G30S 1965 - Kronologi 1 Oktober 1965: Pukul 03.00 - 06.00 WIB

Serangkaian peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 adalah suatu kronik sejarah yang perlu dituliskan dalam kajian pengetahuan. Berikut adalah Kronologi 1 Oktober 1965: Pukul 03.00 - 06.00 WIB


zoom-inlihat foto
kronologi-1-oktober-1965-pukul-0300-0600-wib.jpg
Tribunnewswiki.com/Dinar Fitra Maghiszha
Kronologi 1 Oktober 1965, pukul 03.00 - 06.00 WIB

Serangkaian peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 adalah suatu kronik sejarah yang perlu dituliskan dalam kajian pengetahuan. Berikut adalah Kronologi 1 Oktober 1965: Pukul 03.00 - 06.00 WIB




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tragedi kemanusiaan peristiwa Gerakan 30 September 1965 / G30S 1965 menyisakan luka yang mendalam bagi mereka yang terlibat baik sebagai pelaku maupun korban.

Gerakan 30 September 1965 adalah peristiwa penculikan 6 Jenderal dan 1 Perwira yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menyebut diri mereka "Gerakan 30 September" pada dini hari 1 Oktober 1965.

Kronologi peristiwa G30S tersebut melibatkan banyak tokoh, baik sebagai pelaku maupun korban, seperti beberapa di antaranya: anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), internal anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), Pemerintahan Indonesia, dan sebagainya.

Peristiwa Gerakan 30 September merupakan serangkaian kejadian yang komprehensif, di mana kejadian baru dilakukan pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari.

Serangkaian peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965 adalah suatu kronik sejarah yang perlu dituliskan dalam kajian pengetahuan.

Kronologi peristiwa yang terjadi tanggal 1 Oktober 1965 oleh beberapa sumber (baik arsip dan pustaka) telah dihimpun menjadi suatu narasi yang menyumbangkan sebagian fakta sejarah Gerakan 30 September 1965.

Serangkaian kejadian yang terjadi pada 1 Oktober 1965, Tribunnewswiki.com himpun dari berbagai sumber arsip dan pustaka yang diterbitkan dalam Kronik '65 karya Kuncoro Hadi, dkk.

Untuk mengolah data atas banyaknya kejadian, Tribunnewswiki.com membagi kronologi 1 Oktober 1965 ke dalam detail waktu per tiga jam.

Penulisan ini adalah bagian dari kajian data yang dimaksudkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Tidak ada niatan untuk membuka aib atau menyudutkan orang-orang atau organisasi yang terlibat.

Sampai tulisan ini diterbitkan, Tribunnewswiki.com masih terus melakukan validasi data.

Tribunnewswiki.com tidak mengubah kata dan atau melakukan interpretasi untuk menjaga otentisitas sumber.

Berikut adalah kronologi 1 Oktober 1965 pukul 03.00 - 06.00 WIB

  • 03.00 #


Persiapan dan briefing selesai, anggota Pasopati diangkut menggunakan Jeep, truk, dan bus.

Senjata yang digunakan antara lain stengun, garrand, dan AK

Ketujuh regu penculik ini berangkat kea rah Menteng, salah satu daerah perumahan elit di Jakarta, tempat kediaman banyak pejabat pemerintahan.

Sasaran mereka adalah Jenderal A.H Nasution, Menteri Pertahanan; Letnan Jenderal Ahmad Yani, Panglima Angkatan Darat dan lima staf umum Angkatan Darat; Mayor Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Brigadir Jenderal Soetojo Siswomihardjo dan Brigadir Jenderal Donald Ishak Pandjaitan.

(03.30 - 04.00 WIB)

Regu penculik berjumlah 18 orang dari Resimen Cakrabirawa yang dipimpin Sersan Kepala Boengkoes berada di kediaman Mayjen M.T. Haryono, Deputi Men/Pangad, di Jalan Prambanan.

Mayjen Harjono yang terbangun karena kedatangan pasukan penculik menyadari bahwa hal yang buruk akan terjadi.

Dia memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk segera pergi ke halaman belakang.

Sersan Boengkoes, Dan Ton I Batalyon I Resimen Tjakrabirawa mengetuk pintu rumah Jenderal Harjono.

Dari dalam kamar terdengar jawaban, “kalua mau ketemu besok pagi saja di kantor jam 08.00..”.

Seketika itu juga Sersan Boengkoes langsung mendobrak pintu namun ruangan gelap karena semua lampu dimatikan.

Boengkoes langsung menembakkan senjatanya saat dia melihat sekelebat bayangan bergerak.

Ternyata bayangan itu adalah Jenderal Haryono.

Tembakan itu menewaskannya seketika.

Regu pimpinan Sersan Boengkoes berhasil membawa Mayjen M.T. Harjono yang telah meninggal.

Mayatnya dilempar ke dalam truk untuk segera diserahkan ke Lubang Buaya.

(03.45 - 04.30 WIB)

Pasukan yang akan menangkap Letjen Ahmad Yani telah berada di rumahnya di Jalan Lembang.

Pemimpin regu Aisten Letnan Satu Mukidjan yang membawahi sekira satu setengah kompi pasukan yang dibawa dengan dua truk dan dua bus.

Mukidjan kemudian membagi regunya menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama menjaga bagian belakang, kelompok kedua menjaga bagian depan rumah, dan kelompok ketiga yang dipimpin langsung oleh Mukidjan dan Sersan II Raswad masuk ke halaman utama dan masuk rumah.

Mereka langsung berbincang-bincang dengan paa pengawal Yani dan mengatakan bahwa ada pesan penting dari presiden.

Saat para pengawal lengah, mereka kemudian disekap dan senjatanya dilucuti.

Saat Letjen Ahmad Yani muncul, Ruswad segera memberitahu bahwa Presiden Sukarno sangat membutuhkan Letjen Ahmad Yani sekarang juga.

Yani kemudian minta izin untuk mandi dan berganti pakaian, namun permintaannya ditolak.

Ketika Yani meminca izin untuk berganti pakaian, hal ini juga ditolak.

Letjan Yani geram dan memukul salah seorang di antara mereka.

Yani kembali ke kamar dan langsung menutup pintu kaca.

Saat itulah, Raswad memerintahkan Sersan Dua Gijadi untuk menembak.

Tujuh peluru menembus kaca dan akhirnya membunuh Yani.

Jenasah Letjen Ahmad Yani kemudian diseret dengan pososo badan dan kepalanya berada di lantai.

  • 04.00 #


Yon 454/Para Diponegoro dan Yon 530/Para Brawijaya mengepung istana dan obyek vital lainnya.

Yon 454 berada di bagian utara Museum Nasional sementara Yon 530 mengambil tempat ke arah selatan, hingga dekat air mancur, membelok ke kiri, hingga gedung Pusat Telekomunikasi depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) dan Stasiun Kereta Api Gambir.

(04.00 - 04.08 WIB)

Regu penculik berada di rumah Jenderal A.H. Nasution di jalan Teuku Umar, Menteng Jakarta Pusat, dengan kekuatan yang cukup besar, sekira serratus pasukan yang dibawanya dengan tiga truk, sebuah power wagon m dan sebuah gaz.

Karena lokasinya yang berdekatanm pasukan penculik terlebih dahulu membereskan penjaga rumah Waperdan II Dr. Johannes Leimena yang bertetangga dengan Nasution.

Penjaga rumah Leimena, seorang anggota Brimob AI II bernama Karel Sasuit Tubun tewas.

Tujuannya “membereskan” penjaga di rumah Leimena agar tidak mengganggu proses penculikan di rumah Jenderal Nasution karena lokasinya berdekatan.

Setelah memasuki rumah Jenderal Nasution, regu penculik yang dipimpin oleh Kopral Dua Hargiono langsung menuju kamar Nasution.

Istri Nasution yang terbangun langsung keluar kamar, tetapi dia langsung kembali kemar dan mengunci pintu sambil berbisik pada suaminya, bahwa ada pasukan Tjakrabirawa dan melarang suaminya keluar.

Tetapi Jenderal Nasution hendak keluar untuk memastikan karena dia tidak yakin Tjakrabirawa datang dengan mendobrak pintu. Saat membuka pintu kamar, dalam jarak satu setengah meter, salah seorang pasukan Tjakrabirawa melepaskan tembakan. Jenderal Nasution langsung menutup pintu dan tiarap.

Mardiah, adik Nasution yang tidur di kamar sebelah berusaha menyelamatkan Ade Irma Nasution, puteri Nasution, dan menggendongnya ke kamar lain, tetapi Ade Irma yang berada dalam gendongan Mardiah justru terkena tembakan.

Yanti, anak Nasution yang lain, juga terbangun dan keluar lompat jendela menghampiri ajudan Jenderal Nasution, Lettu CZI Pierre Tendean.

Meski terkepung, Jenderal Nasution bisa melarikan diri dengan melompat pagar-hjingga kakinya patah-ke pekarangan rumah duta besar Irak.

Sementara Lettu Tendean yang keluar kamar dengan membawa senjata jenis Garrand, segera disergap oleh pasukan penculik yang salah mengira dirinya sebagai Jenderal Nasution.

Tendean kemudian ikut diangkut ke Lubang Buaya.

(04.00 WIB)

Sembilan belas orang pasukan penculik dibawah pimpinan Sersan Dua Sulaiman dan Sukiman sampai di rumah Mayjen R. Soeprapto.

Karena di rumah Mayjen Soeprapto tidak ada penjagaan, maka regu penculik ini hanya terdiri sedikit personel dengan sebuah truk Toyota.

Kesembilan belas orang ini kemudian dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok kecil yang berjaga di sekeliling rumah.

Salah satu kelompok kecil yang dipimpin Sulaiman berusaha masuk ke dalam rumah.

Mayjen Soeprapto yang kebetulan malam itu tidak bisa tidur akibt karena giginya baru saja dicabut keluar rumah dengan hanya mengenakan sarung, sandal, dan kaos oblong.

Kopral dua Suparman menyambut Soeprapto dan mengatakan bahwa presiden ingin segera bertemu,

Soeprapto tidak diizinkan unutk berganti pakaian dan langsung saja dibawa ke dalam truk Toyota.

Sebelum pergi, para penculik juga sempat merusak telepon di rumah Mayjen Soeprapto.

(04.00 WIB)

Di Jalan Serang, rumah Mayjen Suwondo Parman didatangi oleh 20 orang tentara penculik.

Parman dan istrinya yang belum tidur langsung keluar menuju halaman.

Mereka menyangka ada sebuah perampokan tengah terjadi di rumah tetangganya.

Ketika Mayjen Parman melihat ada sekelompok pasukan Tjakrabirawa, dia langsung menanyakan apa yang sedang terjadi.

Pasukan penculik menjawab bahwa mereka diperintahkan oleh Presiden untuk menjemput Mayjen Parman.

Dia pun segera masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian, dengan diikuti oleh kelompok utama yang bertugas menculiknya.

Karena mengira dia ditahan atas perintah Sukarno, sembari berganti pakaian, Parman berbisik kepada istrinya untuk segera menghubungi Letjen A. Yani. Pasukan Cakrabirawa segera merampas telepon di rumah itu dan akhirnya membawa pergi Mayjen S. Parman.

(04.00-04.15 WIB)

Dua truk yang membawa pasukan penculik (sekira 50 orang dari Resimen Cakrabirawa dan Yon 454 yang dipimpin Sersan Sukarjo dan Kopral Dikin sebagai penunjuk jalan) tiba di Jalan Hasanuddin, Blok M, Kebayoran Baru, untuk mendatangi rumah Jenderal D.I. Pandjaitan.

Rumah Pandjaitan berlantai dua dengan semua kamar tidur berada di atas.

Selain itu juga ada sebuah pavilion kecil di dekat rumah itu yang dihuni kerabat Pandjaitan.

Setelah membuka paksa pagar rumah, seorang pembantu dipaksa menunjukkan kamar tidur Pandjaitan.

Dua orang kerabat Pandjaitan, Albert Naiborhu dan Victor Naiborhu, yang mengira telah terjadi perampokan langsung mempersiapkan senjata api untuk melawan regu penculik, namun keduanya tertembak terlebih dahulu,

D.I. Pandjaitan kemudian diminta untuk turun dari lantai dua tetapi dia menolak.

Pandjaitan berusaha menelepon polisi dan Kolonel Samosir tetapi sambungan telepon telah terlebih dahulu diputus. Pandjaitan (dengan berpakaian militer lengkap) baru turun setelah diancam bahwa semua keluarganya akan dibunuh.

Di halaman rumah, saat D. I. Pandjaitan berdoa, dia akhirnya dipukul dan ditembak oleh pasukan penculik.

Jenazahnya dilemparkan ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya, tempat dimana semua jenderal dikumpulkan.

(04.00 WIB)

Satu regu yang bertugas menculik Brigjen Soetojo Siswomihardjo sampai di tempat kediamannya di Jalan Sumenep. Sersan Mayor Surono ditugaskan untuk memimpin regu ini.

Para penjaga sipil di jalan itu dilumpuhkan satu persatu.

Regu yang dipimpin oleh Sersan Mayor Surono ini dibagi menjadi beberapa kelompok.

Kelompok yang utama adalah kelompok yang bertugas memasuki rumah.

Regu ini berhasil membujuk Brigjen Soetojo untuk membuka pintu kamarnya dengan alasan menyampaikan surat dari Presiden Sukarno.

Brigjen Soetojo diringkus di kamarnya.

Tangannya diikat, matanya ditutup dan langsung dibawa ke dalam truk untuk kemudian dibawa ke Lubang Buaya.

(04.09 – 04.10 WIB)

Ajudan Jenderal A.H. Nasution, Komisaris Hamdan dengan alat komunikasi khusus KOTI, menghubungi Panglima Kodam Djaja Jenderal umar Wirahadikusumah.

Hamdan melaporkan penyerang yang terjadi di kediaman A.H. Nasution.

(04.20 WIB)

Johana Nasution, isteri Jenderal A.H. Nasution mendatangi Markas Besar KKO dan melaporkan kejadian yang terjadi di rumahnya.

Letnan KKO Mustaram, perwira Jaga Mabes KKO dan beberapa prajurit KKO langsung bergegas menuju rumah Nasution.

(04.30 WIB)

Agen Polisi II Sukitman yang sedang melakukan patrol di sepanjang jalan Iskandariyah, Kebayoran Baru dan mengetahui terjadinya “keonaran” tiba-tiba disergap oleh pasukan penculik Brigjen D.I Pandjaitan.

Senapan beserta sepedanya dirampas oleh pasukan penculik.

Dia langsung diikat, matanya ditutup kain, dan dimasukkan ke dalam truk untuk kemudian dibawa pergi ke Lubang Buaya.

(04.30 - 05.00 WIB)

Jenderal Umar Wirahadikusumah berada di rumah Jenderal A.H. Nasution dan segera memerintahkan pauskan dengan tiga kendarana lapis baja untuk melakukan pengejaran terhadap regu penculik yang melarikan diri ke arah Bekasi.

Sayangnya rombongan penculik itu menghilang di jalan utama Salemba.

Pengejaran dianggap gagal.

Umar kemudian melanjutkan perjalanan ke Istana Negara.

Dia melihat banyak sekali orang-orang (pasukan) yang sama sekali asing baginya.

Dia kemudian meninggalkan Istana Negara dan pulang ke rumah.

(04.30 - 05.00)

Jenderal Soeharto terbangun dari tidurnya karena kedatangan seorang kameramen Televisi Republik Indonesia (TVRI), Hamid Syamsuddin, yang mengabarkan telah terjadi penembakan di wilayah kota.

Mendengar kabar ini, Jenderal Soeharto belum langsung melakukan sesuatu.

Tetangganya yang juga merupakan Ketua RT setempat, Mashuri, juga datang dan memaparkan kejadian yang sama.

(04.30 WIB)

Rumah Mayot Soebardi, ajudan Jenderal Ahmad Yani yang juga terletak di Menteng, didatangi oleh Mbok Milah, pembantu di rumah Jenderal A. Yani.

Mbok Milah melaporkan kabar penembakan dan penculikan Jenderal Yani. Mayor Soebardi langsung menuju ke rumah Jenderal Yani.

  • 05.00 #


Mayor Soebardi tiba di rumah Letjen Ahmad Yani. Dia bertanya kepada anak-anak Yani apa yang telah terjadi.

Kepada Soebardi, anak-anak Yani menjelaskan bahwa Jenderal A. Yani dibawa oleh segerombolan tentara berseragam hijau, berbaret merah, bersepatu lars, serta ada banyak kain kecil berwarna merah, putih, dan kuning di pundak mereka.

Istri Jenderal A. Yani datang beberapa saat kemudian dengan menggunakan sebuah jip, langsung pingsan ketika mendengar bahwa suaminya sudah tidak ada.

Mayor Soebardi bersama Mayor Sudarto yang juga ajudan Jenderal Ahmad Yani segera menuju ke rumah Asisten Intelijen Panglima Mayor Jenderal Soewondo Parman (S. Parman).

Maksud kedatangan mereka adalah untuk melaporkan kejadian yang menimpa Jenderal Yani dan meminta petunjuk tindakan selanjutnya.

Namun mereka justru mendapatkan kabar bahwa Jenderal Parman juga diculik.

Keduanya segera menuju ke rumah panglima Kodam V/Jaya Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah.

Pertemuan mereka menghasilkan kesepakatan bahwa Jenderal Umar akan memblokir jalan penting menuju dan keluar Jakarta.

Jenderal Umar juga menyarankan Mayor Soebardi dan Mayor Sudarto sesegera mungkin bertemu Kolonel Sarwo Edhie Wibowo di Cijantung.

(05.00 WIB)

Letkol Udara Heru Atmodjo-Asisten Direktur Intelijen Departeman Angkatan Udar yang juga ditunjuk secara mendadak menjadi Wakil Komandan G30S-menemui Jenderal Supardjo di Gedung Penas.

Heru diajak Supardjo, yang baru dikenalnya pagi itu, untuk pergi menuju istana menghadap presiden.

(05.00 WIB)

Presiden Sukarno bangun tidur.

Dia bersiap untuk meninggalkan rumah Ratnasari Dewi menuju Istana Negara.

Sukarno belum mengetahui terjadinya penculikan-penculikan terhadap beberapa jenderal Angkatan Darat.

(05.10 - 05.30 WIB)

Kolonel Maulwi Saelan, pejabat tinggi di Tjakrabirawa, menerima telepon dari Komisaris Besar Polisi Soemirat (salah seorang ajudan presiden) yang mengatakan bahwa dia baru saja menerima berita dari Komisaris Besar Polisi Anwas Tanumihardja dari intelijan Komando Daerah Angkatan Kepolisian (Komdak) Jakarta Raya bahwa telah terjadi penembakan terhadap rumah Waperdam II J. Leimena dan juga rumah Jenderal A.H. Nasution.

Saelan berkata bahwa dia akan segera mengecek berita ini.

Sumirat kembali menelepon dan mengabarkan bahwa di sekitar istana terlihat ada banyak tentara yang tidak diketahui kesatuannya.

Saelan pun berkata bahwa ia akan segera berangkat ke istana.

Ketika dia sedang bersiap-siap, datanglah Kapten Suwarno, Komandan Kompi I Batalion I Cakrabirawa.

Suwarno langsung bertanya: "Presiden di mana ?"

Saelan tidak menjawab pertanyaan ini.

Dia berpikir bila Presiden Sukarno tidak ada di istana, biasanya di tidur di rumah istrinya Haryati di Grogol atau Ratnasari Dewi di Slipi.

Bersama Suwarno, Saelan kemudian berangkat ke rumah Haryati di Grogol.

(05.15 - 05.30)

Tujuh regu penculik kembali ke Lubang Buaya.

Mereka tiba dengan aman dan masing-masing regu memberi laporan kepada Abdoel Arif, pemimpin pasukan Pasopati (regu penculik).

Doel Arif segera menuju ke gedung Penas AURI.

Di gedung Penas sudah menunggu di antaranya, Letkol Untung, Sjam, dan Pono.

Kepada mereka, Doel Arif melaporkan bahwa aksi penculikan para jenderal berjalan sukses dan mereka semua, baik yang hidup maupun sudah tewas, berada di Lubang Buaya

(05.30 WIB)

Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dibangunkan istrinya karena kedatangan dua perwira militer, Mayor Soebardi dan Mayor Sudatto.

Keduanya adalah ajudan Letnan Jenderal Ahmad Yani.

Mereka mengabarkan bahwa Jenderal Yani telah ditembak dan diculik oleh pasukan Tjakrabirawa dan tidak diketahui dimana keberadaannya.

Soebardi meminta Sarwo Edhi untuk berangkat ke rumah Ahmad Yani.

Awalnya, Sarwo Edhie berniat memenuhi permintaan ini, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk mengumpulkan seluruh perwira di Cijantung.

Sarwo Edhi langsung menghubungi Mayor Chalimi Iman Santosa, Komandan Batalyon I/RPKAD.

Sarwo memerintahkan kepada Santosa untuk segera menarik RPKAD yang sedang berlatih di Senayan untuk peringatan Hari ABRI dan segera kembali ke Cijantung.

(05.30 - 06.00 WIB)

Jenderal Soeharto yang telah mendapat info bahwa perwira tinggi Angkatan Darat (AD) telah diculik, termasuk kabar Laksamana Omar Dhani yang juga ikut diculik, kemudian bergegas berpakaian dinas.

Pada saat yang bersamaan datang utusan dari Pangdam Jaya Mayjen Umar Wirahadikusumah, Letkol Sadjiman untuk melaporkan adanya pasukan tak dkenal yang sedang bergerak menuju pusat kota dekat Monas dan Istana Merdeka.

Mayjen Soeharto berkata, "Segera kembali sajalah, dan laporkan kepada pak Umar, saya akan cepat datang di Kostrad dan untuk sementara mengambil pimpinan Komando Angkatan Darat",.

Mayjen Soeharto segera bergerak menuju markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

  • 06.00 WIB #


Di Lubang Buaya, para perwira (terutama yang masih hidup), yang telah diserahkan pasukan Pasopati pimpinan Lettu Abdoel Arief kepada salah satu pemimpin Pringgondani Mayor Udara Gatot Sukresno, mengalami penganiyaan.

Mayjen Siswondo Parman, Mayjen R. Soeprapto, Brigjen Soetojo Siswomihardjo serta Lettu Pieree Tendean akhirnya ditembak mati di Lubang Buaya.

--

Benedict Anderson dan Ruth McVey, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, a.b. Galuh HE Akoso dan Yeri Ekomunajat, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Analisis Awal, Yogyakarta: LKPSM, 2001, hlm. 59

"Daftar Kegiatan-kegiatan/Kekedjaman/Pengatjau2an G30S", Inventaris Arsip KOTI No. 63, Arsip Nasional Republik Indonesia.

Julius Pour, G30S Fakta atau Rekayasa, Jakarta: Kata Hasta Pustaka, 2013, hlm.11

Julius Pour, Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan, dan Petualang, Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2011.

Peter Kasenda, Sarwo Edhie dan Tragedi 1965, Jakarta: Kompas, 2015.

(Sumber dan arsip diterbitkan dalam Kuncoro Hadi, dkk, Kronik'65 (Yogyakarta: Media Pressindo, 2017), hlm. 239 - 248)

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan usulan perubahan untuk menambah informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Informasi Detail
Nama Kronologi 1 Oktober 1965
Keterkaitan Peristiwa Gerakan 30 September 1965
Ihwal Detail Kejadian pukul 03.00 - 06.00 WIB
   




KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved