).(7)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Saradita Oktaviani)



Nama Amir Sjarifoeddin Harahap / Amir Syarifuddin Harahap
Lahir Medan, Sumatra Utara, 27 April 1907
Meninggal Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia, 19 Desember 1948 (41 tahun)
Partai politik PSI, PKI
Pasangan Djaenah Harahap
Anak 6
Jabatan Menteri Penerangan ke-1
2 September 1945 – 12 Maret 1946
Menteri Pertahanan Indonesia ke-2
14 November 1945 – 29 Januari 1948
Perdana Menteri Indonesia ke-2
3 Juli 1947 – 29 Januari 1948


Sumber :


1. web.archive.org
2. koransulindo.com
3. islambergerak.com
4. www.indovoices.com
5. historia.id
6. daerah.sindonews.com
7. news.detik.com


Penulis: saradita oktaviani
Editor: Natalia Bulan Retno Palupi






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved