Hari Ini dalam Sejarah - Gempa dan Tsunami Terjadi di Palu dan Donggala

Hari Ini dalam Sejarah - Gempa mengguncang Palu dan Donggala pada Jumat (28/9/2018). Gempa tersebut mengakibatkan tsunami di wilayah Palu dan Donggala.


zoom-inlihat foto
suasana-masjid-baiturrahman-yang-hancur-pascagempa-dan-tsunami-palu-sulawesi-tengah.jpg
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Suasana Masjid Baiturrahman yang hancur pascagempa dan tsunami di Kawasan Taman Ria, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). BNPB menyatakan kerugian akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Donggala dan Palu mencapai puluhan triliun rupiah, hal tersebut berdasarkan dampak bencana dan cakupan kerusakan.

Hari Ini dalam Sejarah - Gempa mengguncang Palu dan Donggala pada Jumat (28/9/2018). Gempa tersebut mengakibatkan tsunami di wilayah Palu dan Donggala.




  • Kronologi


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sempat terjadi beberapa kali gempa di wilayah Kota Palu dan Kabupaten Donggala pada Jumat (28/9/2018).

Gempa yang pertama kali terjadi pada pukul 14.00 WIB.

Gempa tersebut berkekuatan magnitudo 6 dengan kedalaman 10 kilo meter.

Akibat gempa tersebut, satu ornag meninggal dunia, 10 orang terluka, dan puluhan rumah rusak di Kecamatan Singaraja, Kabupaten Donggala.

Beberapa waktu kemudian terjadi gempa susulan.

Tepatnya, gempa yang kedua terjadi pada pukul 17.02 WIB.

Gempa yang kedua ini memiliki kekuatan yang lebih besar, yaitu magnitudo 7,4 dengan kedalaman yang sama, 10 km di jalur sesar Palu Koro.

Gempa ini termasuk gempa yang dangkal dan berpotensi memicu tsunami.

Lima menit kemudian, Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini tsunami.

Kala itu, status peringatan adalah siaga dan waspada.

Status siaga berarti tinggi tsunami antara 0,5 meter hingga 3 meter.

Status tersebut untuk di pantai barat Donggala.

Sementara itu, Status waspada untuk sekitar Kota Palu bagian barat.

Sekitar 30 menit seteleh dikeluarkan peringatan tersebut, BMKG sempat mencabutnya.

Namun tsunami benar-benar terjadi pada pukul 17.22 WIB.

Berdasarkan data BNPB, ketinggian tsunami ada yang mencapai ketinggian enam meter.

Setelah terjadi tsunami, masih ada beberapa kali gempa susulan di hari yang sama.

Setidaknya ada 13 gempa yang tercatat pada rentang waktu pukul 14.00 WIB hingga 21.26 WIB. (1)

Suasana Masjid Baiturrahman dan Palu Grand Mall yang hancur pascagempa dan tsunami di Kawasan Taman Ria, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). BNPB menyatakan kerugian akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Donggala dan Palu mencapai puluhan triliun rupiah, hal tersebut berdasarkan dampak bencana dan cakupan kerusakan.
Suasana Masjid Baiturrahman dan Palu Grand Mall yang hancur pascagempa dan tsunami di Kawasan Taman Ria, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10/2018). BNPB menyatakan kerugian akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Donggala dan Palu mencapai puluhan triliun rupiah, hal tersebut berdasarkan dampak bencana dan cakupan kerusakan. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN )


Gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala berdampak besar pada kehidupan masyarakat.

Gempa dan tsunami tersebut berdampak langsung terhadap empat daerah di Sulawesi Tengah, yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.

Berikut adalah dampak yang terjadi menurut catatan BNPB pada Minggu (21/10/2018).

Tercatat 2.256 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Sebarannya, 1.703 meninggal dunia di Palu, Donggala 171 orang, Sigi 336 orang, Parigi Moutong 15 orang, serta Pasangkayu 1 orang.

Selain itu, sebnayak 1.309 orang dilaporkan hilang, 4.612 orang luka-luka, dan 223.751 orang mengungsi di 122 titik.

Selain korban nyawa, banyak bangunan dan infrastruktur hancur akibat gempa dan tsunami Palu dan Donggala.

Kerusakan tersebut meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, 78 unit perkantoran, 362 unit toko, jalan 168 titik retak, 7 unit jembatan, dan lain sebagainya. (2)

Selanjutnya, dilaporkan kerugian akibat bencana gempa dan tsunami yang terjadi mencapapai Rp 18,48 triliun.

Sebarannya, meliputi Kota Palu senilai Rp8,3 triliun, Kabupaten Sigi Rp6,9 triliun, Donggala Rp2,7 triliun, dan Parigi Moutong Rp640 miliar.

Kerugian terbesar terletak di sektor permukiman.

Hampir semua bangunan di sepanjang Pantai Teluk Palu rata dengan tanah akibat tsunami.

Selain itu, bangunan di daerah Petobo, Balaroa, dan Sibalaya terkena likuefaksi.

Akibatnya, terjadi kerusakan mulai ringan hingga berat.

Menurut catatan terbaru tersebut, seluruh korban jiwa mencapai 4.340 orang. (3)

Aktivitas warga di Pelabuhan Pantoloan Wani, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Rabu 24 Oktober 2018 pasca bencana gempa dan tsunami. Warga mengumpulkan besi dan barang barang bekas yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Aktivitas warga di Pelabuhan Pantoloan Wani, Palu Utara, Sulawesi Tengah, Rabu 24 Oktober 2018 pasca bencana gempa dan tsunami. Warga mengumpulkan besi dan barang barang bekas yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. (Tribun Lampung/Perdiansyah)

Selain itu, berikut ini adalah detail kerusakan yang dicatat oleh BNPB.

  • Berbagai bangunan, mulai rumah, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan bangunan lainnya ambruk sebagian atau seluruhnya. Diperkirakan puluhan hingga ratusan orang belum dievakuasi dari reruntuhan bangunan.
  • Pusat perbelanjaan atau mal terbesar di Kota Palu, Mal Tatura, ambruk.
  • Hotel Roa-Roa berlantai delapan yang berada di Jalan Pattimura, Kota Palu, rata dengan tanah. Dilaporkan, di hotel yang memiliki 80 kamar itu terdapat 76 kamar yang sedang terisi oleh tamu hotel yang menginap.
  • Arena Festival Pesona Palu Nomoni, puluhan hingga seratusan orang pengisi acara, sebagian merupakan para penari, belum diketahui nasibnya.
  • Rumah Sakit Anutapura yang berlantai empat, di Jalan Kangkung, Kamonji, Kota Palu, roboh.
  • Jembatan Ponulele yang menghubungkan antara Donggala Barat dan Donggala Timur,roboh. Jembatan berwarna kuning yang menjadi ikon wisata Kota Palu roboh setelah diterjang gelombang tsunami.
  • Jalur Trans Palu-Poso-Makassar tertutup longsor.
  • Tujuh gardu induk PLN padam usai gempa mengguncang Sulawesi Tengah, khususnya di Palu dan Donggala. Saat ini, baru dua gardu induk yang bisa dihidupkan kembali.
  • Jaringan komunikasi di Donggala dan Palu terputus karena padamnya pasokan listrik PLN. Terdapat 276 base station yang tidak dapat dapat digunakan.
  • Terjadi kerusakan di bangunan tower Bandara Mamuju, dan pergeseran tiang tower di Bandara Liwuk Bangai, namun masih berfungsi.
  • Sejumlah pelabuhan mengalami kerusakan. Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu, rusak paling parah. Quay crane atau kran peti kemas yang biasanya digunakan untuk bongkar muat peti kemas roboh. Di Pelabuhan Wani, bangunan dan dermaga mengalami kerusakan. KM Sabuk Nusantara 39 terhempas tsunami ke daratan sejauh 70 meter dari dermaga. (4)
Suasana di kawasan Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, setelah terjangan gempa dan tsunami, Sabtu (29/9/2018). Gempa bumi 7.7 SR yang disertai gelombang tsunami meluluh lantakan pesisir pantai di Palu dan info sementara korban jiwa mencapai kurabg kebih 400.
Suasana di kawasan Pantai Talise, Palu, Sulawesi Tengah, setelah terjangan gempa dan tsunami, Sabtu (29/9/2018). Gempa bumi 7.7 SR yang disertai gelombang tsunami meluluh lantakan pesisir pantai di Palu dan info sementara korban jiwa mencapai kurabg kebih 400. (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN )

  • Likuifaksi


Ketika gempa mengguncang wilayah Palu dan sekitarnya, beberapa daerah mengalami fenomena likuifaksi.

Likuifaksi adalah bergerak dan amblasnya permukaan tanah.

Proses tersebut terkait dengan gempa yang terjadi.

Di bawah permukaan terdapat air tanah.

Ketika terjadi getaran, barang padat di atas bisa larut akibat getaran tersebut.

Proses ini bisa mengakibatkan berbagai rumah roboh.

Diperkirakan juga terdapat korban yang terjebak di daerah yang terdampak likuifaksi.

Di antara daerah yang terdampak likuifaksi adalah Kelurahan Petobo. (5)

Seorang warga Palu menunjukkan sebuah rumah beton yang digulung lumpur yang keluar dari perut bumi dan berpindah ratusan meter di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pasca-gempa bermagnitudo 7,4.
Seorang warga Palu menunjukkan sebuah rumah beton yang digulung lumpur yang keluar dari perut bumi dan berpindah ratusan meter di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, pasca-gempa bermagnitudo 7,4. (KOMPAS.com/ROSYID A AZHAR)

  • Penanganan


Terkait gempa dan tsunami yang terjadi, Presiden Joko Widodo menekankan empat hal yang harus diprioritaskan, khususnya di Kota Palu dan Kabupaten Donggala.

Pertama, berkaitan dengan evakuasi dan pencarian korban.

Presiden Jokowi memerintahkan pihak terkait untuk menambah personel agar bisa lebih luas menjangkau wilayah yang terdampak.

Kedua, Presiden Jokowi meminta kementerian yang memiliki tenda besar agar segera dikirmkan ke Palu.

Hal itu berkaitan dengan sarana perolongan korban gempa dan tsunami.

Ketiga, Presiden Jokowi meminta gaar semua titik pengungsian memiliki bahan makanan serta kebutuhan untuk wanita, bayi, dan anak.

Satu hal yang juga ditekankan adalah keberadaan MCK.

Kala itu listrik padam, sehingga terjadi kesulitan mencari air di lapangan.

Yang terakhir adalah soal infrastruktur.

Bandar udara dan jalan yang terdampak menjadi prioritas karena merupakan akses untuk menyalurkan bala bantuan. (6)

Kondisi pengungsian di depan Meseum Negeri Sulawesi Tengah. Sebagian wanita di lokasi ini mengalami luka-luka.
Kondisi pengungsian di depan Meseum Negeri Sulawesi Tengah. Sebagian wanita di lokasi ini mengalami luka-luka. (KOMPAS.com/ROSYID A AZHAR)

  • Relokasi


Relokasi korban gempa palu memanfaatkan tanah terlantar.

Hal itu disampaikan oleh Menteri ATR/Kepala BPN Sofyan Djalil.

Sesuai Pasal 2 Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2010, tanah terlantar adalah tanah yang sudah diberikan hak oleh negara berupa Hak Milik, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pakai dan Hak Pengelolaan, atau dasar penguasaan atas tanah yang tidak diusahakan, tidak dipergunakan, atau tidak dimanfaatkan sesuai dengan keadaannya atau sifat dan tujuan pemberian hak atau dasar penguasaannya sehingga tanah tersebut statusnya menjadi tanah negara kembali.

Tanah terlantar yang dimanfaatkan merupakan bekas Hak Guna Bangunan (HGB) PT Lembah Palu Nagoya dengan luas tanah seluas 900.000 m².

Tanah tersebut ditetapkan menjadi tanah terlantar melalui Usulan Penetapan Tanah Terlantar sesuai dengan Surat No. 1107/72/VIII/2012 pada tanggal 15 Agustus 2012 yang terletak di Desa Tondo.

Untuk lokasi tanah di Desa Pombewe, merupakan HGU atas nama PT Hasfarm Holtikultura Sulawesi seluas 3.620.000 m².

Tanah tersebut ditetapkan melalui usulan Penetapan Tanah Terlantar sesuai surat No.1223/72/IX/2012.

“Sofyan menjelaskan, tanah terlantar akan lebih bermanfaat untuk membangun hunian tetap serta fasilitas umum yang berguna bagi masyarakat korban gempa. (7)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)



Nama Gempa dan Tsunami Palu dan Donggala
Kategori Bencana Alam
Waktu 28 September 2018
Daerah Terdampak Langsung Kota Palu
Kabupaten Donggala
Sigi
Parigi Moutong








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved