Umar Kayam

Umar Kayam adalah sastrawan, budayawan, dan sosiolog yang dikenal pernah memerankan Presiden Sukarno di film Pengkhianatan G30S/PKI


Natalia Bulan Retno Palupi

Umar Kayam
Wikicommons (Lontar Foundation)
Umar Kayam 

Umar Kayam adalah sastrawan, budayawan, dan sosiolog yang dikenal pernah memerankan Presiden Sukarno di film Pengkhianatan G30S/PKI




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Umar Kayam adalah seorang sastrawan, budayawan, sosiolog.

Umar Kayam terkenal memerankan Presiden Sukarno dalam film Pengkhianatan G30S/PKI.

Priyayi yang bergelar raden mas ini juga termasyhur dengan novelnya yang berjudul Para Priyayi.

Dia pernah mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarka, Universita Indonesia, dan menjadi guru besar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Selain itu dia pernah menjadi Dirjen Radio, Televisi, dan Film (Dirjen RTF) Departemen Penerangan RI di Jakarta dan Ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Umar Kayam meninggal di Jakarta pada 16 Maret 2002. [1]

Umar Kayam memerankan Presiden Sukarno di Film Pengkhianatan G30S/PKI
Umar Kayam memerankan Presiden Sukarno di Film Pengkhianatan G30S/PKI

  • Kehidupan dan Karier Awal


Umar Kayam lahir di Ngawi, Jawa Timur pada 30 April 1932.

Orangtuanya berasal dari Solo, namun menjelang kelahiran Umar Kayam, mereka berdua pergi ke Ngawi.

Kakek Umar Kayam menginginkan cucu pertamanya lahir di rumahnya, di Ngawi.

Ayah Umar Kayam bernama Sastrosoekoso, seorang guru bantu di Wonogiri.

Dia memberi nama anaknya Umar kayam karena terinspirasi dari seorang filsuf, sufi, ahli perbintangan, ahli, matematika dan pujangga masyhur asal Persia bernama Omar Khayam.

Sastrosoekoso berharap Umar Kayam dapat menjadi sehebat Omar Khayam Persia tersebut. [2]

Umar Kayam dibesarkan di Wonogiri sampa umur dua tahun.

Keluarganya kemudian pindah ke Solo.

Pendidikan awal Umar Kayam dimulai dari voorklas (TK) kemudian Hollands Hollands Inlandsch School (HIS) “Siswo” Mangkunegaran.

Selepas HIS, di melanjutkan ke Meer Uitgebreid  Lagere Onderwijs (MULO).

Ketika bersekolah di MULO, Umar Kayam nulai banyak membaca novel-novel luar.

Umar Kayam sempat bersekolah di sebuah SMA di Semarang, sebelum pindah ke SMA Bagian A (Sastra dan Bahasa) di Yogyakarta.

Pada 1951, dia meneruskan pendidikannya di Jurusan Paedagogik, Fakultas Sastra, Paedagogik, dan Filsafat, Universitas Gadjah Mada.[3]

Umar Kayam meraih gelar B.A (Sarjana Muda) empat tahun kemudian.

Karena menganggap pendidikan itu penting, dia meneruskan pendidikan di University of New York, Amerika Serikat dan meraih M.A pada 1963.

Dua tahun kemudian, dia meraih PhD di Cornell University.

Dia mengabdi di UGM dan dikukuhkan menjadi guru besar pada 1988.[4]

Umar Kayam memiliki nama lain “Kiwati”, didapatkannya dari Papua.

Selain itu, dia juga mempunyai panggilan “Uka”.[5]

Umar Kayam menikahi perempuan Minang bernama Roosliana Hanoum pada 1 Mei 1959 di Medan.[6]

  • Sebagai Penulis, Seniman, dan Akademisi


Umar Kayam menjadi menjadi dosen di beberapa kampus, di antaranya Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Universitas Indonesia, dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dia juga pernah memegang beberapa jabatan, antara lain:  Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966—1969), Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969—972), senior fellow pada East-West Center, Hawaii, AS (1973), Direktur Pusat Latihan Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Hasanuddin, Ujungpandang (1975—1976), Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (mulai 1977), Ketua Dewan Film Nasional (1978—1979), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (mulai 1981), Ketua Dewan Juri Festival Film Indonesia (mulai 1984),anggota penyantun majalah Horison (mengundurkan diri sejak 1 September 1993), dan anggota Akademi Jakarta (mulai 1988).

Umar Kayam dikenal sering menulis prosa dalam bentuk cerpen dan novel.

Meskipun karyanya tidak banyak, tetapi karyanya dianggap berkualitas.

Dia baru menulis sastra ketika melanjutkan pendidikannya di Amerika Serikat.

Sebelumnya, ketika masih menjadi mahasiswa di UGM, dia lebih fokus ke bidang seni, yakni teater dan drama.

Umar Kayam dikenal sebagai aktivis Teater Fakultas Sastra, Pedagogik, dan Filsafat UGM.

Dia pernah menyutradai lakon “Hanya Satu Kali”, saduran Sitor Situmorang dan karya Robert Middelmans yang dimainkan Rendra.

Dia juga pernah menulis skenario “Jalur Penang dan Bulu-Bulu Cendrawasih”, “Yang Muda Yang Bercinta”, “Jago”, dan “Frustrasi Puncak Gunung”.

Umar Kayam pernah menjadi aktor dalam film “Karmila”, “Kugapai Cintamu”, Pengkhianatan G30S/PKI, “Jakarta 66”, dan “Canting”.[7]

Seribu Kunang-Kunang di Manhattan adalah kumpulan cerpen Umar Kayam yang paling terkenal.

Kumcer ini telah disalin ke berbagai bahasa asing, di antaranya Jepang, Jerman, dan Prancis.

Selain itu, kumcer ini juga dialihbahasakan ke bahasa Jawa, Sunda, Minang, dan Makassar.

Novel Umar Kayam yang paling terkenal adalah Para Priyayi, terbit 1992.

Umar Kayam aktif menulis di kolom Kedaulatan Rakyat.

Ratusan kolomnya kemudian dihimpun dan diterbitkan dalam tiga seri, yakni Mangan Ora Mangan Kumpul, Sugih Tanpa Banda, dan Madhep Ngalor Sugih, Madhep Ngidul Sugih. [8]

  • Kematian


Sejak 1 Maret 2002, Umar Kayam dirawat di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre(MMC), Jakarta Selatan, karena mengalami pendarahan.

Pada 16 Maret 2002 pukul 07.45, Umar Kayam meninggal di MMC karena pendarahan usus.

Umar Kayam dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Selatan pada sore harinya.[9]

  • Karya


a. Cerpen
1. Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
2. Istriku, Madame Schultz, dan Sang Raksasa
3. Sybil
4. Secangkir Kopi dan Sepotong Donat
5. Chief Sitting Bull
6. There Goes Tatum
7. Musim Gugur Kembali di Connecticut
8. Kimono Biru buat Istri

b. Novel pendek (novelet)
1. Sri Sumarah
2. Bawuk

c. Novel
1. Para Priyayi (Pustaka Jaya, 1992)
2. Jalan Menikung (Pustaka Jaya 2002) [10]

(TRIBUNNEWSWIKI/Febri)



Nama Umar Kayam
Lahir Ngawi, 30 April 1932
Meninggal 16 Maret 2002
Pendidikan HIS, MULO, SMA A Yogyakarta, Fakultas SFP UGM, University of New York, dan Cornell University
Istri Roosliana Hanoum
Dikenal sebagai Sastrawan, budayawan, sosiolog, dan seniman


Sumber :


1. ensiklopedia.kemdikbud.go.id
2. www.situsbahasa.com
3. media.neliti.com
4. repository.usu.ac.id
5. www.liputan6.com


Editor: Natalia Bulan Retno Palupi






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved