Shamsi Ali

Shamsi Ali atau yang sering disebut dengan Imam Shamsi Ali adalah seorang imam dan pendakwah yang aktif di New York, Amerika Serikat.


zoom-inlihat foto
shamsi-ali-2.jpg
eramuslim.com
Imam Shamsi Ali

Shamsi Ali atau yang sering disebut dengan Imam Shamsi Ali adalah seorang imam dan pendakwah yang aktif di New York, Amerika Serikat.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Shamsi Ali atau yang sering disebut dengan Imam Shamsi Ali adalah seorang imam dan pendakwah yang aktif di New York, Amerika Serikat.

Shamsi Ali merupakan imam di Islamic Center of New York dan direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan. (1

Selain itu ia juga merupakan seorang imam dan Ketua Yayasan Masjid Al-Hikmah, yang didirikan muslim Indonesia di Astoria.

Shamsi Ali juga seorang direktur Jamaica Muslim Center di Queens. (2

Imam Shamsi Ali aktif dalam kegiatan berdakwah dan komunikasi antar agama di Amerika Serikat dan masih berkewarganegaraan Indonesia.

Imam Islamic Center New York, Shamsi Ali
Imam Islamic Center New York, Shamsi Ali (TRIBUN JABAR VIA YOUTUBE)

  • Informasi Pribadi #


Shamsi Ali bernama lengkap Muhammad Shamsi Ali dan nama aslinya adalah Mohammed Utteng Ali.

Ia lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967 dari pasangan Ali Kadrun dan Inong Tippangrom.

Istrinya bernama Mutiah dan telah memiliki enam orang anak yakni Utsman, Adnan, Maryam, Malika, Shakil dan Ayman. (3

  • Masa Kecil #


Shamsi Ali lahir dari keluarga yang berprofesi sebagai seorang petani.

Orang tuanya tidak begitu religius, tetapi mereka ingin agar Shamsi Ali belajar membaca Alquran, jadi mereka mengirimnya ke Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam Makassar.

Selama masa kecilnya, Utteng (begitu dia biasa dipanggil) adalah anak yang nakal, malas dan sering bolos.

Dia pernah ditahan karena memukul seorang siswa bernama Mustafa, mematahkan hidungnya dan mengirimnya ke rumah sakit.

Orang tua Mustafa kemudian memanggil polisi dan mereka menangkapnya, meskipun dia tidak sepenuhnya bersalah.

Akhirnya Utteng dipenjara selama dua minggu.

Untungnya, dia tidak dikeluarkan dari sekolah asrama karena insiden itu.

Namanya diubah dari Utteng menjadi Shamsi (sebuah kata Arab yang berarti matahari) ketika ia dan ayahnya bertemu dengan kepala sekolah Daarul Arqam, Abdul Jabbar Asyiri.

Kepala sekolah berpendapat bahwa dalam Islam, nama itu adalah doa dan harus memiliki perasaan yang baik, dan ia akhirnya mengganti nama tengahnya dari Utteng ke Shamsi dengan harapan, Utteng bisa menjadi yang terpuji (dari nama depannya) dan dapat menerangi (dari nama tengahnya, dengan cara yang sama seperti matahari) pada hati manusia. (3)

Shamsi Ali dan keluarganya
Shamsi Ali dan keluarganya (ngopibareng.id)

  • Karier #


Setelah tamat dari pesantren 1987, Shamsi Ali mengabdikan diri sebagai staf pengajar di almamaternya hingga akhir 1988.

Ia mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan.

Shamsi Ali kemudian mengambil jenjang S1 dalam bidang Tafsir diselesaikan tahun 1992 dan dilanjutkan pada universitas yang sama dan menyelesaikan jenjang S2 dalam bidang Perbandingan Agama pada tahun 1994.

Selama studi S2 di Pakistan, Shamsi Ali juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad.

Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran untuk mengajar pada The Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi pada awal tahun 1995.

Pada musim haji tahun 1996, Shamsi Ali mendapat amanah untuk berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah di Arab Saudi.

Dari sanalah bertemu dengan beberapa jamaah haji luar negeri, termasuk Dubes RI untuk PBB, yang sekaligus menawarkan kepadanya untuk datang ke New York, Amerika Serikat.

Tawaran ini kemudian diterima Shamsi Ali dan ia pindah ke New York pada awal tahun 1997. (1)

Shamsi Ali memperoleh gelar Ph.D dalam Ilmu Politik dari Southern California University pada tahun 2003.

Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa asli dan bahasa Bugis sebagai bahasa ibu, Ali juga fasih berbahasa Arab, Inggris, dan Urdu.

Setelah tiba di New York pada tahun 1996, Shamsi Ali melayani sebagai imam di sebuah masjid komunitas Indonesia di Long Island City, Queens.

Melalui dana dari Misi Indonesia untuk PBB, Bank Indonesia dan konsulat Indonesia di New York, masyarakat membeli gudang bahan kimia seharga  350.000 Dollar Amerika di 31st Street dan 48th Avenue di Astoria, Queens.

Pada tahun 2001, Shamsi Ali ditunjuk sebagai wakil Imam dari Pusat Kebudayaan Islam New York yang merupakan masjid terbesar di kota yang terletak di jalan ke-96 dan 3rd Ave di Manhattan, tetapi meninggalkan posisinya pada tahun 2011.

Shamsi Ali juga adalah Ketua Dewan Pengawas untuk Federasi Muslim ASEAN di Amerika Utara.

Dia juga menjabat sebagai Wakil Presiden Koalisi Asia-Amerika Amerika Serikat (AAC-USA) dan Perwakilan PBB dan sebagai anggota Dewan Penasihat untuk berbagai organisasi antaragama, termasuk Tanenbaum Centre dan Federation for Middle East Peace.

Dalam organisasi antaragama, Imam Ali melayani sebagai anggota Dewan untuk Kemitraan Iman di NY, dan salah satu pendiri UNCC (Universal Clergy Coalition-International).

Selain itu, ia juga Asisten Direktur dan anggota Dewan Yayasan Muslim Amerika, Inc., dan Ketua Parade Hari Muslim tahunan di NYC.

Beberapa hari setelah peristiwa 11 September 2001, New York City memilihnya untuk mewakili komunitas Muslim untuk mengunjungi tempat itu, di mana ia bertemu Presiden George W. Bush.

Dia juga membacakan doa di upacara peringatan untuk para korban 11 September di stadion Yankee di Bronx.

Pada tahun 2002, Shamsi Ali ditunjuk "Duta Besar untuk Perdamaian" oleh Federasi Agama Internasional, dan penerima Penghargaan Antar Agama ICLI pada tahun 2008.

Ia juga terpilih sebagai salah satu dari tujuh pemimpin agama paling berpengaruh di Kota New York oleh New York Magazine pada tahun 2006.

Dia mewakili komunitas Muslim pada diskusi antaragama tentang Agama dan Pembangunan Berkelanjutan di Gedung Putih 2007, dan mengambil bagian dalam Dialog Antar Agama Transatlantik di Frankfurt, Jerman 2008.

Dalam komunitas Muslim Indonesia di Amerika Utara, ia menjabat sebagai Dewan Penasihat organisasi-organisasi Muslim nasional utama seperti IMSA (Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika) dan ICMI (Masyarakat Intelektual Muslim Indonesia di Amerika).

Shamsi Ali juga menjadi presiden Yayasan Nusantara, organisasi yang beroperasi berbasis masyarakat dan organisasi nirlaba di New York yang didirikan, didukung publik, dioperasikan oleh, dan untuk kepentingan budaya Indonesia. (3)

Rabi Marc Schneier (kiri) dan Imam Shamsi Ali (kanan)
Rabi Marc Schneier (kiri) dan Imam Shamsi Ali (kanan) (Kompas/Yuniadhi Agung (MYE))

  • Kontroversi #


Shamsi Ali dituduh oleh beberapa orang dari Pusat Kebudayaan Islam New York melakukan kesalahan selama masa jabatannya sebagai Imam.

Beberapa jemaah tidak setuju dengan pendekatan liberalnya, terutama kegiatan antaragama yang mereka katakan kontroversial.

Orang-orang lain di masjid menuduhnya tidak berbuat baik di komunitas yang lebih luas, tetapi dia pergi keluar dan berteman dengan Walikota Michael Bloomberg dan Komisaris Polisi Kelly.

Beberapa orang kemudian menolak untuk menghadiri shalat yang diimami oleh Shamsi Ali.

Ajaran-ajarannya tentang bagaimana menjalani kehidupan Islam modern dalam masyarakat Barat membuat marah beberapa jemaah.

Salah satu ulama di Afrika Selatan bahkan mengeluarkan fatwa, memperingatkan umat Islam agar tidak melakukan shalat yang diimami oleh Shamsi Ali.

Tuduhan terburuk terhadapnya adalah bahwa ia telah dituduh oleh takfiri (kelompok yang sering mengkafirkan) bahwa Shamsi Ali telah murtad.

Beberapa Muslim fundamentalis di Queens tidak setuju dengan pendekatan Shamsi Ali terhadap para pemuda untuk lebih dekat dengan Islam.

Mereka menuduhnya merusak mental anak muda Muslim dengan membiarkan mereka menggunakan ruang bawah tanah masjid untuk berlatih musik yang mereka anggap haram.

Mereka juga menuduhnya sebagai juru bicara FBI.

Pada kesempatan lain, kelompok orang ini menentang pembelaan Shamsi Ali atas seorang Muslim Syiah yang melakukan demonstrasi melawan terorisme dan ketidakadilan, yang mereka anggap sebagai orang kafir.

Menurut Shmasi Ali, salah satu kelompok ini dianggap sebagai cabang Amerika dari Al-Muhajiroun yang berbasis di London, yang terkenal karena konferensinya "The Magnificent 19," memuji mereka yang melakukan serangan 9/11.

Shmasi Ali meninggalkan posisinya di ICC New York (manajemen di ICC bersikeras bahwa ia dipecat) pada 2011.

Dia melanjutkan posisinya sebagai direktur Pusat Muslim Jamaika di Astoria, Queens sejak 2004 dan sebagai ketua masjid Al-Hikmah sejak 1996.

Pada September 2015 Shamsi Ali dengan tajam mengkritik Ketua DPR Indonesia, Setya Novanto dan Wakil Ketua Fadli Zon karena menghadiri konferensi pers Donald Trump.

Shamsi mengatakan pertemuan itu telah mempermalukan para pemimpin negara Indonesia dan penuh dengan kepentingan politik.

Dia mengatakan jelas bahwa konferensi pers adalah bagian dari acara kampanye.

Dia lebih lanjut mengatakan kehadiran Setya dan Fadli, yang berdiri di belakang Trump ketika taipan bisnis AS menyampaikan pidato, sangat menyedihkan.

Selain itu, menurut Imam Shamsi Ali, Donald Trump dikenal karena komentar rasis dan anti-imigrannya, termasuk sentimen anti-Muslim. (3)

Imam Shamsi Ali
Imam Shamsi Ali (TribunTimur/Dok. Pribadi)

  • Penghargaan #


Ellis Island Medal of Honor

ICLI Interfaith Award

Turkish Cultural Center Friendship Award (3)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/ Abdurrahman Al Farid)



Nama Imam Shamsi Ali
Tempat, Tanggal Lahir Bulukumba, 5 Oktober 1967
Pekerjaan Tokoh Muslim Indonesia, Imam
Ayah Ali Kadrun
Ibu Inong Tippangrom
Istri Mutiah
Anak Utsman
Adnan
Maryam
Malika
Shakil
Ayman
Kebangsaan Indonesia


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. dunia.tempo.co
3. en.wikipedia.org


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved