Ini Waktu yang Tepat Kenalkan Anak pada Gadget, Jangan Telalu Dini, Hal Terparah Mengarah ke Autis

Pria yang dikenal dengan Kak Seto ini menjelaskan jika selain memiliki manfaat, gadget juga memberikan dampak yang buruk.


zoom-inlihat foto
gadged-anak.jpg
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Orang Tua mendampingi anaknya bermain Gadget di Kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat (21/9/2018). Perlunya pengawasan orang tua saat bermain gadget agar si anak tidak membuka situs yang tidak semestinya.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gadget bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat namun juga bisa menjadi sesuatu yang membawa dampak buruk.

Bahkan orang dewasa yang sudah siap secara psikologis saja bisa mendapatkan dampak buruk, apalagi anak kecil yang belum matang secara psikologinya.

Seto Mulyadi Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) memberikan penjelasan kapan waktu yang tepat untuk memperkenalkan gadget pada anak.

Dikutip dari Kompas.com, Seto menyampaikan penjelasannya seusai Gerakan Nasional #JamMainAnak di Bandung, Selasa (25/9/2019).

Baca: 5 Zodiak Paling Egois, Mereka akan Lakukan Apapun untuk Dapatkan Keinginannya, Kamu Termasuk?

Baca: Tes Kepribadian - Ungkap Karaktermu dari Pilihan Bunga yang Akan Mekar Terlebih Dahulu

Pria yang dikenal dengan Kak Seto ini menjelaskan jika selain memiliki manfaat, gadget juga memberikan dampak yang buruk.

Kak Seto menjelaskan waktu yang tepat untuk memperkenalkan gadget saat anak-anak memasuki kelas V atau VI Sekolah Dasar.

“Secara psikologi, anak kelas 5-6 SD, sudah matang dan bisa menguasai diri. Psikososialnya juga sudah terbentuk.”

Seto bersama timnya melakukan penelitian, bahwa penggunaan gadget memberikan dampak negatif seperti anak menjadi cepat frustasi dan emosi yang meningkat.

“Misal anak 2,5 tahun main gawai. Begitu baterai habis, dia nangis dan marah-marah,” ungkap Seto.

Anak yang teelalu dini mengenal gadget akan menginginkan segala sesuatu serba cepat, mereka ingin mengambil jalan pintas dan memperoleh apa yang diinginkan dengan mudah.

Ilustrasi Anak Main Gadget djaf
Ilustrasi Anak Main Gadget (Istimewa/Tribun Pontianak)

Seto menyebutkan dengan “terbiasa tidak melalui proses dan tidak melalui perjuangan”.

Sehingga kondisi ini akan menyebabkan anak-anak menjadi individualis.

“Bahkan bisa mengarah ke autis, karena ga bisa komunikasi dan bersosialisasi,” kata dia.

Terapi yang dapat dilakukan dengan bermain bersama.

Anak-anak diberi penghargaan dengan manusia bukan robot.

Yang perlu diingat yakni bahwa anak merupakan peniru yang ulung.

Jika tidak ingin anak-anak menggunakan gadget, maka jangan pergunakan gadget di depan mereka.

“Kadang kan orangtua berkata, bentar ya mama atau papa mau balas ini dulu sambil pegang gawai,” ungkap Seto.

Baca: Daftar Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta dengan Akreditasi A, Adakah Kampusmu?

Baca: Tes Kepribadian - Mengungkap Karakter dari Pilihan Rumah di Tengah Salju yang jadi Impianmu!

Seto menambahkan jika ada waktu 3B yakni bermain, beribadah, dan berbicara antara orangtua dan anak.

Sehingga gunakan waktu tersebut tanpa gadget.

“Anak-anak tidak perlu dibentak atau dijewer, cukup arahkan dengan dialog tadi,” kata dia.

Ia berharap untuk tidak memberikan gadget pada anak-anak, karena taman kanak-kanak itu tempat bermain.

Jika sudah terlanjur pada anak kelas I-II SD diperkenalkan dengan gadget, maka perlu dilakukan pembatasan.

(TribunnewsWiki/Sekar)





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved