TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sandiaga Uno akhirnya memberikan respons terkait Prabowo Subianto dan Nadiem Makarim yang menjadi menteri Jokowi-Ma'ruf Amin.
Sandiaga Uno mengaku akan memberikan masukan serta kritikan yang membantu karena di luar pemerintahan.
Dilansir TribunBali.com, Sandiaga Uno akhirnya memberikan komentar soal pelantikan kabinet Indonesia Maju pemerintahan Joko Widodo - KH Ma'ruf Amin 2019/2024.
Mantan calon wakil presiden yang mendampingi Prabowo Subianto pada Pilper 2019 tersebut memberikan respon terkait beberapa menteri.
Baca: Prabowo Subianto Jadi Sorotan Media Asing soal Kabinet Indonesia Maju: Dukungan Meningkat 74 Persen
Baca: Pamit dari GoJek, Nadiem Makarim Tulis Surat Perpisahan Untuk Karyawan Gojek Bermodal Tekad Kuat
Salah satunya adalah terkait Prabowo Subianto jadi Menteri Pertahanan dan Nadiem Makarim, menteri muda di kabinet Jokowi yang jadi Mendikbud.
Respon tersebut diungkap oleh Sandiaga Uno saat dirinya menghadiri acara Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya (UB) Kota Malang, Kamis (24/10/2019).
Pada kesempatan tersebut Sandiaga Uno menyebut jika Prabowo Subianto tak salah langkah memilih bergabung menjadi koalisi bahkan menjabat sebagai menteri pertahanan.
"Iya, kami doakan yang terbaik dan dipercayanya Pak Prabowo ini kan memberikan signal persatuan bahwa semuanya sudah selesai," ujar Sandiaga Uno dikutip dari Kompas.com.
Menurutnya dengan masuknya Prabowo Subianto ke dalam koalisi pemerintah mencerminkan tiga hal yang pernah disampaikannya.
Yakni menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menghilangkan segala perpecahan dan menatap masa depan bangsa.
“Saya hadir di mana waktu Pak Prabowo menyampaikan bahwa tiga hal yang harus menjadi landasan kami yaitu cinta NKRI, hilangkan perselisihan di antara kami dan perpecahan dan terakhir lihatlah ke depan dan jangan lihat ke belakang,” lanjut Sandiaga.
Lebih lanjut, Sandi juga mengomentari terpilihnya Nadiem Makarim menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam Kabinet Indonesia Maju.
Sandi pun membeberkan harapannya pada Nadiem untuk kinerja lima tahun ke depan.
Sandiaga berharap, mantan CEO Gojek itu mampu menyambungkan kebutuhan dunia bisnis dengan dunia pendidikan, terutama di bidang inovasi teknologi.
“Dengan dipilihnya Pak Nadiem, ini tentunya diharapkan bahwa peran teknologi dan peran inovasi di sektor pendidikan kita ini akan bisa membawa pendidikan lebih tuntas dan berkualitas," ujar Sandi.
Baca: Ada Prabowo dan Sandiaga di Pelantikan Jokowi-Maruf, Inilah Jajaran Tokoh Besar Bangsa yang Hadir
Kemudian Sandi juga berharap akan ada keserasihan antara kebutuhan dunia usaha dan industri melalui proses belajar-mengajar.
“Tentunya harapan besar dari kita semua ada suatu langkah yang inovatif dan tentunya kita harus kawal bersama,” kata Sandiaga.
Sandiaga mengatakan, teknologi berkembang dengan sangat cepat.
Adapun perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap seluruh sektor kehidupan.
Untuk itu, dibutuhkan inovasi dan kreativitas untuk mengejar segala perubahan itu.
“Yang tadi saya sampaikan bahwa teknologi berubah secara cepat, dunia berubah secara cepat. Oleh karena itu, kita mecermati bahwa perubahan ini juga perlu diikuti derap langkah di sektor kesehatan, sektor pendidikan, sektor bisnis dan lain sebagainya,” kata Sandi.
Baca: Prabowo Calon Kuat Menteri di Kabinet Jokowi, Sandiaga Uno dan Fadli Zon Justru Menolak
Bukan hanya memberikan respon positif, Sandi juga tidak akan ragu memberikan masukan dan kritik pada kebijakan kabinet dan pemerintahan.
Kritikan akan dilayangkan Sandi jika ada kebijakan atau tak melaksanakan tugas dengan maksimal.
“Menteri-menteri tentunya punya mandat yang sudah disampaikan, kita beri kesempatan kerja dan tentunya nanti pada saat yang tepat secara periodik kita akan memberikan masukan dan kritikan yang konstruktif,” lanjut Sandi.
Meski demikian, Sandiaga mengatakan, para menteri dan anggota kabinet kerja perlu diberikan waktu untuk bekerja.
Ia pun tak ingin terburu-buru memberikan kritik.
“Saya akan sampaikan apa adanya, karena saya di luar pemerintahan. Kalau kita melihat kebijakan yang baik, harus kita dorong. Tapi kalau kebijakan yang salah, jangan khawatir kita akan bermusuhan, tapi justru kita berikan kritikan yang bersahabat,” kata Sandiaga.
Sandiaga mengatakan, tantangan Indonesia ke depan adalah keluar dari penghasilan kelas menengah pada 2045.
Pada tahun itu, atau setelah Indonesia berusia satu abad, Jokowi menargetkan Indonesa menjadi negara maju dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai 7 trilliun dollar AS.
Dengan angka itu, Indonesia akan masuk dalam lima besar ekonomi dunia, dengan kemiskinan mendekati nol persen.
Namun, menurut Sandi, untuk mencapai keinginan itu, Indonesia harus mampu mencapai petumbuhan ekonomi sebesar 7 hingga 8 persen per tahun.
“Berarti kita harus tumbuh di antara 7 sampai 8 persen. Nah kita tidak akan bisa mampu untuk bertumbuh tanpa adanya dorongan dari generasi muda yang siap terjun menjadi wirausaha-wirausaha yang mendorong terciptanya lapangan kerja yang baru. Ini yang menjadi PR kita,” kata Sandiaga.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Abdurrahman Al Farid/TRIBUNBALI/KOMPAS.COM)