Sejarah Rumah Dinas Wali Kota Surakarta Loji Gandrung.
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Rumah Dinas Wali Kota Surakarta atau Loji Gandrung, lekat kaitannya dengan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Loji Gandrung berada yang berada di Jalan Slamet Riyadi Surakarta, tepat di pusat kota Surakarta ini sudah berstatus cagar budaya.
Loji atau Lodge memiliki arti rumah mewah dan Gandrung memiliki arti berpesta, sehingga Loji Gandrung merupakan rumah untuk berpesta para petinggi Belanda di Surakarta. Dimiliki oleh keluarga berdarah Belanda-Perancis, membuat rumah ini sering digunakan untuk berpesta.
Rumah dinas ini sudah dibangun sejak tahun 1880, sepuluh tahun pasca kepindahan Keraton Kartasura ke Surakarta. Loji Gandrung tidak berdiri sendiri, melainkan dikelilingi beberapa rumah petinggi pemerintah Belanda lainnya. Diantaranya, yakni: Rumah Kapitein der Chinezen atau Ndalem Doyoatmodjo, rumah keluarga Sie Dhian Ho Purwosari dan beberapa lainnya sepanjang Jalan Slamet Riyadi.
Berikut riwayat Rumah Dinas Wali Kota Surakarta Loji Gandrung:
Loji Gandrung, Awal Keluarga Tinus Dezentje.
Awal mulanya Loji Gandrung ini rumah pribadi keluarga Johanes Augustinus Dezentje atau Tinus Dezentje. Tinus Dezentje merupakan putera dari Jean Caspar (1675-1826), seorang pengawal Eropa yang ditugaskan menjaga raja Keraton Kasunanan Surakarta[1]
Selama masa pendudukan Inggris. Jean Caspar menjabat sebagai perwira di detasemen raja Belanda. Dengan gaji sebagai perwira, Caspar memberanikan diri untuk menyewa tanah milik Kasunanan Surakarta. Tanah tersebut membentang dari Salatiga hingga Boyolali, yang nantinya tanah tersebut diwariskan kepada anaknya yakni Tinus Dezentje.
Tinus Dezentje menikah di usia muda yakni 18 tahun, dengan perempuan berdarah Eropa yakni Dorothe Bodhe. Tiga tahun kemudian menikah kembali dengan puteri dari raja Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Raden Ayu Tjondrokoesoemo.
Hasil pernikahan kedua kalinya, Tinus berhasil memperluas tanah perkebunannya dan tinggal menetap di Ampel Boyolali bersama Raden Ayu Tjondrokoesoemo. Sedangkan Dorothe Bodhe sang istri Eropa dibangunkan rumah mewah bergaya Eropa di Surakarta. atau sekarang bernama Loji Gandrung.
Dalam karya Bruggen dan Washing, dijelaskan bahwa gaya hidup Tinus Dezentje seperti bangsawan Jawa walaupun beliau berdarah Belanda-Perancis. Tinus Dezentje seorang pengusaha kopi terkaya pada waktu itu, bahkan memiliki pabrik kopi dan teh sendiri di sebelah barat rumahnya[1]
Komplek kediaman Tinus layaknya sebuah kota tradisional Jawa, lengkap dengan alun-alun dan tembok benteng dan rumah-rumah para pegawai perkebunan. Bahkan rumahnya pun di kelilingi perkebunan teh dan kopi.
Pendeta S. Buddigh yang pernah berkunjung ke kediaman Tinus mencatatkan, rumah Tinus seperti rumah bangsawan raja Jawa. Dan lengkap dengan kebun binatang dan tembok besar mengelilingi, layaknya benteng pertahanan.
Catatan Bruggen menambahkan ketika Tinus bepergian, masyarakat berbondong-bondong memberikan penghormatan dan bersimpuh layaknya adat Jawa di sepanjang jalan. Keloyalan Tinus tidak seperti pengusaha Eropa lain, ia lebih memilih hidup sederhana dan tidak segan memberikan ternak dan bibit tanaman kepada masyarakat.
Masa Kritis Kejayaan Tinus
Saat perang Jawa pecah (1825-1830) Tinus harus menyewa serdadu bayaran yang disebut Detasement Dezentje, seharga 6000 gulden untuk mengamankan perkebunannya. Jenderal De Kock mendengar kabar tersebut meminta Dezentje untuk membujuk raja Keraton Kasunanan Surakarta supaya netral dalam perang Jawa. Atas bantuan dan keberhasilan membujuk raja, ia mendapat gelar Orde De Nederlandsche Leeuw dari Kerajaan Belanda.
Akhir Kejayaan Tinus Dezentje'
Tinus Dezentje wafat di usia muda 42 tahun pada 7 November 1840, dengan mewariskan tanah seluas 1.275 hektar di lereng gunung Merbabu. Tahun 1860 merupakan akhir kejayaan perkebunan kopi keluarga Tinus Dezentje, sekaligus menutup gelar raja kopi.
Nyonya Ch. Ernest Dezentje merupakan keturunan terakhir dari Tinus Dezentje, dan sempat menempati rumah mewah di Jalan Slamet Riyadi yakni Loji Gandrung. Tahun 1924 ketika Jepang mulai masuk ke Indonesia (Hindia Belanda), Ernest Dezentje diminta untuk pergi dari Indonesia oleh Keraton Kasunanan. Dan akhirnya keluarga Tinus Dezentje resmi hengkang dari Indonesia tahu 1943 tanpa meninggalkan apapun kecuali Loji Gandrung.
Yang Tersisa dari Keluarga Tinus Dezentje.
Tidak banyak yang tersisa dari Tinus, hanya menyisakan makam keluarga (Kerkkhof atau Begraafplaats) di Ampel dan Loji Gandrung di Surakarta[3].
Adapun informasi seputar Loji Gandrung:
Nama Tempat: Rumah Dinas Wali Kota Surakarta "Loji Gandrung".
Posisi:
Utara berbatasan dengan Jalan Slamet Riyadi.
Selatan berbatasan dengan Kampung Penumping.
Timur berbatasan dengan Bank Mandiri.
Barat berbatasan dengan Hotel Grand Hap.
Titik Koordinat: Jl. Slamet Riyadi, Penumping, Kec. Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57141
Posisi Gedung:
Julukan: Loji Gandrung
Situs: Surakarta.go.id
Loji Gandrung masih digunakan sebagai rumah dinas Wali Kota Surakarat FX. Hadi Rudyatmo, dan terbuka untuk masyarakat selama 24 jam tanpa dikenakan biaya. Sebelum digunakan oleh FX. Hadi Rudyatmo, rumah ini sempat digunakan tokoh berpengaruh dunia diantaranya: Soekarno dan Joko Widodo.
| Alamat |
|---|
| Lokasi |
|---|
| Google Map |
|---|
Sumber :
1. jateng.tribunnews.com
2. Bruggen & Washing. Djokja en Solo: Beeld van Vorstentenden. Asia Maior: Pummered.
3. nationalgeographic.grid.id